January 6, 2026

Setelah Maduro Venezuela, Strategi Mendayung Diantara Batu Karang

 


Oleh  Harmen Batubara

Dunia internasional sedang mempertontonkan sebuah realitas yang pahit namun tak terhindarkan: ketika negara adidaya bergerak demi "kepentingan nasional" mereka, hukum internasional seringkali menjadi sekadar catatan kaki.

Peristiwa terbaru yang menimpa Nicolas Maduro di Venezuela, di mana Amerika Serikat secara agresif berusaha mengganti rezim—terlepas dari penilaian kita terhadap kepemimpinan Maduro itu sendiri—menambah daftar panjang intervensi negara besar terhadap negara yang lebih kecil. Sejarah mencatat bagaimana Saddam Hussein di Irak, Jean-Bertrand Aristide di Haiti, hingga Manuel Noriega di Panama dilengserkan ketika dianggap berseberangan dengan kepentingan Washington.

Di sisi lain dunia, Rusia tak ragu menginvasi Ukraina dengan alasan kepentingan pertahanan strategisnya terancam oleh ekspansi NATO.

Dalam situasi-situasi genting ini, Dewan Keamanan PBB yang seharusnya menjadi penjaga perdamaian dunia, seringkali lumpuh tak berdaya. Hak veto yang dimiliki negara-negara adidaya membuat PBB mandul ketika konflik melibatkan kepentingan langsung para raksasa tersebut.

Ini membawa kita pada sebuah pertanyaan eksistensial: Di tengah "hukum rimba" modern ini, apa yang bisa dilakukan oleh negara kecil untuk bertahan hidup? Ketika kekuatan militer jelas tidak seimbang, bagaimana negara kecil melindungi kedaulatan mereka dari tangan-tangan raksasa yang ingin mengambil alih?

Berikut adalah beberapa strategi bertahan hidup yang realistis bagi negara kecil di tengah percaturan politik global yang keras:

1. Diplomasi "Bebas Aktif" yang Cerdas (Hedging)

Pelajaran paling penting adalah: jangan pernah menaruh semua telur dalam satu keranjang. Negara kecil tidak boleh bergantung secara total—baik secara ekonomi maupun militer—hanya pada satu negara adidaya.

Ketergantungan mutlak menciptakan kerentanan mutlak. Jika negara pelindung itu tiba-tiba berubah sikap, negara kecil tersebut akan tamat.

Strategi yang paling masuk akal adalah hedging atau "mendayung di antara karang". Negara kecil harus membangun hubungan baik dengan berbagai kekuatan besar secara bersamaan. Jika ditekan oleh Blok Barat, ia harus memiliki hubungan fungsional dengan Blok Timur, dan sebaliknya. Ini bukan tentang sikap oportunis, melainkan strategi bertahan hidup untuk menciptakan ruang manuver. Tujuannya adalah agar tidak ada satu kekuatan pun yang merasa memiliki kontrol penuh atas negara tersebut.


2. Integrasi Ekonomi sebagai Perisai

Jika Anda tidak bisa menjadi kuat secara militer, jadilah penting secara ekonomi bagi banyak pihak.

Negara kecil harus berusaha mengintegrasikan ekonominya ke dalam rantai pasok global sedemikian rupa sehingga mengganggu stabilitas negara tersebut akan merugikan banyak negara lain, termasuk negara adidaya itu sendiri.

Contohnya Singapura. Sebagai negara pulau kecil tanpa sumber daya alam, Singapura menjadikan dirinya hub keuangan dan logistik global. Menyerang Singapura berarti mengacaukan kepentingan bisnis ribuan perusahaan multinasional dari Amerika, China, Eropa, dan Jepang. Ketergantungan ekonomi dunia pada negara kecil adalah bentuk pertahanan non-militer yang paling efektif.

3. Memanfaatkan "Soft Power" dan Norma Internasional

Meskipun Dewan Keamanan PBB sering macet, bukan berarti hukum dan norma internasional tidak berguna sama sekali.

Negara kecil harus menjadi "warga dunia yang baik". Dengan mematuhi aturan internasional, aktif dalam forum multilateral, dan memiliki reputasi global yang positif, negara kecil membangun "perisai moral".

Ketika negara adidaya menyerang negara kecil yang memiliki reputasi baik, negara adidaya tersebut akan menanggung "biaya politik" yang tinggi di mata dunia. Mereka akan kehilangan legitimasi moral. Kecaman global, meskipun tidak menghentikan tank, dapat mempersulit langkah agresor dan menarik simpati atau bantuan dari pihak lain.

4. Membangun Koalisi Regional

Satu lidi mudah dipatahkan, tetapi satu ikat lidi sulit dihancurkan. Negara kecil harus aktif dalam organisasi regional (seperti ASEAN di Asia Tenggara, atau Uni Eropa bagi negara-negara kecil di Eropa).

Organisasi regional berfungsi sebagai pengeras suara. Suara satu negara kecil mungkin diabaikan di Washington, Moskow, atau Beijing. Namun, suara kolektif dari 10 atau 20 negara dalam satu kawasan akan lebih diperhitungkan. Aliansi regional memberikan bobot diplomatik yang tidak dimiliki negara kecil jika berdiri sendiri.

5. Memperkuat Ketahanan Domestik

Ancaman terbesar bagi kedaulatan seringkali dimulai dari dalam. Negara adidaya jarang menginvasi secara langsung tanpa alasan; mereka sering memanfaatkan perpecahan internal, korupsi, atau ketidakpuasan rakyat di negara target sebagai pintu masuk untuk melakukan intervensi atau memicu kudeta.

Oleh karena itu, pertahanan lini pertama adalah pemerintahan yang bersih, ekonomi yang adil, dan rakyat yang bersatu. Negara yang kuat secara internal, di mana rakyatnya percaya pada pemerintahnya, jauh lebih sulit untuk dipecah belah atau diadu domba oleh kekuatan asing.

Yang Ingin Saya Sampaikan

Realitas dunia saat ini memang keras. Bagi negara kecil, kedaulatan bukanlah sesuatu yang terberi, melainkan sesuatu yang harus diperjuangkan setiap hari dengan kecerdasan dan kehati-hatian.

Tidak ada jaminan keamanan mutlak. Namun, dengan menolak menjadi boneka satu kekuatan, membangun relevansi ekonomi global, dan memperkuat persatuan di dalam negeri, negara kecil dapat meningkatkan "harga" yang harus dibayar oleh negara adidaya jika ingin mengganggu kedaulatannya. Di tengah hukum rimba, si kancil mungkin tidak bisa mengalahkan gajah dalam adu kekuatan, namun ia bisa menggunakan kecerdikannya untuk bertahan hidup.



No comments:

Post a Comment