Showing posts with label prabowo Bapak Perubahan. Show all posts
Showing posts with label prabowo Bapak Perubahan. Show all posts

August 23, 2026

Prabowo Bapak Perubahan, Menuju Indonesia Lebih Sejahtera


Oleh  Harmen Batubara 

Ada satu hal yang menarik perhatian saya dari perjalanan Prabowo Subianto: ia tampaknya selalu mempunyai keberanian untuk membayangkan sesuatu yang lebih besar daripada keadaan yang sedang dihadapinya.

Karena itu, ketika hari ini ada yang menyebut Prabowo sebagai “Bapak Perubahan”, bagi saya istilah itu bukan semata-mata slogan politik. Ia harus dilihat dari keberanian mengambil keputusan, membangun institusi baru, mengubah tata kelola, dan mencoba memecahkan persoalan yang selama bertahun-tahun dianggap sulit.

Tentu saja, perubahan tidak cukup hanya dengan gagasan. Perubahan harus dibuktikan dengan kerja, kebijakan, dan hasil yang dapat dirasakan masyarakat.

Dan di situlah saya melihat perjalanan pemerintahan Prabowo mulai menarik untuk diperhatikan.

121 Kebijakan dalam 21 Bulan

Dalam Pidato Kenegaraan pada 14 Agustus 2026, Presiden Prabowo menyampaikan sebuah angka yang cukup mencengangkan. Dalam 21 bulan atau 663 hari, pemerintah telah memutuskan dan menjalankan 121 kebijakan transformatif untuk menyelesaikan berbagai persoalan negara. Jika dihitung rata-rata, berarti sekitar satu kebijakan transformatif setiap lima hari. (Setneg)

Angka tersebut tentu bukan berarti seluruh persoalan bangsa sudah selesai. Justru sebaliknya. Angka itu menunjukkan kecepatan pemerintah dalam mengambil keputusan dan mencoba mengubah sesuatu yang selama ini berjalan dengan cara lama. Bagi saya, inilah bagian yang menarik.

Sebab bangsa besar tidak hanya membutuhkan pemimpin yang pandai menjelaskan masalah. Bangsa besar membutuhkan pemimpin yang berani mengambil keputusan untuk menyelesaikan masalah.

Presiden sendiri mengingatkan bahwa capaian tersebut bukan alasan untuk berpuas diri. Kemerdekaan, menurutnya, bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan, tetapi sesuatu yang harus benar-benar dirasakan rakyat. (Setneg)

Kalimat itu penting. Karena pada akhirnya, ukuran keberhasilan seorang pemimpin bukan seberapa banyak kebijakan yang dibuat, tetapi seberapa jauh perubahan itu memperbaiki kehidupan rakyat.

Dari Mimpi Menjadi Kebijakan

Saya mengikuti perjalanan Prabowo sejak ia masih berada dalam dunia militer. Yang saya lihat sejak dahulu adalah seorang prajurit yang memiliki kecenderungan berpikir melampaui keterbatasan yang ada.

Ketika berada di Kopassus, misalnya, kebutuhan mobilitas pasukan di medan operasi menjadi persoalan serius. Gagasan untuk memperkuat kemampuan penerbangan bagi satuan khusus pada zamannya tentu bukan gagasan sederhana.

Kemudian dalam Operasi Mapenduma tahun 1996, Prabowo tercatat memimpin Kopassus dalam operasi pembebasan sandera di Papua. (Museum Kopassus) Saya tidak ingin menghakimi seluruh perjalanan masa lalu itu hanya dari satu sudut pandang.

Namun bagi saya, ada satu pelajaran yang menarik: Prabowo sejak dahulu terbiasa berpikir tentang bagaimana keterbatasan dapat ditembus dengan kemampuan, keberanian, dan kerja sama.

Kini situasinya berbeda. Ia tidak lagi memimpin sebuah satuan. Ia memimpin sebuah negara. Dan sebagai Presiden, ruang untuk mewujudkan gagasan itu tentu jauh lebih besar—tetapi sekaligus tanggung jawabnya juga jauh lebih berat.


Ketika Mimpi Masuk ke Ruang Pemerintahan

Hari ini kita melihat sejumlah gagasan besar mulai masuk ke dalam kebijakan negara. Ada Danantara, ada hilirisasi, swasembada pangan, swasembada energi, Makan Bergizi Gratis, koperasi desa, Kampung Nelayan, serta berbagai program penguatan ekonomi masyarakat.

Salah satu perubahan yang menurut saya cukup strategis adalah pembentukan PT Danantara Sumber Daya Indonesia (DSI) untuk memperkuat tata kelola ekspor komoditas sumber daya alam strategis melalui sistem ekspor satu pintu.

Pemerintah menjelaskan bahwa tahap awal kebijakan tersebut mencakup batu bara, kelapa sawit, dan ferro alloy, dengan tujuan antara lain memperkuat transparansi, pengawasan, serta pengelolaan devisa hasil ekspor. (Kementerian Ekononomi)

Presiden bahkan menjelaskan bahwa melalui sistem tersebut negara ingin mengetahui dengan lebih baik apa yang diekspor, kepada siapa dijual, berapa harga sebenarnya, dan berapa devisa yang seharusnya kembali ke Indonesia. (Presiden RI)

Bagi saya, inilah bentuk perubahan yang sangat penting. Sebab kekayaan alam Indonesia jangan hanya membuat Indonesia kaya secara statistik, tetapi harus semakin mampu menciptakan nilai tambah, lapangan kerja, penerimaan negara, dan kesejahteraan bagi rakyat Indonesia.

Dari Swasembada Pangan sampai Energi

Dalam pidatonya, Prabowo juga menyampaikan capaian yang patut diperhatikan.Pemerintah menyatakan Indonesia telah mencapai swasembada pada delapan komoditas utama, yaitu beras, jagung, gula konsumsi, daging ayam, telur ayam, bawang merah, cabai besar, dan cabai rawit.

Pemerintah juga menyatakan swasembada pangan berhasil dicapai hanya dalam satu tahun, lebih cepat dari target awal empat tahun. Dalam prosesnya, 145 aturan birokrasi penyaluran pupuk dihapus dan harga pupuk disebut turun sekitar 20 persen. (Setneg)

Di sektor energi, pemerintah menyampaikan bahwa sejak 1 Juli 2026 Indonesia tidak lagi mengimpor solar, setelah produksi diesel berbasis B50 diperkuat. Presiden menyebut langkah tersebut berpotensi menghemat devisa sekitar Rp170 triliun atau sekitar US$9,5 miliar. (Setneg)

Tentu angka-angka tersebut harus terus diuji melalui pelaksanaan dan evaluasi di lapangan. Tetapi setidaknya arah kebijakannya jelas:

Indonesia ingin lebih mandiri dalam pangan dan energi. Dan menurut saya, kemandirian seperti inilah yang seharusnya menjadi fondasi Indonesia yang lebih sejahtera.

Bahkan Tanah Suci Pun Menjadi Bagian dari Gagasan

Ada pula gagasan yang mungkin tidak langsung berkaitan dengan pertumbuhan ekonomi, tetapi memiliki arti khusus bagi masyarakat Indonesia. Pemerintah tengah menyiapkan Kampung Haji Indonesia di Makkah.

Presiden menyampaikan bahwa Indonesia memperoleh kesempatan untuk memiliki lahan di Kota Makkah, sesuatu yang disebut sebagai penghormatan penting dari Kerajaan Arab Saudi. Pemerintah kemudian mengembangkan gagasan tersebut sebagai kawasan terpadu untuk meningkatkan pelayanan jamaah haji Indonesia. (Setneg)

Pada Agustus 2026, pemerintah juga melaporkan perkembangan perencanaan dan pembangunan kawasan tersebut. (Presiden RI)

Bagi saya, ini menunjukkan satu hal:

Prabowo ingin membangun bukan hanya infrastruktur fisik, tetapi juga sistem pelayanan yang menurutnya dapat memberi manfaat lebih besar bagi rakyat.


Perubahan Itu Pasti Menghadapi Perlawanan

Namun di sinilah tantangannya. Mengubah sebuah negara tidak seperti mengganti pakaian. Ada kepentingan yang sudah mengakar. Ada birokrasi yang sudah terbiasa dengan cara lama. Ada kelompok ekonomi yang sudah menikmati sistem lama. Ada pula praktik ilegal yang selama bertahun-tahun hidup karena lemahnya pengawasan.

Karena itu, ketika pemerintah mencoba memperbaiki tata kelola sumber daya alam, memberantas kebocoran, memperkuat pengawasan, atau mengubah sistem distribusi, tentu akan muncul resistensi. Saya melihat inilah salah satu medan paling berat yang sedang dihadapi Prabowo.

Perubahan selalu mempunyai biaya.

Dan seorang pemimpin harus siap membayar biaya politik dari keputusan yang diyakininya benar. Tetapi di sisi lain, pemerintah juga harus memastikan bahwa perang melawan korupsi, mafia, dan praktik ilegal dilakukan melalui hukum yang kuat, institusi yang bersih, bukti yang jelas, dan proses yang adil.

Jangan sampai semangat perubahan justru melahirkan ketidakpastian baru. Sebab negara hukum tidak boleh hanya kuat terhadap mereka yang lemah. Negara hukum harus kuat terhadap siapa pun.

Saya Ingin Melihat Mimpi Itu Menjadi Kenyataan

Inilah alasan mengapa saya pribadi tertarik mengikuti perjalanan Prabowo sebagai Presiden. Saya pernah melihat Prabowo dalam konteks yang berbeda—ketika ia masih seorang perwira dan berada dalam lingkungan yang menuntut keberanian mengambil keputusan. Kini saya ingin melihat sesuatu yang jauh lebih besar.

Apa yang sebenarnya ada di dalam mimpi seorang Prabowo tentang Indonesia?

Apakah Indonesia akan menjadi negara yang mampu mengolah kekayaan alamnya sendiri? Apakah Indonesia mampu memenuhi kebutuhan pangannya sendiri?

Apakah Indonesia mampu membangun ketahanan energi? Apakah rakyat kecil benar-benar memperoleh manfaat dari pertumbuhan ekonomi?

Apakah korupsi dan praktik ilegal dapat ditekan? Apakah birokrasi negara dapat berubah dari sekadar mengurus administrasi menjadi benar-benar melayani rakyat?

Dan yang paling penting:

Apakah semua perubahan itu pada akhirnya membuat rakyat Indonesia hidup lebih sejahtera? Saya kira, pertanyaan-pertanyaan itulah yang harus kita jawab bersama.

Bapak Perubahan, Bukan Berarti Tanpa Kekurangan

Saya menyebut Prabowo sebagai “Bapak Perubahan” bukan karena saya menganggap semua kebijakannya sempurna. Tidak ada pemerintahan yang sempurna. Tidak ada pemimpin yang selalu benar. Justru karena perubahan itu besar, maka ia membutuhkan pengawasan, kritik, koreksi, dan partisipasi masyarakat.

Saya percaya dukungan kepada seorang pemimpin tidak harus berarti kehilangan sikap kritis. Sebaliknya, kritik yang sehat bukan berarti membenci pemerintah. Kita bisa mendukung sesuatu yang baik, mengkritik sesuatu yang kurang baik, dan tetap berharap pemerintah berhasil. Bagi saya, itulah sikap yang paling dewasa dalam kehidupan berbangsa.

Prabowo memiliki kesempatan yang sangat besar untuk membuktikan bahwa gagasan-gagasan besar yang selama ini ada dalam pikirannya benar-benar dapat diwujudkan menjadi kekuatan Indonesia.

Ia telah berada di berbagai medan kehidupan. Dari medan pengabdian militer, dunia usaha, politik, hingga akhirnya memimpin pemerintahan. Kini medan terbesarnya adalah Indonesia itu sendiri. Dan Indonesia membutuhkan lebih dari sekadar slogan perubahan.

Indonesia membutuhkan perubahan yang terukur, berani, adil, berkelanjutan, dan dirasakan rakyat. Jika itu mampu diwujudkan, maka sebutan “Bapak Perubahan” bukan lagi sekadar sebuah ungkapan. Ia akan menjadi sebuah catatan sejarah. Dan saya ingin melihatnya. Bukan sekadar karena saya pernah mengenal perjalanan Prabowo dari dekat sebagai seorang prajurit. Tetapi karena saya adalah bagian dari bangsa ini.

Saya ingin melihat Indonesia menjadi lebih kuat. Saya ingin melihat rakyatnya lebih sejahtera. Dan saya ingin melihat mimpi besar tentang Indonesia benar-benar menjadi kenyataan.

Karena pada akhirnya, ukuran terbesar dari sebuah perubahan bukanlah seberapa besar seorang pemimpin bermimpi. Ukuran terbesarnya adalah seberapa jauh rakyat merasakan manfaat dari mimpi itu.