Oleh Harmen Batubara
Kegagalan dan keberhasilan sebenarnya bisa datang kepada siapa saja.
Keduanya adalah bagian biasa dari kehidupan. Tetapi bagi anak-anak yang lahir
di desa tertinggal atau daerah perbatasan, persoalannya sering kali bukan soal
gagal atau berhasil. Persoalan utamanya adalah: apakah mereka sempat memperoleh
pendidikan atau tidak.
Di kampungku dulu, sekolah bukan sesuatu yang mudah dijangkau. Banyak
teman sebayaku akhirnya berhenti sekolah sejak kecil. Sebagian membantu orang
tua di kebun, sebagian lagi memilih merantau entah ke mana. Hidup seolah sudah
ditentukan sejak awal: tumbuh, bekerja, menikah, lalu menjalani kehidupan
kampung apa adanya.
Aku sendiri menjalani sekolah seperti menjalani rutinitas biasa. Pagi
bersekolah di Sekolah Rakyat, siangnya belajar di sekolah agama. Orang tuaku
tidak pernah memaksa keras, tetapi aku tahu mereka berharap aku tetap belajar
meski dalam segala keterbatasan.
Waktu itu aku bahkan tidak pernah membayangkan akan melanjutkan sekolah setelah
tamat SD. Untuk menuju SMP saja jaraknya bisa puluhan kilometer. Biaya kost
terasa seperti sesuatu yang mustahil dipikirkan oleh keluarga kampung seperti
kami. Pilihan anak muda di desa ketika itu hanya dua: merantau atau tinggal di
kampung meneruskan kehidupan orang tua.
Ada beberapa anak kampung yang sempat mencoba sekolah hingga SMK. Namun
banyak yang akhirnya gagal bertahan. Orang tua mereka sudah menjual sawah atau
tanah demi biaya sekolah, tetapi keadaan sering kali lebih kuat daripada
harapan. Bukan karena mereka malas, melainkan karena hidup memang terlalu berat
untuk dilawan.
Keluar Dari Desa Dibawa Takdir
Karena itulah, ketika aku akhirnya diterima di Universitas Gadjah Mada
Yogyakarta tanpa beasiswa dan tanpa biaya dari orang tua, sampai hari ini aku
merasa itu bukan semata-mata karena kepintaran. Aku tidak pernah merasa menjadi
anak yang sangat pintar. Aku hanya anak kampung yang ulet. Anak yang percaya
bahwa setiap persiapan harus dilakukan sungguh-sungguh, seolah tidak ada
pilihan lain selain berjuang.
Tidak semua orang bisa memahami arti sebuah desa tertinggal. Sebab untuk
benar-benar memahami ketertinggalan, seseorang harus pernah melihatnya secara
dekat.
Desa tertinggal itu jauh dari mana-mana. Untuk mencapainya, orang harus
berjalan kaki berjam-jam, bahkan satu sampai dua hari perjalanan karena jalan
belum tersedia. Di sepanjang perjalanan hanya ada hutan, semak belukar, dan
suara alam. Tidak ada warung, tidak ada kendaraan, tidak ada keramaian.
Ketika akhirnya sampai, tampaklah sebuah kampung sederhana yang hidup
dengan segala keterbatasannya.
Warung memang ada, tetapi isinya hanya kebutuhan paling dasar: beras,
garam, minyak tanah, mi instan, gula, dan permen anak-anak. Rokok pun lebih
banyak berupa tembakau linting. Selebihnya, masyarakat hidup dengan cara saling
membantu dan kadang bertukar barang. Kelapa bisa ditukar minyak tanah. Hasil
kebun bisa ditukar kebutuhan dapur. Begitulah kehidupan berjalan.
Aku masih sangat ingat kampungku: Aekgarugur, di Tapanuli Selatan,
Sumatera Utara, pada tahun-tahun 1960-an. Sebuah kampung kecil di kaki Bukit
Barisan, yang dihubungkan jalan tanah dari jalan raya provinsi menuju Sipotang
Niari. Jalannya melewati hutan, kebun, dan persawahan.
Di mataku, Aekgarugur adalah kampung yang sangat indah.
Jika berdiri di Jembatan Sayurmatinggi lalu memandang mengikuti aliran
Sungai Batang Angkola ke arah hilir, maka akan terlihat desa itu—tenang di
antara aliran sungai dan perbukitan hijau. Kampung itu diapit Sungai Batang
Angkola dan perbukitan Dalan Aek Lamo, sementara rura Aekgarugur mengalir kecil
membelah lereng-lereng kampung.
Air adalah bagian penting kehidupan kami.
Di sepanjang kampung terdapat tujuh tempat pemandian utama. Ada
pemandian khusus ibu-ibu, lengkap dengan mushala kecil dan jalan bertangga dari
batu menuju sungai. Ada pula pemandian lelaki, serta beberapa tempat mandi
anak-anak dan remaja yang selalu ramai oleh suara tawa.
Tiga pemandian lainnya berasal dari mata air Aekgarugur sendiri. Air
pancuran yang jernih itu bukan hanya tempat mandi, tetapi juga tempat mengambil
air minum. Pada masa itu belum ada MCK. Sungai menjadi bagian dari kehidupan
sehari-hari masyarakat.
Aekgarugur juga memiliki dua lapangan bola yang sangat kami cintai.
Yang pertama sebenarnya hanyalah halaman tempat menjemur padi milik
penggilingan beras di dekat Pancur Koje. Saat tidak dipakai menjemur padi,
tempat itu berubah menjadi lapangan bola paling menyenangkan bagi anak-anak
kampung. Pohon Koje besar berdiri menaungi area itu seperti penjaga tua yang
setia.
Lapangan kedua berada di pinggir Sungai Batang Angkola. Setelah bermain
bola, kami biasanya langsung melompat ke sungai untuk mandi dan berenang.
Karena berada di tepian sungai, tak ada orang yang berani mendirikan rumah di
sana. Maka lapangan itu menjadi milik anak-anak kampung.
Di sekitar lapangan tumbuh pohon-pohon besar: kelapa, langsat, mangga,
kuini, embacang, manggis, belimbing, hingga ampolu. Burung-burung datang
hinggap setiap pagi. Tupai berlarian di dahan, kadang kera juga terlihat
melintas.
Kampung kami sangat teduh.
Kalau ingin beristirahat, cukup membawa tikar dan bantal ke bawah pohon.
Angin pegunungan akan datang perlahan menyapa tubuh. Saat musim buah tiba,
kebahagiaan terasa begitu sederhana. Hampir semua orang kebagian buah.
Mata pencaharian masyarakat waktu itu adalah berkebun karet dan bertani.
Kebun-kebun karet rakyat membentang mengelilingi kampung. Keluargaku sendiri
memiliki beberapa kebun yang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah.
Sedangkan sawah berada lebih jauh, sekitar tiga sampai enam kilometer
dari perkampungan.
Belum ada kendaraan umum saat itu. Yang ada hanyalah pedati yang ditarik
kerbau dan kuda beban. Maka setiap pagi masyarakat berjalan kaki ke sawah.
Berangkat selepas subuh dan pulang menjelang petang.
Pada musim turun sawah, jalanan kampung menjadi sangat hidup.
Dari pukul enam sampai delapan pagi, orang-orang berjalan beriringan
menuju sawah. Para remaja biasanya berdandan rapi meski hanya hendak bekerja di
lumpur sawah. Ada tawa, gurauan, dan semangat hidup yang sederhana tetapi
hangat.
Sore harinya, pemandangan yang sama kembali terlihat. Orang-orang pulang
bersama-sama dengan langkah lelah namun wajah yang tetap cerah.
Jika hujan turun, mereka memakai payung dari daun pisang. Tubuh basah
kuyup, kaki penuh lumpur, tetapi entah mengapa semua itu tetap tampak indah.
Kini setelah puluhan tahun berlalu, aku sering menyadari bahwa kampung
seperti Aekgarugur mungkin sederhana di mata banyak orang. Tetapi dari kampung
sederhana itulah aku belajar tentang ketabahan, kerja keras, kesederhanaan, dan
harapan.
Dan mungkin, justru karena tumbuh dari keterbatasan itulah aku belajar
untuk tidak mudah menyerah pada kehidupan.



