May 29, 2026

Masa Kecil di Aekgarugur, Kaki Bukit Barisan

 


Oleh Harmen Batubara 

Kegagalan dan keberhasilan sebenarnya bisa datang kepada siapa saja. Keduanya adalah bagian biasa dari kehidupan. Tetapi bagi anak-anak yang lahir di desa tertinggal atau daerah perbatasan, persoalannya sering kali bukan soal gagal atau berhasil. Persoalan utamanya adalah: apakah mereka sempat memperoleh pendidikan atau tidak.

Di kampungku dulu, sekolah bukan sesuatu yang mudah dijangkau. Banyak teman sebayaku akhirnya berhenti sekolah sejak kecil. Sebagian membantu orang tua di kebun, sebagian lagi memilih merantau entah ke mana. Hidup seolah sudah ditentukan sejak awal: tumbuh, bekerja, menikah, lalu menjalani kehidupan kampung apa adanya.

Aku sendiri menjalani sekolah seperti menjalani rutinitas biasa. Pagi bersekolah di Sekolah Rakyat, siangnya belajar di sekolah agama. Orang tuaku tidak pernah memaksa keras, tetapi aku tahu mereka berharap aku tetap belajar meski dalam segala keterbatasan.

Waktu itu aku bahkan tidak pernah membayangkan akan melanjutkan sekolah setelah tamat SD. Untuk menuju SMP saja jaraknya bisa puluhan kilometer. Biaya kost terasa seperti sesuatu yang mustahil dipikirkan oleh keluarga kampung seperti kami. Pilihan anak muda di desa ketika itu hanya dua: merantau atau tinggal di kampung meneruskan kehidupan orang tua.

Ada beberapa anak kampung yang sempat mencoba sekolah hingga SMK. Namun banyak yang akhirnya gagal bertahan. Orang tua mereka sudah menjual sawah atau tanah demi biaya sekolah, tetapi keadaan sering kali lebih kuat daripada harapan. Bukan karena mereka malas, melainkan karena hidup memang terlalu berat untuk dilawan.

Keluar Dari Desa Dibawa Takdir 

Karena itulah, ketika aku akhirnya diterima di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta tanpa beasiswa dan tanpa biaya dari orang tua, sampai hari ini aku merasa itu bukan semata-mata karena kepintaran. Aku tidak pernah merasa menjadi anak yang sangat pintar. Aku hanya anak kampung yang ulet. Anak yang percaya bahwa setiap persiapan harus dilakukan sungguh-sungguh, seolah tidak ada pilihan lain selain berjuang.

Tidak semua orang bisa memahami arti sebuah desa tertinggal. Sebab untuk benar-benar memahami ketertinggalan, seseorang harus pernah melihatnya secara dekat.

Desa tertinggal itu jauh dari mana-mana. Untuk mencapainya, orang harus berjalan kaki berjam-jam, bahkan satu sampai dua hari perjalanan karena jalan belum tersedia. Di sepanjang perjalanan hanya ada hutan, semak belukar, dan suara alam. Tidak ada warung, tidak ada kendaraan, tidak ada keramaian.

Ketika akhirnya sampai, tampaklah sebuah kampung sederhana yang hidup dengan segala keterbatasannya.

Warung memang ada, tetapi isinya hanya kebutuhan paling dasar: beras, garam, minyak tanah, mi instan, gula, dan permen anak-anak. Rokok pun lebih banyak berupa tembakau linting. Selebihnya, masyarakat hidup dengan cara saling membantu dan kadang bertukar barang. Kelapa bisa ditukar minyak tanah. Hasil kebun bisa ditukar kebutuhan dapur. Begitulah kehidupan berjalan.

Aku masih sangat ingat kampungku: Aekgarugur, di Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, pada tahun-tahun 1960-an. Sebuah kampung kecil di kaki Bukit Barisan, yang dihubungkan jalan tanah dari jalan raya provinsi menuju Sipotang Niari. Jalannya melewati hutan, kebun, dan persawahan.


Di mataku, Aekgarugur adalah kampung yang sangat indah.

Jika berdiri di Jembatan Sayurmatinggi lalu memandang mengikuti aliran Sungai Batang Angkola ke arah hilir, maka akan terlihat desa itu—tenang di antara aliran sungai dan perbukitan hijau. Kampung itu diapit Sungai Batang Angkola dan perbukitan Dalan Aek Lamo, sementara rura Aekgarugur mengalir kecil membelah lereng-lereng kampung.

Air adalah bagian penting kehidupan kami.

Di sepanjang kampung terdapat tujuh tempat pemandian utama. Ada pemandian khusus ibu-ibu, lengkap dengan mushala kecil dan jalan bertangga dari batu menuju sungai. Ada pula pemandian lelaki, serta beberapa tempat mandi anak-anak dan remaja yang selalu ramai oleh suara tawa.

Tiga pemandian lainnya berasal dari mata air Aekgarugur sendiri. Air pancuran yang jernih itu bukan hanya tempat mandi, tetapi juga tempat mengambil air minum. Pada masa itu belum ada MCK. Sungai menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat.



Aekgarugur juga memiliki dua lapangan bola yang sangat kami cintai.

Yang pertama sebenarnya hanyalah halaman tempat menjemur padi milik penggilingan beras di dekat Pancur Koje. Saat tidak dipakai menjemur padi, tempat itu berubah menjadi lapangan bola paling menyenangkan bagi anak-anak kampung. Pohon Koje besar berdiri menaungi area itu seperti penjaga tua yang setia.

Lapangan kedua berada di pinggir Sungai Batang Angkola. Setelah bermain bola, kami biasanya langsung melompat ke sungai untuk mandi dan berenang. Karena berada di tepian sungai, tak ada orang yang berani mendirikan rumah di sana. Maka lapangan itu menjadi milik anak-anak kampung.

Di sekitar lapangan tumbuh pohon-pohon besar: kelapa, langsat, mangga, kuini, embacang, manggis, belimbing, hingga ampolu. Burung-burung datang hinggap setiap pagi. Tupai berlarian di dahan, kadang kera juga terlihat melintas.

Kampung kami sangat teduh.

Kalau ingin beristirahat, cukup membawa tikar dan bantal ke bawah pohon. Angin pegunungan akan datang perlahan menyapa tubuh. Saat musim buah tiba, kebahagiaan terasa begitu sederhana. Hampir semua orang kebagian buah.

Mata pencaharian masyarakat waktu itu adalah berkebun karet dan bertani. Kebun-kebun karet rakyat membentang mengelilingi kampung. Keluargaku sendiri memiliki beberapa kebun yang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah.

Sedangkan sawah berada lebih jauh, sekitar tiga sampai enam kilometer dari perkampungan.

Belum ada kendaraan umum saat itu. Yang ada hanyalah pedati yang ditarik kerbau dan kuda beban. Maka setiap pagi masyarakat berjalan kaki ke sawah. Berangkat selepas subuh dan pulang menjelang petang.

Pada musim turun sawah, jalanan kampung menjadi sangat hidup.

Dari pukul enam sampai delapan pagi, orang-orang berjalan beriringan menuju sawah. Para remaja biasanya berdandan rapi meski hanya hendak bekerja di lumpur sawah. Ada tawa, gurauan, dan semangat hidup yang sederhana tetapi hangat.

Sore harinya, pemandangan yang sama kembali terlihat. Orang-orang pulang bersama-sama dengan langkah lelah namun wajah yang tetap cerah.

Jika hujan turun, mereka memakai payung dari daun pisang. Tubuh basah kuyup, kaki penuh lumpur, tetapi entah mengapa semua itu tetap tampak indah.

Kini setelah puluhan tahun berlalu, aku sering menyadari bahwa kampung seperti Aekgarugur mungkin sederhana di mata banyak orang. Tetapi dari kampung sederhana itulah aku belajar tentang ketabahan, kerja keras, kesederhanaan, dan harapan.

Dan mungkin, justru karena tumbuh dari keterbatasan itulah aku belajar untuk tidak mudah menyerah pada kehidupan.




May 19, 2026

Mampukah Amerika Mempertahankan Supremasi Petro Dollarnya?

 


Oleh   Harmen Batubara 

Dinamika geopolitik global saat ini tengah menyaksikan guncangan hebat di jantung pasokan energi dunia. Ketegangan bersenjata antara poros Amerika Serikat-Israel melawan Iran bukan lagi sekadar konflik regional demi perebutan pengaruh teritorial. Jauh di bawah permukaan, perang ini adalah benturan eksistensial antara dua sistem finansial global: Petro Dollar yang mewakili tatanan lama pimpinan Barat, melawan Petro Yuan yang digerakkan oleh kebangkitan raksasa baru di Timur.

Gagalnya Ambisi "Make America Great Again" dan Penaklukan Iran

Ketika Donald Trump kembali ke panggung kekuasaan dengan narasi besar memperkuat Petro Dollar dan mewujudkan Make America Great Again (MAGA), strategi yang dipilih adalah "tekanan maksimum" (maximum pressure). Tujuan strategisnya jelas: menaklukkan pertahanan ekonomi dan militer Iran, memastikan seluruh urat nadi energi Timur Tengah tetap berada dalam kendali Washington, dan memaksa dunia untuk terus tunduk pada dominasi finansial Amerika Serikat.

Namun, di medan kenyataan, ambisi tersebut membentur dinding kalkulasi yang keliru. Blokade maritim, sanksi finansial sepihak, hingga serangan militer langsung ke infrastruktur Iran tidak membuat Teheran bertekuk lutut. Alih-alih mengamankan hegemoni dolar, konfrontasi ini justru menjadi katalis yang mempercepat keruntuhannya.


Selat Hormuz: Senjata Pamungkas yang Mengubah Arah Angin

Fakta di lapangan menunjukkan bahwa Perang Amerika-Israel melawan Iran justru membuka ruang bagi China untuk muncul sebagai kekuatan adidaya baru. Iran memanfaatkan posisi geografisnya yang krusial dengan menjadikan Selat Hormuz sebagai senjata pamungkas.

Sebagai jalur ziarah bagi sepertiga minyak mentah maritim dunia, Selat Hormuz tidak hanya menjadi sumber pemasukan lewat penerapan tarif transit bersyarat bagi kapal-kapal tanker, tetapi juga menjadi instrumen pemaksa geopolitik. Iran mulai menetapkan aturan baru yang berani: kapal-kapal yang ingin melintas dengan aman harus melakukan penyelesaian pembayaran (settlement) menggunakan mata uang non-dolar, khususnya Yuan China. Akibatnya, negara-negara Teluk seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab menyadari bahwa mereka tidak bisa lagi menggantungkan keamanan mutlak mereka pada payung militer Amerika Serikat.

 Benturan Dua Pilar Global Petro Dollar VS Petro Yuan

Peta persaingan hari ini memperlihatkan polarisasi yang sangat kontras antara dua kekuatan besar:

Karakteristik

Blok Petro Dollar

Blok Petro Yuan

Pilar Utama

Amerika Serikat, NATO, dan Sekutu Arab tradisional.

China, Rusia, Iran, dan aliansi BRICS yang meluas.

Infrastruktur Strategis

Sistem keuangan SWIFT, komando militer regional (CENTCOM), dan pakta keamanan 1974.

Belt and Road Initiative (BRI), Silk Road Economic Belt, dan Maritime Silk Road.

Kelemahan Finansial

Senjata sanksi yang berlebihan memicu hilangnya kepercayaan global terhadap obligasi AS.

Infrastruktur mBridge dan currency swap yang memotong jalur kliring perbankan Barat.

Di tengah kebuntuan perang ini, opini publik di dalam negeri Amerika Serikat mulai terbelah. Dunia kini menanti dengan cemas: apakah kepemimpinan Trump mampu menarik pasukannya dengan terhormat dari lingkaran setan perang Timur Tengah, ataukah tekanan ekonomi domestik akibat inflasi energi akan berujung pada krisis politik domestik yang memicu pemakzulan oleh rakyatnya sendiri. Satu hal yang pasti, era absolut Petro Dollar kini tengah memudar. China, Rusia, dan Iran secara perlahan namun pasti mulai menata kembali peradaban ekonomi baru di Timur Tengah.


Pencerahan dan Jalan Keluar yang Elegan

Bagaimanakah dunia, dan khususnya Amerika Serikat, menghadapi transisi sejarah ini tanpa harus menyeret kemanusiaan ke dalam Perang Dunia Ketiga? Jalan keluar yang elegan tidak akan ditemukan di ujung laras senapan, melainkan melalui rekonsiliasi multipolar.

Bagi Amerika Serikat: Diplomasi Finansial Berbasis Nilai, Bukan Sanksi

Amerika Serikat harus menerima realitas bahwa dunia abad ke-21 tidak bisa lagi dipimpin secara unipolar. Jalan keluar yang elegan bagi Washington adalah menghentikan "pemenjaraan ekonomi" melalui sanksi SWIFT yang justru membuat negara lain ketakutan dan mencari alternatif. AS perlu mereformasi dolarnya agar kembali menarik sebagai instrumen investasi yang stabil secara organik, bukan karena paksaan militer. Menarik pasukan dari konflik Iran dan beralih ke meja perundingan multilateral (seperti melanjutkan gencatan senjata jangka panjang) adalah langkah penyelamatan ekonomi domestik yang paling realistis.

Bagi China dan Blok Timur: Membangun Multilateralisme yang Inklusif

Petro Yuan tidak boleh dibangun sebagai tirani baru yang menggantikan Petro Dollar. Kebangkitan perekonomian berbasis Belt and Road Initiative harus mengedepankan transparansi dan penghormatan terhadap kedaulatan negara-negara berkembang. Integrasi moneter global harus berbentuk diversifikasi, di mana Dolar, Yuan, Euro, dan emas dapat hidup berdampingan secara adil untuk menyeimbangkan perdagangan internasional.

Bagi Negara-Negara Teluk dan Dunia Ketiga (Termasuk Indonesia)

Jalan tengah yang paling elegan adalah mempraktikkan kebijakan hedging strategis dan mengadopsi konsep Local Currency Settlement (LCS). Negara-negara berkembang tidak boleh terjebak memilih salah satu kubu. Dengan menyebarkan cadangan devisa ke dalam berbagai mata uang (Yuan, Dolar, Emas, dan mata uang regional), dunia akan menciptakan sistem finansial yang lebih kebal dari guncangan geopolitik satu negara adidaya.

Kita Ingin Mengatakan

Supremasi mutlak Petro Dollar mungkin tidak akan pernah kembali ke puncaknya, namun itu bukanlah akhir dari peradaban Barat jika mereka memilih jalur adaptasi. Pencerahan sejati dari krisis ini adalah bahwa perdamaian dan stabilitas energi global hanya bisa dicapai ketika Timur dan Barat duduk sejajar, mengakui bahwa tidak ada satu pun mata uang atau bangsa yang berhak menguasai hajat hidup seluruh umat manusia di bumi.

 



May 14, 2026

Kunjungan Trump Ke Beijing dan Posisi China dalam Konflik Timur Tengah

 Oleh Harmen Batubara

Dunia menyaksikan sebuah pemandangan kontras saat Air Force One mendarat di Beijing pada Rabu malam, 13 Mei 2026. Presiden Donald Trump melangkah keluar dengan retorika kedigdayaan yang tidak pudar, didampingi oleh delegasi "kelas berat" termasuk CEO Tesla dan SpaceX, Elon Musk, serta bos Nvidia, Jensen Huang. Di permukaan, atmosfer ini menyiratkan kekuatan absolut Amerika; namun, di balik jabat tangan formal di Balai Besar Rakyat, terdapat realitas yang jauh lebih rumit terkait kebuntuan militer di Timur Tengah.

Kedigdayaan yang Terbentur di Iran

Kunjungan ini berlangsung hanya satu minggu setelah gencatan senjata rapuh disepakati dalam konflik Amerika-Israel vs Iran. Meskipun operasi "Epic Fury" yang dimulai Februari lalu berhasil mengguncang struktur kepemimpinan Teheran, faktanya Iran tidak berhasil "ditaklukkan" sepenuhnya. Militer Amerika dan Israel gagal memaksakan rezim baru atau menghentikan total program nuklir Iran sesuai rencana awal.

Ketidakmampuan ini menciptakan ironi dalam diplomasi Trump di Beijing:

Aroma Kedigdayaan: Trump tetap tampil sebagai pemimpin "pemenang", menggunakan kehadiran tokoh seperti Musk untuk menegaskan dominasi teknologi dan ekonomi AS.

Realitas Lapangan: Kegagalan militer untuk menundukkan Iran secara total membuat posisi tawar AS terhadap China sedikit bergeser. China kini memegang kartu penting sebagai mediator dan "pelampung" ekonomi bagi Iran.


Minyak Iran dan Standar Ganda China

Salah satu agenda panas dalam pertemuan 13-15 Mei ini adalah peran China sebagai pembeli utama minyak Iran. Di tengah blokade Selat Hormuz, Beijing tetap menjadi lifeline bagi Teheran, mengabaikan sanksi AS demi mengamankan pasokan energinya.

Secara eksplisit, Trump menyatakan bahwa ia tidak membutuhkan bantuan China untuk menangani Iran. Namun, pernyataan ini lebih terdengar sebagai upaya menjaga gengsi di depan publik global. Faktanya, kehadiran delegasi bisnis AS menunjukkan bahwa Washington sedang mencoba "membujuk" Beijing melalui jalur ekonomi agar perlahan melepaskan ketergantungannya pada energi Iran, ketimbang menggunakan ancaman militer yang baru saja terbukti tidak mencapai hasil maksimal.

Pencerahan yang Dapat Diambil

Pertemuan antara Xi Jinping dan Donald Trump ini memberikan beberapa pelajaran penting bagi peta kekuatan dunia:

Batas Kekuatan Militer: Bahkan koalisi Amerika-Israel dengan teknologi tercanggih pun memiliki batas saat menghadapi negara dengan ketahanan asimetris seperti Iran. Perang tidak lagi bisa dimenangkan hanya dengan serangan udara masif jika tidak ada penyelesaian politik yang kuat.


China Sebagai "Penyeimbang yang Dingin": Beijing menunjukkan bahwa mereka tidak perlu terlibat langsung dalam konflik bersenjata untuk mendapatkan keuntungan. Dengan tetap menjadi pembeli minyak Iran, China menempatkan dirinya sebagai pihak yang tidak bisa diabaikan oleh Amerika dalam penyelesaian konflik Timur Tengah.

Diplomasi Transaksional vs Ideologis: Trump membawa para CEO (Musk, Huang) bukan sekadar pengiring, melainkan sebagai alat tawar. Pesannya jelas: "Kami memiliki teknologi yang kalian butuhkan, jadi berhentilah mendukung musuh kami." Namun, selama China merasa kepentingan energinya terancam, mereka akan tetap bermain di dua kaki.

Kita Ingin Mengatakan

Kunjungan pertama dalam satu dekade ini menandai babak baru di mana perang fisik di Timur Tengah dan perang ekonomi di Asia Timur saling bertautan. Trump mungkin datang dengan gaya pemenang, namun di meja perundingan, posisi China yang tetap mengimpor minyak Iran adalah pengingat bahwa dominasi Amerika kini memiliki tandingan yang sangat pragmatis.