July 31, 2026

Jalajahi Takdir, dan Raih Peluangmu

Oleh  Harmen Batubara

Dalam setiap helai benang kehidupan yang terjalin, manusia kerap dihadapkan pada dua pandangan besar tentang siapa dirinya dan ke mana ia melangkah.

 Narasi pertama menyampaikan bahwa kita adalah pemeran dalam naskah yang telah tertulis—sebuah cetak biru takdir yang tinggal kita jalani. Segala suka dan duka, persimpangan jalan maupun jalan lurus, seolah sudah terpatri dalam garis waktu yang tak mudah diubah. Tugas kita, menurut pandangan ini, adalah meresapi setiap hikmah, menerima dengan lapang dada, dan menemukan makna terdalam di balik setiap peristiwa. Ini adalah cara pandang yang menenangkan; memberi kedamaian dalam penerimaan, sekaligus mengajak kita senantiasa bersyukur atas apa yang telah kita terima.

Takdir Itu Memang Terasa 

Perjalanan hidupku sendiri pernah kurasakan sejalan dengan pandangan ini. Aku lahir di sebuah kampung terpencil, berjarak 500 kilometer dari ibu kota provinsi. Kesempatan pendidikan sangat terbatas; belum pernah ada anak kampung yang berhasil melanjutkan kuliah, apalagi dengan kemampuan sendiri. Aku pun akhirnya merantau ke Yogyakarta, dengan harapan tipis: siapa tahu bisa kuliah. Namun tak disangka, aku justru diterima di Universitas Gadjah Mada—kampus ternama—dan mampu membiayai studiku sendiri. Bagi warga kampungku, dan juga bagiku saat itu, hal itu bukan sekadar pencapaian, melainkan takdir yang terjalin. Segala keterampilan yang kusiapkan sebelumnya tak terpakai untuk membiayai hidupku; aku justru menjadi penulis yang mengandalkan honor tulisan—sesuatu yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Kini kehidupanku berjalan selaras dengan perkuliahanku, namun tak kulihat benang merah yang jelas antara masa kecilku di desa tanpa listrik dengan kehidupanku kini sebagai mahasiswa yang mandiri.


Namun ada narasi kedua yang tak kalah bermakna: bahwa manusia bukan sekadar boneka takdir, melainkan arsitek utama bagi kehidupannya sendiri. Kesuksesan atau kegagalan, kebahagiaan atau kesulitan, sangat bergantung pada bagaimana kita menempa diri, membentuk lingkungan, dan mengukir jejak kita. Di sini, takdir bukanlah garis kaku yang ditarik sejak awal, melainkan kanvas luas yang menanti setiap sapuan kuas kita. Setiap pilihan, setiap usaha, dan setiap keteguhan hati adalah goresan yang menentukan wujud akhir kehidupan kita.

 Pilihan Itu Ada Padamu

Menurutku, kebenaran sejati ada pada jalan tengah: bukan memilih salah satu sisi, melainkan merajut keduanya menjadi satu pemahaman yang utuh dan memberdayakan. Takdir bukanlah cetak biru yang kaku, melainkan **potensi awal**. Ibarat benih yang ditanam: takdir memberinya potensi untuk tumbuh menjadi pohon rindang yang berbuah manis, atau semak yang tak berbuah namun bunganya memikat hati. Namun bagaimana benih itu tumbuh—apakah mendapat air yang cukup, sinar matahari, perawatan, dan perlindungan—sepenuhnya ada di tangan penanamnya.

 Maka “peluang” adalah jembatan yang menghubungkan potensi takdir dengan kenyataan yang kita jalani. Peluang bukanlah sesuatu yang datang secara kebetulan semata, melainkan sesuatu yang perlu dikenali, diciptakan, dan diwujudkan. Seseorang yang ditakdirkan berbakat seni, namun tanpa latihan dan keberanian menampilkannya, bakat itu bisa layu tak terpakai. Sebaliknya, mereka yang tak lahir dengan bakat istimewa namun tekun belajar, mencari ilmu, dan membangun relasi, mampu melampaui mereka yang hanya mengandalkan pemberian alamiah.

Pesan ini juga kusampaikan kepadamu yang sedang berjuang meraih harapan. Kau memiliki potensi yang telah disiapkan Tuhan—namun tugasmu adalah mempersiapkan diri agar layak menerimanya. Orang tuamu pasti telah berupaya memberikan yang terbaik, dan kau pun berusaha sekuat tenaga sejalan dengan harapan mereka. Namun jika batas itu hanya sampai "yang terbaik di desa", itu bukanlah batas akhir kemampuanmu. Di mata warga kampungku dulu, cukup jika anak tumbuh sehat, lulus sekolah, lalu berkeluarga dan menjadi warga yang baik—sebab melangkah lebih jauh terasa mustahil.

Namun jika kau berani melangkah ke jalan tengah, kau akan melihat peluang yang tak terpikirkan orang banyak. Persiapkanlah dirimu jauh sebelum kesempatan itu datang. Manfaatkan segala keterampilan yang kau miliki—bisa bertani, berkebun, menyadap karet, memetik kelapa sawit, berdagang, atau apa pun itu. Jika ingin mengubah nasib, pilihanmu mungkin terbatas, namun salah satunya adalah berani melangkah keluar—merantau. Pergilah ke tempat yang kau yakini bisa membantumu mewujudkan cita-cita. Biarkan takdir yang menuntun arahmu, namun biarkan usahamu yang membuka jalannya. Jika takdirmu indah, usahamu akan menjadi jalan yang terbuka lebar. Namun apa pun hasilnya, kau telah melangkah dengan kemampuan yang kau miliki. Kau mungkin menjadi anak kota, namun nilai perjuanganmu tetaplah lebih besar daripada sekadar perbandingan nasib dengan siapa pun.



No comments:

Post a Comment