Showing posts with label demo di iran. Show all posts
Showing posts with label demo di iran. Show all posts

January 20, 2026

Iran: Mampukah Mencari Jalan Keluar ? Pelajaran Berharga Untuk Indonesia

 


Oleh Harmen Batubara

Iran bukanlah negara "kemarin sore". Ia adalah pewaris peradaban Persia yang agung, sebuah bangsa yang ribuan tahun lalu sudah meletakkan fondasi bagi hukum, astronomi, dan kedokteran dunia. Hari ini, Iran tetap menjadi raksasa intelektual. Dalam hal kecanggihan teknologi—mulai dari program kedirgantaraan, energi nuklir, hingga teknologi militer—Iran seringkali disejajarkan dengan negara maju seperti Jepang atau Korea Selatan.

Namun, memasuki tahun 2026, dunia melihat sebuah kontradiksi yang menyakitkan: sebuah negara dengan otak "kelas satu" namun memiliki ekonomi yang tengah berjuang di "ruang gawat darurat".

Ada satu hal yang jadi bahan pertanyaan? Termasuk Untuk Indonesia sendiri. Yakni Restorasi Kepercayaan Domestik: Memperbaiki kontrak sosial dengan rakyat, bebas korupsi, transparansi dan penegakan hukum,  agar protes massa (seperti yang terjadi di awal 2026 akibat kenaikan harga pangan dan jatuhnya nilai Rial) dapat diredam melalui kesejahteraan, bukan sekadar tindakan keras.

Indonesia kini tengah melawan Korupsi secara besar-besaran, tapi masih terbatas pada kemampuan tranparansi dan penegakan hukum.


1. Paradox Kemajuan di Tengah Keterpurukan

Iran memiliki modal manusia yang luar biasa. Berdasarkan berbagai indeks modal intelektual, tingkat literasi dan kecakapan teknis warga Iran adalah salah satu yang tertinggi di kawasan. Mereka mampu membangun satelit dan drone canggih di bawah tekanan isolasi. Namun, kecanggihan ini seperti mesin mobil balap yang dipaksa berjalan di jalanan berlumpur.

Mengapa mereka terlihat sangat kewalahan?

Sanksi "Snapback" PBB: Sejak akhir 2025, kembalinya sanksi internasional secara penuh (setelah mekanisme snapback Resolusi 2231 aktif) telah mengunci pintu perbankan global bagi Iran. Bahkan sekutu tradisional seperti Tiongkok mulai mengurangi pembelian minyak karena risiko sanksi sekunder.

Ketergantungan Energi: Iran terjebak dalam "kutukan sumber daya". Terlalu bergantung pada minyak membuat ekonomi mereka rapuh terhadap fluktuasi harga global dan blokade politik.

Sistem "Perbankan Bayangan": Untuk mengakali sanksi, Iran membangun jalur keuangan rahasia. Namun, sistem ini berbiaya tinggi, rawan korupsi, dan menyebabkan inefisiensi yang luar biasa pada anggaran negara.

2. Hukum dan Tata Kelola: Kunci yang Terlupakan

Sebuah negara besar hanya bisa bangkit jika roda penggeraknya—yaitu tatanan pemerintahan dan hukum—berjalan dengan benar. Saat ini, tekanan politik di Iran bukan hanya datang dari luar (Barat), tetapi juga dari dalam.

Ketika hukum ditegakkan secara adil dan transparan, kepercayaan pasar akan kembali. Masalah utama yang membuat Iran kewalahan bukanlah kurangnya teknologi, melainkan ketidakpastian hukum yang membuat investor (bahkan investor domestik) takut untuk bergerak. Tanpa tata kelola yang bersih, diversifikasi ekonomi hanyalah slogan; karena industri non-minyak membutuhkan ekosistem yang terbuka dan kompetitif.

3. Mampukah Mereka Mencari Jalan Keluar?

Jawabannya: Sangat Mampu, namun dengan syarat.

Iran memiliki semua syarat untuk menjadi pemimpin ekonomi global: lokasi geografis strategis (jalur sutra modern), sumber daya alam melimpah, dan populasi muda yang sangat terdidik. Untuk keluar dari krisis, Iran perlu melakukan dua manuver besar:

Restorasi Kepercayaan Domestik: Memperbaiki kontrak sosial dengan rakyatnya, adanya tranparansi, penegakan hokum yang adil, semua ini bisa jadi obat yang baik,  agar protes massa (seperti yang terjadi di awal 2026 akibat kenaikan harga pangan dan jatuhnya nilai Rial) dapat diredam melalui kesejahteraan, bukan sekadar tindakan keras.

Diplomasi Pragmatis: Mengurangi ketegangan regional untuk membuka kembali keran investasi. Sekutu seperti Rusia atau Tiongkok memang membantu, namun sebuah negara sebesar Iran tidak akan bisa tumbuh maksimal jika hanya bergantung pada "sahabat terbatas".

 Kesimpulan Sederhana:

Iran saat ini ibarat sebuah perpustakaan raksasa yang pintunya digembok dari luar dan atapnya bocor dari dalam. Potensi ilmunya (teknologi dan budaya) tetap hebat, namun ia kewalahan karena energi dan fokusnya habis hanya untuk menambal kebocoran (inflasi dan sanksi) tanpa sempat membuka gemboknya (reformasi politik dan hukum).

Jika mereka berani memperbaiki tatanan hukum di dalam negeri, kecanggihan teknologi mereka akan dengan sendirinya menjadi motor ekonomi yang tak tertandingi. Sesuatu yang sangat universal, seperti yang juga dialami Indonesia. Setiap munculnya gejolak social, kekuatan asing pasti memperkeruh suasana sesuai kepentingan mereka sendiri. Indonesia memang tengah dalam Hilirisasi,dan menjadi swasembada beras, tapi masih fokus pada kelapa sawit, sementara kelapa, dan rempah-rempah masih tertinggal.