Oleh Harmen Batubara
Pembangunan Indonesia hari ini terlihat semakin semarak. Infrastruktur
terus dibangun, konektivitas diperluas, pusat-pusat ekonomi tumbuh, dan
berbagai program strategis pemerintah mulai diarahkan untuk memperkuat
ketahanan pangan, energi, ekonomi rakyat, hingga pembangunan kawasan perdesaan
dan pesisir.
Namun di tengah semaraknya pembangunan itu, ada satu pertanyaan yang
tidak boleh kita lupakan:
Apakah kemajuan pembangunan sudah benar-benar dirasakan oleh mereka yang
paling membutuhkan?
Sebab ukuran keberhasilan pembangunan bukan hanya jalan yang semakin
bagus, gedung yang semakin tinggi, atau proyek yang semakin banyak. Pembangunan
pada akhirnya harus mampu menghadirkan kehidupan yang lebih layak bagi
rakyat—terutama bagi mereka yang masih hidup dalam kemiskinan.
Kemiskinan Tidak Cukup Diatasi dengan Bantuan
Pemerintah sebenarnya telah melakukan berbagai upaya untuk membantu
masyarakat miskin melalui tiga pendekatan penting: perlindungan sosial,
pemenuhan layanan dasar, dan pemberdayaan ekonomi.
Dalam skala nasional, perhatian terhadap kesejahteraan masyarakat antara
lain tercermin melalui berbagai agenda pembangunan seperti penguatan swasembada
pangan, swasembada energi, pembangunan perkampungan nelayan, pengembangan
Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih, program Makan Bergizi Gratis, serta
berbagai program pemberdayaan masyarakat lainnya.
Di sisi perlindungan sosial, pemerintah juga menyediakan berbagai bentuk
bantuan untuk menjaga masyarakat rentan agar tidak semakin terpuruk.
Ada bantuan sosial, bantuan pangan, bantuan tunai, subsidi yang
ditujukan bagi kelompok tertentu, hingga berbagai bentuk jaring pengaman
sosial.
Semua itu penting.
Sebab bagi keluarga yang penghasilannya pas-pasan, bantuan untuk
memenuhi kebutuhan pangan, listrik, energi, kesehatan, dan pendidikan bukanlah
sesuatu yang kecil. Bantuan tersebut dapat menjadi penyelamat ketika pendapatan
tidak mampu memenuhi seluruh kebutuhan keluarga.Tetapi kita juga harus jujur
mengatakan:
Bantuan sosial seharusnya bukan menjadi tujuan akhir. Bantuan
adalah jembatan agar seseorang mampu melewati masa sulit. Tujuan akhirnya
adalah membuat masyarakat memiliki kemampuan untuk berdiri di atas kakinya
sendiri.
Memutus Rantai Kemiskinan
dari Pendidikan dan Kesehatan
Kemiskinan tidak hanya berbicara tentang tidak punya uang. Kemiskinan
juga bisa muncul karena seseorang tidak memiliki pendidikan yang memadai,
keterampilan kerja, akses kesehatan, tempat tinggal yang layak, jaringan
ekonomi, bahkan dokumen kependudukan yang diperlukan untuk mengakses pelayanan
negara. Karena itu, pendidikan dan kesehatan merupakan bagian penting dari
perjuangan mengentaskan kemiskinan.
Program bantuan pendidikan seperti Program Indonesia Pintar dan dukungan
bagi keluarga rentan dapat membantu anak-anak tetap bersekolah. Demikian pula
jaminan kesehatan dapat mencegah keluarga miskin jatuh semakin dalam hanya
karena harus membayar biaya pengobatan.
Bayangkan sebuah keluarga miskin yang sudah bertahun-tahun berjuang
memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ketika salah satu anggota keluarganya sakit
keras, tabungan habis untuk berobat. Ketika anaknya harus berhenti sekolah
karena tidak mampu membayar kebutuhan pendidikan, peluang untuk memperbaiki
kehidupan menjadi semakin kecil. Di sinilah negara harus hadir.
Memutus kemiskinan berarti memutus rantai yang membuat kemiskinan
diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Warga Miskin Perkotaan Membutuhkan Kesempatan
Kemiskinan di kota mempunyai wajah yang berbeda. Di tengah gedung
tinggi, pusat perdagangan, dan kehidupan ekonomi yang bergerak cepat, kita
masih dapat menemukan masyarakat yang hidup di permukiman padat, bekerja
sebagai pedagang kecil, buruh harian, pekerja informal, pengemudi, pekerja
rumah tangga, dan berbagai pekerjaan lain dengan pendapatan yang tidak selalu
stabil.
Bagi mereka, kebutuhan bukan sekadar bantuan tunai.
Mereka membutuhkan pekerjaan, keterampilan, tempat tinggal yang
terjangkau, air bersih, sanitasi, layanan kesehatan, pendidikan, dan akses
terhadap modal usaha.
Mereka juga membutuhkan akses digital. Hari ini, internet bukan lagi
sekadar sarana hiburan. Internet telah menjadi pintu menuju informasi
pekerjaan, pemasaran produk, pendidikan, layanan pemerintah, transaksi
keuangan, bahkan peluang usaha. Maka masyarakat miskin yang tidak memiliki
perangkat, keterampilan digital, atau akses internet yang terjangkau berisiko
semakin tertinggal.
Kemiskinan di era digital bukan hanya persoalan tidak punya uang, tetapi
juga persoalan tidak memiliki akses terhadap peluang.
Desa Jangan Dibiarkan
Tertinggal
Persoalan serupa terjadi di perdesaan. Banyak masyarakat desa memiliki
tanah, tenaga, dan potensi alam, tetapi belum selalu memiliki akses yang
memadai untuk mengubah potensi tersebut menjadi pendapatan. Jalan desa yang
buruk membuat biaya mengangkut hasil pertanian menjadi mahal. Keterbatasan
irigasi membuat produksi pertanian tidak optimal.
Ketiadaan pasar yang baik membuat petani sering berada dalam posisi
lemah ketika menjual hasil panennya. Keterbatasan internet membuat masyarakat
desa tertinggal dalam memperoleh informasi harga, teknologi, pendidikan, maupun
peluang usaha. Karena itu, pengentasan kemiskinan di desa harus berjalan
bersama dengan pembangunan infrastruktur dan penguatan ekonomi masyarakat.
Petani membutuhkan bibit, pupuk, teknologi, irigasi dan kepastian pasar.
Nelayan membutuhkan sarana produksi, akses permodalan, penyimpanan hasil
tangkapan, teknologi, serta pasar yang lebih baik. Pelaku UMKM membutuhkan
keterampilan, modal, pendampingan dan akses pemasaran.
Dan generasi muda desa membutuhkan pendidikan serta keterampilan agar
mereka tidak harus meninggalkan desanya hanya karena tidak menemukan masa depan
di sana.
Dari Bantuan Menuju Kemandirian
Di sinilah kita perlu mengubah cara pandang. Jangan sampai keberhasilan
program pengentasan kemiskinan hanya diukur dari berapa banyak bantuan yang
dibagikan.
Kita harus mulai bertanya:
Berapa banyak keluarga yang berhasil naik kelas?
Berapa banyak penerima bantuan yang kemudian memperoleh pekerjaan?
Berapa banyak usaha kecil yang tumbuh menjadi usaha yang mandiri?
Berapa banyak anak keluarga miskin yang berhasil memperoleh pendidikan
lebih baik?
Berapa banyak petani dan nelayan yang pendapatannya meningkat?
Berapa banyak keluarga yang akhirnya tidak lagi bergantung pada bantuan?
Pertanyaan-pertanyaan seperti inilah yang seharusnya menjadi ukuran
keberhasilan. Sebab bantuan yang terus diberikan tanpa peningkatan kemampuan
ekonomi berisiko membuat masyarakat hanya bertahan, bukan berkembang.
Apakah Bantuan Sudah Tepat
Sasaran?
Kita juga tidak boleh menutup mata terhadap persoalan di lapangan. Bisa
saja masih terdapat bantuan yang belum sepenuhnya tepat sasaran. Bisa pula
terdapat masyarakat yang seharusnya mendapatkan bantuan tetapi belum
terjangkau.
Persoalannya bukan semata-mata apakah pemerintah telah menyediakan
program atau belum. Persoalan yang jauh lebih penting adalah apakah program
tersebut sampai kepada orang yang tepat, dalam jumlah yang memadai, pada waktu
yang tepat, dan benar-benar menghasilkan perubahan.
Karena itu, data penerima harus terus diperbaiki. Pendataan harus lebih
akurat. Pengawasan harus diperkuat. Masyarakat harus diberikan ruang untuk
menyampaikan keluhan. Dan yang tidak kalah penting, pelayanan pemerintah harus
semakin mudah, cepat, transparan, dan manusiawi. Jangan sampai orang miskin
harus menghadapi birokrasi yang panjang hanya untuk mendapatkan haknya.
Kemiskinan Tidak Akan
Hilang Hanya karena Pembangunan Semakin Ramai
Kita tentu patut menghargai pembangunan yang terus dilakukan.Tetapi
pembangunan yang megah tidak otomatis menghapus kemiskinan. Sebuah jalan yang
bagus akan semakin bermakna jika petani dapat menggunakannya untuk membawa
hasil panen ke pasar.
Internet akan semakin berarti jika anak desa dapat menggunakannya untuk
belajar dan pelaku UMKM menggunakannya untuk menjual produk. Koperasi akan
semakin bermakna jika mampu memperkuat ekonomi anggotanya.
Pembangunan perkampungan nelayan akan semakin berarti jika nelayan bukan
hanya memiliki tempat tinggal yang lebih baik, tetapi juga memperoleh
penghasilan yang meningkat.
Dan program pangan akan semakin bermakna apabila sekaligus memperkuat
kesejahteraan mereka yang memproduksi pangan.
Inilah hubungan antara pembangunan dan pengentasan kemiskinan:
pembangunan harus menciptakan peluang, dan peluang harus dapat diakses oleh
rakyat kecil.
Negara Hadir, Rakyat
Berdaya
Pemerintah memang memiliki keterbatasan. Anggaran tidak pernah tak terbatas. Wilayah Indonesia
sangat luas. Persoalan masyarakat sangat beragam. Karena itu, tidak semua
persoalan dapat diselesaikan sekaligus. Namun arah kebijakannya harus jelas:
yang lemah harus dilindungi, yang miskin harus diberdayakan, dan yang
mampu harus diberi ruang untuk berkembang.
Efisiensi anggaran, peningkatan kualitas pelayanan, pemberantasan
korupsi, perbaikan data, dan pengawasan bantuan menjadi bagian penting dari upaya
tersebut.
Pada akhirnya, mengentaskan kemiskinan bukan hanya tugas pemerintah. Masyarakat,
dunia usaha, lembaga pendidikan, organisasi sosial, dan seluruh elemen bangsa
memiliki peran. Tetapi negara tetap mempunyai posisi yang sangat menentukan.
Negara harus memastikan bahwa pembangunan tidak hanya menghasilkan
pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menghasilkan kesempatan yang lebih adil.
Sebab tujuan akhir pembangunan bukan sekadar membuat Indonesia terlihat semakin
maju.
Tujuan akhirnya adalah membuat rakyat Indonesia benar-benar merasa
lebih sejahtera Dan ukuran paling nyata dari keberhasilan pembangunan
mungkin sederhana:
ketika seorang anak miskin memiliki kesempatan belajar, ketika seorang
ibu memiliki penghasilan yang layak, ketika seorang ayah memperoleh pekerjaan
yang bermartabat, ketika petani dan nelayan mendapatkan hasil yang adil dari
jerih payahnya, dan ketika sebuah keluarga akhirnya mampu berkata:
“Kami tidak lagi hanya menerima bantuan. Kami sudah mampu berdiri
sendiri.” Di situlah pembangunan menemukan maknanya. Pembangunan yang
sesungguhnya adalah pembangunan yang mampu mengubah kehidupan manusia.

No comments:
Post a Comment