Oleh Harmen Batubara
Salju yang menyelimuti Davos,
Swiss, pada 21 Januari 2026, terasa lebih dingin dari biasanya. Di tengah Forum
Ekonomi Dunia (WEF), sorot lampu global tertuju pada satu sosok: Presiden AS Donald Trump. Dengan gaya khasnya yang
blak-blakan, Trump mengguncang fondasi diplomasi internasional dengan sebuah
pernyataan yang ditunggu sekaligus ditakuti: "Saya dapat mengatakan
bahwa kita sudah cukup dekat untuk mencapai kesepakatan."
Namun, di balik optimisme tersebut,
tersimpan sebuah badai besar yang mengancam kedaulatan Ukraina dan stabilitas
NATO.
Diplomasi di Atas Meja yang Retak
Rencana perdamaian yang diusung
Trump bukanlah sebuah kompromi yang mudah ditelan. Inti dari proposal tersebut
adalah penyerahan wilayah Ukraina kepada Rusia sebagai syarat
berakhirnya agresi. Bagi Kyiv, ini adalah pil pahit yang hampir mustahil
dikunyah. Bagi NATO, ini adalah preseden berbahaya yang bisa meruntuhkan
tatanan keamanan Eropa yang telah dijaga selama dekade terakhir.
Namun, realitas di lapangan memaksa
Ukraina untuk berpikir ulang. Hanya sehari sebelum pidato Trump, sebuah angka
mengejutkan dirilis oleh Menteri Pertahanan Ukraina,
Mykhailo Fedorov:
Sekitar 200.000
tentara Ukraina telah desersi (meninggalkan tugas).
Kelelahan mental dan fisik setelah
bertahun-tahun berperang telah mencapai titik nadir.
Kyiv menyatakan telah menyetujui 90% proposal perdamaian AS, namun 10% sisanya—soal
wilayah—tetap menjadi jurang yang dalam.
Misteri 91 Drone di Rumah Putin
Di tengah tarik ulur diplomasi ini,
sebuah peristiwa "aneh" terjadi di akhir Desember 2025. Sebanyak 91 drone dilaporkan menyerang kediaman pribadi Vladimir
Putin. Ukraina membantah keras keterlibatan mereka.
Munculnya tuduhan ini di saat negosiasi mencapai titik krusial menimbulkan pertanyaan besar: Apakah ini upaya sabotase dari pihak yang tidak menginginkan perdamaian, ataukah sebuah false flag untuk memberikan alasan bagi Rusia agar menuntut lebih banyak di meja perundingan?
Siapa yang Sebenarnya Diuntungkan?
Menjawab pertanyaan siapa
pemenangnya membutuhkan kacamata yang lebih luas dari sekadar menang-kalah di
medan tempur:
Donald Trump & Narasi Domestik:
Bagi Trump, perdamaian ini adalah
"piala" politik. Ia ingin membuktikan bahwa pendekatannya yang
transaksional lebih efektif daripada diplomasi tradisional. Dengan mengakhiri
perang, ia dapat mengalihkan anggaran bantuan luar negeri untuk fokus pada
ekonomi domestik AS dan persaingan dengan China.
Rusia & Konsolidasi Kekuatan:
Jika penyerahan wilayah terjadi,
Putin secara teknis "menang". Ia mendapatkan legitimasi atas wilayah
pendudukan dan menunjukkan bahwa ketahanan Rusia mampu melampaui kesabaran
Barat.
Ukraina & Dilema Eksistensial:
Ukraina berada dalam posisi paling
sulit. Di satu sisi, mereka butuh perang berhenti untuk menyelamatkan nyawa
rakyatnya yang tersisa. Di sisi lain, kehilangan wilayah berarti kehilangan
harga diri nasional dan potensi ancaman Rusia di masa depan.
NATO yang Terbelah:
NATO menghadapi krisis identitas.
Jika mereka menerima rencana Trump, aliansi ini tampak lemah. Jika menolak,
mereka berisiko kehilangan dukungan logistik dan militer dari Amerika
Serikat—tulang punggung utama mereka.
Penutup - Logika yang Sulit Diterima
Sulit diterima akal sehat bahwa
sebuah kedaulatan negara harus dikorbankan demi stabilitas ekonomi global di
Davos. Namun, dalam realpolitik, seringkali "perdamaian yang tidak
adil" lebih dipilih daripada "perang yang adil namun
tak berujung."
Dunia kini menanti, apakah 10% sisa
proposal tersebut akan menjadi jembatan menuju damai, atau justru menjadi sumbu
baru bagi konflik yang lebih besar.



No comments:
Post a Comment