Showing posts with label rusia vs ukraina. Show all posts
Showing posts with label rusia vs ukraina. Show all posts

January 23, 2026

Damai Rusia Ukraina Di tengah Badai, Siapakah Pemenangnya?

 


Oleh  Harmen Batubara

Salju yang menyelimuti Davos, Swiss, pada 21 Januari 2026, terasa lebih dingin dari biasanya. Di tengah Forum Ekonomi Dunia (WEF), sorot lampu global tertuju pada satu sosok: Presiden AS Donald Trump. Dengan gaya khasnya yang blak-blakan, Trump mengguncang fondasi diplomasi internasional dengan sebuah pernyataan yang ditunggu sekaligus ditakuti: "Saya dapat mengatakan bahwa kita sudah cukup dekat untuk mencapai kesepakatan."

Namun, di balik optimisme tersebut, tersimpan sebuah badai besar yang mengancam kedaulatan Ukraina dan stabilitas NATO.

Diplomasi di Atas Meja yang Retak

Rencana perdamaian yang diusung Trump bukanlah sebuah kompromi yang mudah ditelan. Inti dari proposal tersebut adalah penyerahan wilayah Ukraina kepada Rusia sebagai syarat berakhirnya agresi. Bagi Kyiv, ini adalah pil pahit yang hampir mustahil dikunyah. Bagi NATO, ini adalah preseden berbahaya yang bisa meruntuhkan tatanan keamanan Eropa yang telah dijaga selama dekade terakhir.


Namun, realitas di lapangan memaksa Ukraina untuk berpikir ulang. Hanya sehari sebelum pidato Trump, sebuah angka mengejutkan dirilis oleh Menteri Pertahanan Ukraina, Mykhailo Fedorov:

Sekitar 200.000 tentara Ukraina telah desersi (meninggalkan tugas).

Kelelahan mental dan fisik setelah bertahun-tahun berperang telah mencapai titik nadir.

Kyiv menyatakan telah menyetujui 90% proposal perdamaian AS, namun 10% sisanya—soal wilayah—tetap menjadi jurang yang dalam.


Misteri 91 Drone di Rumah Putin

Di tengah tarik ulur diplomasi ini, sebuah peristiwa "aneh" terjadi di akhir Desember 2025. Sebanyak 91 drone dilaporkan menyerang kediaman pribadi Vladimir Putin. Ukraina membantah keras keterlibatan mereka.

Munculnya tuduhan ini di saat negosiasi mencapai titik krusial menimbulkan pertanyaan besar: Apakah ini upaya sabotase dari pihak yang tidak menginginkan perdamaian, ataukah sebuah false flag untuk memberikan alasan bagi Rusia agar menuntut lebih banyak di meja perundingan?

Siapa yang Sebenarnya Diuntungkan?

Menjawab pertanyaan siapa pemenangnya membutuhkan kacamata yang lebih luas dari sekadar menang-kalah di medan tempur:

Donald Trump & Narasi Domestik:

Bagi Trump, perdamaian ini adalah "piala" politik. Ia ingin membuktikan bahwa pendekatannya yang transaksional lebih efektif daripada diplomasi tradisional. Dengan mengakhiri perang, ia dapat mengalihkan anggaran bantuan luar negeri untuk fokus pada ekonomi domestik AS dan persaingan dengan China.

Rusia & Konsolidasi Kekuatan:

Jika penyerahan wilayah terjadi, Putin secara teknis "menang". Ia mendapatkan legitimasi atas wilayah pendudukan dan menunjukkan bahwa ketahanan Rusia mampu melampaui kesabaran Barat.

Ukraina & Dilema Eksistensial:

Ukraina berada dalam posisi paling sulit. Di satu sisi, mereka butuh perang berhenti untuk menyelamatkan nyawa rakyatnya yang tersisa. Di sisi lain, kehilangan wilayah berarti kehilangan harga diri nasional dan potensi ancaman Rusia di masa depan.

NATO yang Terbelah:

NATO menghadapi krisis identitas. Jika mereka menerima rencana Trump, aliansi ini tampak lemah. Jika menolak, mereka berisiko kehilangan dukungan logistik dan militer dari Amerika Serikat—tulang punggung utama mereka.

Penutup - Logika yang Sulit Diterima

Sulit diterima akal sehat bahwa sebuah kedaulatan negara harus dikorbankan demi stabilitas ekonomi global di Davos. Namun, dalam realpolitik, seringkali "perdamaian yang tidak adil" lebih dipilih daripada "perang yang adil namun tak berujung."

Dunia kini menanti, apakah 10% sisa proposal tersebut akan menjadi jembatan menuju damai, atau justru menjadi sumbu baru bagi konflik yang lebih besar.




November 27, 2025

Perang Rusia–Ukraina Dua Negara Bertetangga Tanpa Empati

 Oleh


Harmen Batubara

Perang Rusia–Ukraina adalah tragedi modern yang lahir dari persoalan lama: identitas, geopolitik, dan rasa saling curiga yang menumpuk selama puluhan tahun.
Namun pada akhirnya, peperangan ini membuktikan satu hal: dua bangsa yang berdekatan bisa berubah menjadi dua musuh tanpa empati—bahkan ketika sejarah, budaya, dan masa depan mereka saling bertaut.

Akar Luka: Identitas dan Geopolitik yang Terabaikan

Ketegangan ini bukan muncul tiba-tiba.
Keinginan Ukraina untuk menentukan arah historis dan politiknya—bergabung dengan Uni Eropa dan NATO—dipandang oleh Rusia sebagai ancaman keamanan langsung.

Puncaknya terjadi tahun 2013 melalui Revolusi Maidan, ketika rakyat Ukraina menolak tekanan Rusia dan memilih integrasi ke Barat.
Sebagai respon, Rusia mencaplok Krimea pada 2014, dan sejak saat itu garis retak hubungan kedua negara semakin melebar.

Berbagai perundingan—Minsk I, Minsk II, kontak diplomatik tak terhitung—selalu gagal.
Kedua pihak menginginkan keamanan, tetapi tidak menginginkan kompromi.
Hingga pada Februari 2022: Invasi dimulai. Perang meletus.

Pertempuran yang Menghancurkan Segalanya

Perang ini bukan sekadar benturan tank dengan artileri, bukan sekadar drone melawan rudal.
Ini adalah benturan nasib manusia.

Kota-kota Ukraina porak-poranda.
Pangkalan militer Rusia kehilangan ribuan prajurit di garis depan.
Desa, rumah sakit, sekolah, dan pabrik luluh lantak menjadi puing.

Serangan balasan demi balasan menciptakan lingkaran dendam tanpa akhir.

Di tengah suara bom, ada tangis yang tidak terdengar oleh dunia:
anak-anak yang terpisah dari orang tua,
para ibu yang kehilangan rumah,
para tentara muda—dari kedua negara—yang bahkan belum sempat memahami hidup sebelum dipaksa memahami kematian

Industri Pertahanan yang Terus Berputar

Perang bukan hanya menghancurkan; ia juga menghidupkan sesuatu yang tidak seharusnya hidup: industri persenjataan.

Di Rusia, pabrik amunisi bekerja 24 jam sehari.

Rudal diproduksi seperti roti hangat dari tungku.
Drone, tank, peluru—semua menjadi angka dalam tabel produksi, bukan lagi simbol kehancuran.

Di Ukraina, dukungan militer Barat mengalir deras.

Setiap paket bantuan berarti perpanjangan waktu bagi pertempuran.
Perang menjadi “proyek” global yang tak seorang pun tahu kapan akan selesai.

Ketika industri perang berputar, perdamaian kehilangan daya tawarnya.

Kerugian: Material, Emosional, dan Kemanusiaan

Tidak ada angka pasti yang disepakati dunia, tetapi 10 juta jiwa terdampak—entah terbunuh, terluka, mengungsi, atau kehilangan kehidupan normal mereka.
Setiap angka adalah seseorang yang tidak akan lagi pulang. Setiap statistik adalah keluarga yang hancur selamanya.

Kerugian material?
Tak terhitung.
Kota demi kota hilang dari peta.

Dan biaya perang?
Diperkirakan lebih dari 500 juta dolar AS per hari.
Setiap detik adalah uang yang tidak digunakan untuk rumah sakit, sekolah, pangan, atau masa depan.

Semua itu pada akhirnya menjadi utang besar yang harus dibayar oleh generasi berikutnya—generasi yang tidak pernah memilih perang, tetapi harus mewarisi akibatnya

Perang yang Memperlebar Jarak, Bukan Menyelesaikan Persoalan

Ironisnya, perang ini justru menjauhkan Rusia dan Ukraina dari apa yang mereka perjuangkan.

  • Persoalan identitas Ukraina kini semakin kuat: mereka ingin menjauh dari Rusia.
  • Kekhawatiran geopolitik Rusia semakin besar: NATO kini justru semakin solid.
  • Rasa saling percaya yang dulu rapuh kini hancur total.
  • Luka sosial di kedua negara semakin dalam, mungkin untuk beberapa generasi ke depan.

Perang tidak memberikan apa-apa selain kehancuran, kebencian baru, dan jarak yang semakin sulit dijembatani.
Dua negara bertetangga kehilangan empati satu sama lain, dan dunia menyaksikan bagaimana kedekatan sejarah bisa berubah menjadi jurang yang tak terlintasi

Penutup: Perang yang Tidak Pernah Layak Dibenarkan

Pada akhirnya, perang Rusia–Ukraina mengingatkan kita bahwa meski alasan awal mungkin tampak rasional—keamanan, identitas, geopolitik—hasil akhirnya selalu sama:
kehancuran yang tidak menghasilkan apapun.

Tidak ada kemenangan sejati.
Tidak ada kebanggaan dalam tumpukan puing.
Tidak ada masa depan yang lahir dari dendam.

Ketika kabar damai mulai terdengar hari ini, dunia berharap satu hal:
agar pada akhirnya dua bangsa yang pernah dekat ini belajar memulihkan empati yang hilang, karena tanpa empati, perdamaian hanya akan menjadi jeda—bukan solusi.