Oleh Harmen Batubara
Dalam setiap helai benang kehidupan yang
terjalin, manusia kerap dihadapkan pada dua pandangan besar tentang siapa
dirinya dan ke mana ia melangkah.
Takdir Itu Memang Terasa
Perjalanan hidupku sendiri pernah kurasakan
sejalan dengan pandangan ini. Aku lahir di sebuah kampung terpencil, berjarak
500 kilometer dari ibu kota provinsi. Kesempatan pendidikan sangat terbatas;
belum pernah ada anak kampung yang berhasil melanjutkan kuliah, apalagi dengan
kemampuan sendiri. Aku pun akhirnya merantau ke Yogyakarta, dengan harapan
tipis: siapa tahu bisa kuliah. Namun tak disangka, aku justru diterima di
Universitas Gadjah Mada—kampus ternama—dan mampu membiayai studiku sendiri.
Bagi warga kampungku, dan juga bagiku saat itu, hal itu bukan sekadar
pencapaian, melainkan takdir yang terjalin. Segala keterampilan yang kusiapkan
sebelumnya tak terpakai untuk membiayai hidupku; aku justru menjadi penulis
yang mengandalkan honor tulisan—sesuatu yang tak pernah terbayangkan
sebelumnya. Kini kehidupanku berjalan selaras dengan perkuliahanku, namun tak
kulihat benang merah yang jelas antara masa kecilku di desa tanpa listrik
dengan kehidupanku kini sebagai mahasiswa yang mandiri.
Namun ada narasi kedua yang tak kalah bermakna: bahwa manusia bukan sekadar boneka takdir, melainkan arsitek utama bagi kehidupannya sendiri. Kesuksesan atau kegagalan, kebahagiaan atau kesulitan, sangat bergantung pada bagaimana kita menempa diri, membentuk lingkungan, dan mengukir jejak kita. Di sini, takdir bukanlah garis kaku yang ditarik sejak awal, melainkan kanvas luas yang menanti setiap sapuan kuas kita. Setiap pilihan, setiap usaha, dan setiap keteguhan hati adalah goresan yang menentukan wujud akhir kehidupan kita.
Menurutku, kebenaran sejati ada pada jalan
tengah: bukan memilih salah satu sisi, melainkan merajut keduanya menjadi satu
pemahaman yang utuh dan memberdayakan. Takdir bukanlah cetak biru yang kaku,
melainkan **potensi awal**. Ibarat benih yang ditanam: takdir memberinya
potensi untuk tumbuh menjadi pohon rindang yang berbuah manis, atau semak yang
tak berbuah namun bunganya memikat hati. Namun bagaimana benih itu
tumbuh—apakah mendapat air yang cukup, sinar matahari, perawatan, dan perlindungan—sepenuhnya
ada di tangan penanamnya.
Pesan ini juga kusampaikan kepadamu yang sedang berjuang meraih harapan. Kau memiliki potensi yang telah disiapkan Tuhan—namun tugasmu adalah mempersiapkan diri agar layak menerimanya. Orang tuamu pasti telah berupaya memberikan yang terbaik, dan kau pun berusaha sekuat tenaga sejalan dengan harapan mereka. Namun jika batas itu hanya sampai "yang terbaik di desa", itu bukanlah batas akhir kemampuanmu. Di mata warga kampungku dulu, cukup jika anak tumbuh sehat, lulus sekolah, lalu berkeluarga dan menjadi warga yang baik—sebab melangkah lebih jauh terasa mustahil.
Namun jika kau berani melangkah ke jalan tengah, kau akan melihat peluang yang tak terpikirkan orang banyak. Persiapkanlah dirimu jauh sebelum kesempatan itu datang. Manfaatkan segala keterampilan yang kau miliki—bisa bertani, berkebun, menyadap karet, memetik kelapa sawit, berdagang, atau apa pun itu. Jika ingin mengubah nasib, pilihanmu mungkin terbatas, namun salah satunya adalah berani melangkah keluar—merantau. Pergilah ke tempat yang kau yakini bisa membantumu mewujudkan cita-cita. Biarkan takdir yang menuntun arahmu, namun biarkan usahamu yang membuka jalannya. Jika takdirmu indah, usahamu akan menjadi jalan yang terbuka lebar. Namun apa pun hasilnya, kau telah melangkah dengan kemampuan yang kau miliki. Kau mungkin menjadi anak kota, namun nilai perjuanganmu tetaplah lebih besar daripada sekadar perbandingan nasib dengan siapa pun.
