Showing posts with label pengangguran. Show all posts
Showing posts with label pengangguran. Show all posts

June 26, 2026

Kenapa Korupsi di Indonesia Tumbuh Subur?

 


Oleh Harmen Batubara

Korupsi di negeri ini bukan lagi sekadar kejahatan; ia telah berevolusi menjadi sebuah sistem gotong-royong yang menyimpang. Slogan kuno "makan enggak makan yang penting kumpul" tampaknya telah bergeser menjadi "korupsi enggak korupsi yang penting bagi-bagi".

Mengapa ia begitu subur? Karena para pelakunya memahami satu hukum tidak tertulis: Koruptor yang bersedia berbagi dengan jaringannya akan selalu menemukan tempat aman. Ketika kue rampokan dipotong rapi dan dibagikan secara "adil" kepada hulu hingga hilir—mulai dari pembuat kebijakan, pelaksana proyek, hingga pengawas—maka terciptalah sebuah benteng impunitas. Kebahagiaan dan kesejahteraan semu dibangun di atas penderitaan rakyat jelata.

Tragedi terbesar muncul ketika komitmen politik yang berapi-api di panggung pidato berbenturan dengan realitas di lapangan. Kita sering terperangah saat melihat program-program unggulan kemasyarakatan—seperti modernisasi koperasi desa, penguatan desa nelayan, atau swasembada—justru menjadi ladang jarahan baru oleh orang-orang yang berada di lingkaran terdekat kekuasaan.


Apakah ini karena program dieksekusi tanpa persiapan yang matang? Ataukah karena budaya korupsi kita sudah mendarah daging?

Jawabannya adalah keduanya saling mengunci. Keberanian politik untuk meluncurkan program besar sering kali tidak diimbangi dengan sistem pengawasan yang kedap air. Akibatnya, niat baik yang tidak dipersiapkan dengan matang langsung diterkam oleh sistem korupsi struktural yang sudah siap memangsa sejak awal. Ketika kedekatan personal atau loyalitas politik lebih dihargai daripada integritas dan transparansi, maka program seindah apa pun akan berakhir sebagai komoditas bancakan kroni.

Secara akademis dan data empiris, kesuburan korupsi ini diperkuat oleh beberapa faktor:

Teori GONE (Jack Bologne): Korupsi terjadi karena adanya Greed (keserakahan), Opportunity (kesempatan), Need (kebutuhan), dan Exposure (pengungkapan/hukuman yang rendah). Di Indonesia, faktor Opportunity dan Exposure sangat lemah karena penegakan hukum sering kali tebang pilih.

Biaya Politik Tinggi (High-Cost Politics): Berdasarkan kajian KPK dan berbagai lembaga riset, proses meraih dan mempertahankan kekuasaan di Indonesia membutuhkan biaya logistik yang sangat besar. Hal ini memicu pragmatisme politik, di mana kekuasaan yang didapat harus segera "dikapitalisasi" untuk mengembalikan modal investasi politik.

Memutus Rantai "Bagi-Bagi"

Menghancurkan kesuburan korupsi tidak bisa hanya mengandalkan figur seorang pemimpin, melainkan harus dengan membangun sistem yang memaksa orang menjadi jujur:

Sistem Pengawasan Kedap Air (Digital Dashboard Tracking): Setiap rupiah anggaran program unggulan (seperti koperasi atau bantuan desa) wajib dapat dilacak secara real-time oleh publik hingga ke tingkat sekunder.

Meritokrasi Tanpa Kompromi: Eksekutor program strategis harus dipilih berdasarkan kompetensi dan rekam jejak integritas, bukan berdasarkan kedekatan personal, ikatan persahabatan, atau jasa politik masa lalu.

Pemberlakuan UU Perampasan Aset: Memiskinkan koruptor dan menyita aset hingga ke lingkaran kroninya adalah satu-satunya cara menghentikan skema "berbagi aman". Jika penjaranya nyaman dan asetnya tetap aman, hukuman tidak akan pernah memicu efek jera.