Showing posts with label Jokowi Prabowo besty. Show all posts
Showing posts with label Jokowi Prabowo besty. Show all posts

June 19, 2026

Waktunya Indonesia Bekerja, Berikan DukunganMu


Oleh   Harmen Batubara

Jujur harus kukatakan, degup pembangunan yang diembuskan oleh pemerintah hari ini terasa begitu dekat di hati. Program-program yang kini tengah dijalankan oleh Presiden Prabowo bukan sekadar deretan kebijakan kenegaraan di mataku; ini adalah wujud nyata dari apa yang selama ini diam-diam aku dambakan untuk Ibu Pertiwi.

Aku telah mengamati rekam jejak seorang Prabowo Subianto sejak lama, jauh di era 70-an. Saat itu, aku hanyalah seorang mahasiswa penulis lepas yang mencari sensasi dari sosoknya. Honor-honor dari tulisan itulah yang menyambung napasku hingga berhasil diwisuda dari Universitas Gadjah Mada, dan kemudian mengantarkanku mengabdi sebagai seorang Perwira TNI AD.

Profesi di bidang pemetaan menugaskanku menyusuri berbagai penjuru, hingga ke mancanegara. Tugas itu memaksaku untuk meresapi setiap jengkal informasi demi pertahanan negara. Aku seolah hafal betul denyut nadi dan kontur alam NKRI, karena memang untuk itulah aku ditugasi—hadir di mana saja, melihat realitas bentang alam dan kehidupan rakyat dari jarak terdekat.


Program Kesejahteraan Rakyat

Lalu, waktu membawaku pada sebuah keterpesonaan. Hal-hal yang dulu hanya menjadi angan bagi kesejahteraan rakyat di pelosok negeri yang pernah kupetakan, kini satu per satu menjelma menjadi Program Unggulan Prabowo. Mulai dari Swasembada Pangan, langkah pasti menuju Swasembada Energi, Sekolah Rakyat, Sekolah Garuda, Makan Bergizi Gratis (MGB), revitalisasi Kampung Nelayan, Perbaikan Rumah Kumuh Perkotaan, penguatan Koperasi Desa (KopDes), hingga Hilirisasi yang menjaga marwah kekayaan alam kita.

Keterpesonaan ini bukan tanpa alasan. Aku tahu betul siapa Prabowo. Ia lahir dari rahim keluarga intelektual, ditempa keras sebagai prajurit komando Kopassus, dan beristrikan putri seorang Presiden. Di atas kertas, dengan segala keistimewaan itu, ia bisa saja sekadar duduk tenang dan menentukan apa saja yang ia mau untuk kenyamanan dunianya sendiri.

Ingatanku mundur ke era 90-an di Timor Leste. Saat Prabowo sudah menjabat sebagai Komandan Batalyon termuda, aku pun ada di sana. Tugasku saat itu adalah memastikan peta-peta lama Timor Leste didaur ulang menjadi informasi taktis yang baru. Kami berada di medan yang sama, melihat realitas yang sama.


Mewujutkan KesejahTeraan Rakyat

Lalu sejarah berputar. Tahun 1998, Prabowo benar-benar didorong masuk ke kawah Candradimuka yang paling kejam. Ia dipaksa berjalan melewati "ladang pembantaian" karakter dan politik. Di atas kertas, karier dan nama Prabowo saat itu dianggap sudah habis tak bersisa.

Namun, alam semesta dan Tuhan selalu punya rencana lain. Jalan pengabdian itu tidak pernah benar-benar tertutup. Kesempatan itu kembali terbuka, dan dengan kebesaran jiwanya, ia berhasil meraihnya untuk berdiri sebagai RI Satu.

Dan inilah titik puncaknya—hal yang paling membuatku tertegun. Semua program yang ia luncurkan hari ini, menurut hematku, sama sekali bukan untuk "dunianya" yang elitis. Ini adalah murni cita-citanya untuk kaum alit, untuk rakyat kebanyakan. Ia menghadirkan program-program populis yang tidak hanya akan membuat Indonesia maju, tetapi tumbuh menjadi negara yang sangat berbeda, mandiri, dan bermartabat.

Oleh karena itu, melihat dedikasi dan perjalanan panjang yang penuh ujian ini, rasanya tidak ada ruang lagi untuk sekadar berpangku tangan atau memelihara keraguan. Ini bukan lagi tentang masa lalu. Ini tentang masa depan tanah air yang setiap lekuknya pernah kupetakan dengan peluh.

Mari kita satukan langkah. Ini waktunya Indonesia bekerja. Berikan dukunganmu, untuk cita-cita besar yang kini sedang dibangun di atas tanah kita sendiri.




January 13, 2026

Ketika Jokowi Mempersiapkan dan Memilih Penerusnya

 


Oleh Harmen Batubara 

Sejarah politik Indonesia akan selalu mencatat periode 2014-2024 sebagai dekade yang penuh dengan kejutan dan transformasi besar. Di pusat pusaran itu, berdiri dua sosok yang pernah menjadi rival sengit: Joko Widodo dan Prabowo Subianto. Dua kali mereka bertarung dalam medan laga Pemilihan Presiden (2014 dan 2019), membelah pemilih dalam polarisasi yang tajam. Namun, apa yang terjadi setelahnya adalah sebuah pelajaran tentang kedewasaan bernegara yang melampaui ego pribadi.

Sebuah Rekonsiliasi yang Mengejutkan Dunia

Setelah merayakan kemenangannya pada periode kedua di tahun 2019, Presiden Jokowi mengambil langkah yang dianggap mustahil oleh banyak pengamat internasional. Alih-alih membiarkan rivalnya tetap di luar pemerintahan, Jokowi justru merangkul Prabowo Subianto masuk ke dalam kabinetnya.


Penunjukan Prabowo sebagai Menteri Pertahanan adalah sebuah keputusan strategis yang sensasional. Bagi dunia luar, ini adalah bukti nyata dari konsep “Gotong Royong” Indonesia. Namun bagi Prabowo secara pribadi, momen ini adalah sebuah pemulihan martabat yang sangat emosional. Ia dilantik di Aula Kementerian Pertahanan—lokasi yang sama di mana pada tahun 1998, ia pernah diberhentikan dari dinas militer. Kembali ke tempat itu sebagai pimpinan tertinggi pertahanan negara adalah bentuk pemulihan marwah yang sempurna dari seorang Jokowi kepada Prabowo.

Restu dan Bintang Empat

Hubungan yang awalnya bersifat politis perlahan bertransformasi menjadi hubungan mentor-murid dan sahabat. Jokowi tidak hanya memberikan posisi menteri, tetapi juga memberikan panggung bagi Prabowo untuk menunjukkan kapasitas kepemimpinannya di kancah global.

Puncaknya, sebagai bentuk penghormatan atas pengabdian dan dedikasinya, Jokowi menyematkan gelar Jenderal TNI (Purn) Kehormatan berbintang empat kepada Prabowo. Ini bukan sekadar seremoni militer, melainkan simbol bahwa Jokowi sepenuhnya percaya dan merestui Prabowo sebagai sosok yang layak memegang tongkat estafet kepemimpinan nasional.

Menuju Indonesia Emas: Keberlanjutan dan Inovasi

Kini, sebagai Presiden RI ke-8, Prabowo Subianto membuktikan bahwa pilihan Jokowi tidaklah salah. Kepemimpinannya menjadi jembatan kokoh yang meneruskan pondasi kuat yang telah dibangun oleh pendahulunya. Ia memegang teguh komitmen untuk melanjutkan proyek strategis nasional, mulai dari hilirisasi industri hingga pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN).

Namun, Prabowo juga membawa ruh baru dengan kebijakan-kebijakan yang menyentuh akar rumput secara langsung:

Makan Bergizi Gratis: Sebuah program ambisius untuk 83 juta siswa guna memastikan tidak ada lagi anak Indonesia yang tertinggal secara fisik dan intelektual (stunting) demi menyongsong Indonesia Emas 2045.

Fakultas Kedokteran Gratis: Membuka pintu seluas-luasnya bagi putra-putri dari keluarga miskin ekstrem untuk menjadi dokter tanpa biaya sepeser pun, demi menutup celah kekurangan tenaga medis di pelosok negeri.

Sekolah Rakyat: Memperkuat akses pendidikan berkualitas yang merata bagi seluruh lapisan masyarakat.

Kita Ingin Mengatakan

Narasi "Ketika Jokowi Mempersiapkan dan Memilih Penerusnya" bukan sekadar cerita tentang transfer kekuasaan, melainkan tentang bagaimana dua pemimpin besar sepakat untuk meletakkan kepentingan bangsa di atas segalanya. Jokowi telah menyiapkan jalan, dan kini Prabowo melangkah di atasnya dengan gagah, membawa visi keberlanjutan yang dipadukan dengan kepedulian sosial yang mendalam.

Inilah era baru Indonesia, di mana persaingan masa lalu telah dilebur menjadi energi pembangunan masa depan.