Oleh Harmen Batubara
Dunia internasional sedang mempertontonkan sebuah
realitas yang pahit namun tak terhindarkan: ketika negara adidaya bergerak demi
"kepentingan nasional" mereka, hukum internasional seringkali menjadi
sekadar catatan kaki.
Peristiwa terbaru yang menimpa Nicolas Maduro di
Venezuela, di mana Amerika Serikat secara agresif berusaha mengganti
rezim—terlepas dari penilaian kita terhadap kepemimpinan Maduro itu
sendiri—menambah daftar panjang intervensi negara besar terhadap negara yang
lebih kecil. Sejarah mencatat bagaimana Saddam Hussein di Irak, Jean-Bertrand
Aristide di Haiti, hingga Manuel Noriega di Panama dilengserkan ketika dianggap
berseberangan dengan kepentingan Washington.
Di sisi lain dunia, Rusia tak ragu menginvasi
Ukraina dengan alasan kepentingan pertahanan strategisnya terancam oleh
ekspansi NATO.
Dalam situasi-situasi genting ini, Dewan Keamanan
PBB yang seharusnya menjadi penjaga perdamaian dunia, seringkali lumpuh tak
berdaya. Hak veto yang dimiliki negara-negara adidaya membuat PBB mandul ketika
konflik melibatkan kepentingan langsung para raksasa tersebut.
Ini membawa kita pada sebuah pertanyaan
eksistensial: Di tengah "hukum rimba" modern ini, apa yang bisa
dilakukan oleh negara kecil untuk bertahan hidup? Ketika kekuatan militer jelas
tidak seimbang, bagaimana negara kecil melindungi kedaulatan mereka dari
tangan-tangan raksasa yang ingin mengambil alih?
Berikut adalah beberapa strategi bertahan hidup yang
realistis bagi negara kecil di tengah percaturan politik global yang keras:
1. Diplomasi "Bebas Aktif" yang Cerdas
(Hedging)
Pelajaran paling penting adalah: jangan pernah
menaruh semua telur dalam satu keranjang. Negara kecil tidak boleh bergantung
secara total—baik secara ekonomi maupun militer—hanya pada satu negara adidaya.
Ketergantungan mutlak menciptakan kerentanan
mutlak. Jika negara pelindung itu tiba-tiba berubah sikap, negara kecil
tersebut akan tamat.
Strategi yang paling masuk akal adalah hedging atau "mendayung di antara karang".
Negara kecil harus membangun hubungan baik dengan berbagai kekuatan besar
secara bersamaan. Jika ditekan oleh Blok Barat, ia harus memiliki hubungan
fungsional dengan Blok Timur, dan sebaliknya. Ini bukan tentang sikap
oportunis, melainkan strategi bertahan hidup untuk menciptakan ruang manuver.
Tujuannya adalah agar tidak ada satu kekuatan pun yang merasa memiliki kontrol
penuh atas negara tersebut.
2. Integrasi Ekonomi sebagai Perisai
Jika Anda tidak bisa menjadi kuat secara militer,
jadilah penting secara ekonomi bagi banyak pihak.
Negara kecil harus berusaha mengintegrasikan
ekonominya ke dalam rantai pasok global sedemikian rupa sehingga mengganggu
stabilitas negara tersebut akan merugikan banyak negara lain, termasuk negara
adidaya itu sendiri.
Contohnya Singapura. Sebagai negara pulau kecil
tanpa sumber daya alam, Singapura menjadikan dirinya hub keuangan dan logistik
global. Menyerang Singapura berarti mengacaukan kepentingan bisnis ribuan
perusahaan multinasional dari Amerika, China, Eropa, dan Jepang. Ketergantungan
ekonomi dunia pada negara kecil adalah bentuk pertahanan non-militer yang
paling efektif.
3. Memanfaatkan "Soft Power" dan Norma
Internasional
Meskipun Dewan Keamanan PBB sering macet, bukan
berarti hukum dan norma internasional tidak berguna sama sekali.
Negara kecil harus menjadi "warga dunia yang
baik". Dengan mematuhi aturan internasional, aktif dalam forum
multilateral, dan memiliki reputasi global yang positif, negara kecil membangun
"perisai moral".
Ketika negara adidaya menyerang negara kecil yang
memiliki reputasi baik, negara adidaya tersebut akan menanggung "biaya
politik" yang tinggi di mata dunia. Mereka akan kehilangan legitimasi
moral. Kecaman global, meskipun tidak menghentikan tank, dapat mempersulit
langkah agresor dan menarik simpati atau bantuan dari pihak lain.
4. Membangun Koalisi Regional
Satu lidi mudah dipatahkan, tetapi satu ikat lidi
sulit dihancurkan. Negara kecil harus aktif dalam organisasi regional (seperti
ASEAN di Asia Tenggara, atau Uni Eropa bagi negara-negara kecil di Eropa).
Organisasi regional berfungsi sebagai pengeras
suara. Suara satu negara kecil mungkin diabaikan di Washington, Moskow, atau
Beijing. Namun, suara kolektif dari 10 atau 20 negara dalam satu kawasan akan
lebih diperhitungkan. Aliansi regional memberikan bobot diplomatik yang tidak
dimiliki negara kecil jika berdiri sendiri.
5. Memperkuat Ketahanan Domestik
Ancaman terbesar bagi kedaulatan seringkali dimulai
dari dalam. Negara adidaya jarang menginvasi secara langsung tanpa alasan;
mereka sering memanfaatkan perpecahan internal, korupsi, atau ketidakpuasan
rakyat di negara target sebagai pintu masuk untuk melakukan intervensi atau
memicu kudeta.
Oleh karena itu, pertahanan lini pertama adalah
pemerintahan yang bersih, ekonomi yang adil, dan rakyat yang bersatu. Negara
yang kuat secara internal, di mana rakyatnya percaya pada pemerintahnya, jauh
lebih sulit untuk dipecah belah atau diadu domba oleh kekuatan asing.
Yang Ingin Saya Sampaikan
Realitas dunia saat ini memang keras. Bagi negara
kecil, kedaulatan bukanlah sesuatu yang terberi, melainkan sesuatu yang harus
diperjuangkan setiap hari dengan kecerdasan dan kehati-hatian.
Tidak ada jaminan keamanan mutlak. Namun, dengan
menolak menjadi boneka satu kekuatan, membangun relevansi ekonomi global, dan
memperkuat persatuan di dalam negeri, negara kecil dapat meningkatkan
"harga" yang harus dibayar oleh negara adidaya jika ingin mengganggu
kedaulatannya. Di tengah hukum rimba, si kancil mungkin tidak bisa mengalahkan
gajah dalam adu kekuatan, namun ia bisa menggunakan kecerdikannya untuk
bertahan hidup.



No comments:
Post a Comment