Oleh Harmen Batubara
Jujur harus kukatakan, degup pembangunan yang
diembuskan oleh pemerintah hari ini terasa begitu dekat di hati.
Program-program yang kini tengah dijalankan oleh Presiden Prabowo bukan sekadar
deretan kebijakan kenegaraan di mataku; ini adalah wujud nyata dari apa yang
selama ini diam-diam aku dambakan untuk Ibu Pertiwi.
Aku telah mengamati rekam jejak seorang Prabowo
Subianto sejak lama, jauh di era 70-an. Saat itu, aku hanyalah seorang
mahasiswa penulis lepas yang mencari sensasi dari sosoknya. Honor-honor dari
tulisan itulah yang menyambung napasku hingga berhasil diwisuda dari
Universitas Gadjah Mada, dan kemudian mengantarkanku mengabdi sebagai seorang
Perwira TNI AD.
Profesi di bidang pemetaan menugaskanku menyusuri
berbagai penjuru, hingga ke mancanegara. Tugas itu memaksaku untuk meresapi
setiap jengkal informasi demi pertahanan negara. Aku seolah hafal betul denyut
nadi dan kontur alam NKRI, karena memang untuk itulah aku ditugasi—hadir di
mana saja, melihat realitas bentang alam dan kehidupan rakyat dari jarak
terdekat.
Program Kesejahteraan Rakyat
Lalu, waktu membawaku pada sebuah keterpesonaan.
Hal-hal yang dulu hanya menjadi angan bagi kesejahteraan rakyat di pelosok
negeri yang pernah kupetakan, kini satu per satu menjelma menjadi Program
Unggulan Prabowo. Mulai dari Swasembada Pangan, langkah pasti menuju Swasembada
Energi, Sekolah Rakyat, Sekolah Garuda, Makan Bergizi Gratis (MGB),
revitalisasi Kampung Nelayan, Perbaikan Rumah Kumuh Perkotaan, penguatan
Koperasi Desa (KopDes), hingga Hilirisasi yang menjaga marwah kekayaan alam
kita.
Keterpesonaan ini bukan tanpa alasan. Aku tahu
betul siapa Prabowo. Ia lahir dari rahim keluarga intelektual, ditempa keras
sebagai prajurit komando Kopassus, dan beristrikan putri seorang Presiden. Di
atas kertas, dengan segala keistimewaan itu, ia bisa saja sekadar duduk tenang
dan menentukan apa saja yang ia mau untuk kenyamanan dunianya sendiri.
Ingatanku mundur ke era 90-an di Timor Leste. Saat
Prabowo sudah menjabat sebagai Komandan Batalyon termuda, aku pun ada di sana.
Tugasku saat itu adalah memastikan peta-peta lama Timor Leste didaur ulang
menjadi informasi taktis yang baru. Kami berada di medan yang sama, melihat
realitas yang sama.
Mewujutkan KesejahTeraan Rakyat
Lalu sejarah berputar. Tahun 1998, Prabowo
benar-benar didorong masuk ke kawah Candradimuka yang paling kejam. Ia dipaksa
berjalan melewati "ladang pembantaian" karakter dan politik. Di atas
kertas, karier dan nama Prabowo saat itu dianggap sudah habis tak bersisa.
Namun, alam semesta dan Tuhan selalu punya rencana
lain. Jalan pengabdian itu tidak pernah benar-benar tertutup. Kesempatan itu
kembali terbuka, dan dengan kebesaran jiwanya, ia berhasil meraihnya untuk
berdiri sebagai RI Satu.
Dan inilah titik puncaknya—hal yang paling
membuatku tertegun. Semua program yang ia luncurkan hari ini, menurut hematku,
sama sekali bukan untuk "dunianya" yang elitis. Ini adalah murni
cita-citanya untuk kaum alit, untuk rakyat kebanyakan. Ia menghadirkan
program-program populis yang tidak hanya akan membuat Indonesia maju, tetapi
tumbuh menjadi negara yang sangat berbeda, mandiri, dan bermartabat.
Oleh karena itu, melihat dedikasi dan perjalanan
panjang yang penuh ujian ini, rasanya tidak ada ruang lagi untuk sekadar
berpangku tangan atau memelihara keraguan. Ini bukan lagi tentang masa lalu.
Ini tentang masa depan tanah air yang setiap lekuknya pernah kupetakan dengan
peluh.
Mari kita satukan langkah. Ini waktunya Indonesia
bekerja. Berikan dukunganmu, untuk cita-cita besar yang kini sedang dibangun di
atas tanah kita sendiri.


No comments:
Post a Comment