February 22, 2026

Board Of Piece – Pangung Trump Untuk Legitimasi Amerika Serikat di Era Baru

 Oleh   Harmen Batubara 

Sejarah Timur Tengah sering kali dibaca sebagai catatan panjang tentang bagaimana Washington memantapkan dirinya sebagai penguasa tunggal. Sejak era Shah Reza Pahlevi, ketika Iran masih menjadi sekutu terdekat AS dan negara pertama yang mengakui Israel, Amerika telah membangun pengaruhnya lewat dua poros utama: menjadikan Israel kekuatan militer tak tertandingi, dan memelihara konflik proksi yang membuat negara-negara Arab terjebak dalam ketergantungan keamanan pada Gedung Putih.

Namun, zaman berganti. Ketika China mulai masuk membawa angin perdamaian antara Arab Saudi dan Iran, Donald Trump melihat bahwa "skenario lama" butuh penyegaran. Ia ingin Amerika tetap menjadi penentu, namun dengan gaya baru yang lebih pragmatis dan transaksional. Di sinilah "Board of Peace" muncul sebagai instrumen baru untuk mengonsolidasikan legitimasi Amerika di era yang kian kompetitif ini.


Peran "Board of Peace": Antara Pembangunan dan Kekuasaan

"Board of Peace" bukan sekadar forum diskusi, melainkan motor penggerak dari visi Trump untuk menata ulang kawasan, khususnya Gaza. Peran utamanya meliputi:

Arsitek Rekonstruksi Gaza: Menyusun cetak biru untuk mengubah wilayah yang hancur menjadi kawasan modern, menjanjikan, dan terintegrasi secara ekonomi.

Mobilisator Modal: Mengarahkan "uang dan kekuatan" dari negara-negara Arab untuk mendanai pembangunan Palestina. Ini adalah strategi cerdik: pembangunan dilakukan dengan biaya mitra regional, namun di bawah supervisi kepemimpinan Amerika.

Penyeimbang Kekuatan: Menjaga agar ketegangan AS-Iran tidak meledak menjadi perang terbuka yang merugikan pasar, sembari tetap memastikan dominasi pengaruh Amerika tidak tergeser oleh aktor Timur lainnya.

Kehadiran Indonesia: Ketulusan di Tengah Kepentingan

Di tengah papan catur kekuasaan ini, Indonesia hadir membawa warna yang berbeda. Bergabungnya Indonesia didorong oleh semangat historis sebagai bangsa yang pernah terjajah dan mandat konstitusi untuk menghapuskan penjajahan di atas dunia.

Indonesia datang ke dalam lingkaran ini bukan untuk mencari dominasi, melainkan dengan ketulusan (ikhlas) untuk memastikan bahwa pembangunan Gaza benar-benar demi martabat bangsa Palestina. Indonesia berperan sebagai "suara hati" yang mengingatkan bahwa di balik modernitas dan uang yang mengalir, ada hak-hak kedaulatan yang harus tetap dijunjung tinggi.

Melihat Peluang demi Kawasan

Meskipun narasi utamanya adalah tentang legitimasi Amerika, "Board of Peace" membuka celah peluang bagi kawasan:

Transformasi Ekonomi: Mengubah narasi kawasan dari "medan perang" menjadi "pusat pertumbuhan" melalui pembangunan infrastruktur Gaza yang modern.

Stabilitas Baru: Mencoba meredam permusuhan berkepanjangan melalui ketergantungan ekonomi bersama (interdependensi).

Jembatan Diplomasi: Memberi ruang bagi negara seperti Indonesia untuk menjadi mediator yang menyeimbangkan kepentingan Barat dengan aspirasi dunia Islam dan kemanusiaan.

Pada akhirnya, panggung baru yang dibangun Trump ini tetap menempatkan Amerika sebagai sutradara. Namun, dengan keterlibatan aktif aktor-aktor yang membawa misi kemanusiaan murni, ada harapan bahwa hasil akhirnya bukan sekadar dominasi kekuasaan, melainkan kedamaian yang bisa dirasakan oleh mereka yang selama ini hanya menjadi penonton di tanah mereka sendiri.



 


February 16, 2026

Mengapa Program MBG Di protes, bahkan Minta Dibatalkan?

 


Oleh  Harmen Batubara

Di tengah deru mesin birokrasi dan diskusi ruang-ruang publik, sebuah pertanyaan tajam menyeruak: “Mengapa Program Makan Bergizi Gratis (MBG) diprotes, bahkan diminta untuk dibatalkan?”

Kritik adalah hal yang wajar, bahkan perlu. Masalah teknis seperti makanan yang basi, insiden keracunan, hingga mekanisme penunjukan pengelola yang dianggap terlalu menyederhanakan proses, memang menjadi peluru bagi para skeptis. Namun, jika kita sejenak menarik diri dari keriuhan teknis tersebut, kita akan menemukan sebuah visi yang jauh lebih besar dari sekadar sepiring nasi.

Sebuah Kontemplasi untuk Masa Depan

Program MBG bukanlah kebijakan yang lahir dari ruang kosong. Ia adalah hasil kontemplasi mendalam Presiden Prabowo Subianto dan timnya terhadap realitas pahit bangsa: stunting, kemiskinan, dan rapuhnya kualitas SDM di masa depan.


Bagaimana kita bisa bermimpi menjadi bangsa pemenang jika 83 juta anak-anak kita—generasi penerus—harus berjuang belajar dengan perut kosong atau gizi yang jauh dari standar? MBG adalah jawaban berani untuk memutus rantai kemiskinan tersebut. Meski banyak negara telah melakukan hal serupa, skala 83 juta jiwa adalah langkah pionir yang belum pernah ada tandingannya di dunia.

Belajar Sambil Berjalan: Spirit "Learning by Doing"

Menjalankan program raksasa dengan logistik yang mencakup seluruh pelosok negeri tentu tidak semudah membalik telapak tangan. Hambatan di lapangan adalah keniscayaan. Namun, pilihannya hanya dua: diam karena takut salah, atau melangkah sambil terus memperbaiki.

Prinsip learning by doing adalah kunci. Keterbatasan yang berujung pada kendala teknis bukanlah alasan untuk berhenti, melainkan alarm untuk evaluasi. Penunjukan pengelola yang praktis dilakukan semata-mata agar roda program tetap berputar, memastikan bahwa manfaatnya sampai ke tangan anak-anak yang membutuhkan tanpa tertahan sekat birokrasi yang kaku.


Raksasa Ekonomi yang Sedang Bangun

Di balik aspek kesehatan, MBG adalah katalisator ekonomi yang luar biasa. Coba kita bedah angka estimasi kebutuhan bahan baku per hari nya:

Beras: 21 juta kg

Protein (Ayam, Daging, Ikan, Telur): 12 juta kg

Sayuran: 9 juta kg

Minyak Goreng: 3 juta kg

Bumbu-bumbu (Bawang, Cabai, Tahu, Tempe): Jutaan kilogram lainnya.

Angka-angka ini bukan sekadar statistik; ini adalah pasar raksasa bagi petani, peternak, dan nelayan lokal. Program ini membuka peluang emas bagi sektor agrikultur dan perikanan kita untuk bangkit. Ekonomi kerakyatan akan bergerak dari desa-desa, karena bahan baku ini tidak mungkin didatangkan dari awan—mereka berasal dari tanah dan laut Indonesia.

Kesimpulan

Membatalkan MBG karena kendala awal sama saja dengan mematikan harapan jutaan anak untuk tumbuh cerdas dan sehat. Protes adalah vitamin untuk perbaikan, tetapi visi besar untuk membangun kualitas manusia Indonesia tidak boleh surut. MBG adalah investasi jangka panjang: perut yang kenyang hari ini adalah otak yang cerdas di masa depan, dan ekonomi yang mandiri bagi bangsa.




February 2, 2026

Iran Memang Target Empuk, Apa Jadinya Jika Iran Menenggelamkan Kapal Induk Amerika?

 


Oleh   Harmen Batubara 

Dunia sering kali terjebak dalam angka-angka di atas kertas: jumlah hulu ledak, anggaran militer, atau kecanggihan teknologi siluman. Dalam kalkulasi ini, Iran sering disebut sebagai "target empuk" karena disparitas teknologi dengan Amerika Serikat. Namun, sejarah membuktikan bahwa perang bukan sekadar hitung-hitungan perangkat keras.

1. Kesiapan Mental: Belajar dari Venezuela

Amerika memang berhasil menundukkan Venezuela, namun perlu diingat bahwa proses itu membutuhkan persiapan berbulan-bulan untuk melumpuhkan sistem yang relatif statis.

Iran adalah cerita yang berbeda. Seluruh sistem pertahanan Iran berada dalam kondisi "siaga perang" yang permanen. Mereka tidak hanya menunggu; mereka mempelajari setiap pola serangan AS dan Israel selama puluhan tahun. Iran tahu di mana titik lemah sang raksasa, dan mereka telah membangun benteng asimetris yang dirancang khusus untuk mematahkan dominasi konvensional.


2. Titik Balik: Tenggelamnya Simbol Kekuatan

Strategi Amerika sangat bergantung pada dukungan tanpa ragu dari NATO, Israel, dan sekutu Timur Tengah. Namun, psikologi perang bisa berubah dalam sekejap jika sebuah Kapal Induk AS—simbol supremasi laut dunia—berhasil ditenggelamkan atau setidaknya dilumpuhkan oleh Iran.

Jika itu terjadi:

Kekuatan Proksi Melipat Ganda: Milisi dan jaringan proksi Iran di seluruh kawasan akan mendapatkan suntikan moral yang luar biasa untuk menyerang pangkalan militer AS di Timur Tengah secara serentak.

Runtuhnya Narasi Tak Terkalahkan: Begitu kapal induk tenggelam, keraguan akan menyelimuti negara-negara sekutu. Dukungan yang tadinya "tanpa ragu" bisa berubah menjadi langkah mundur demi penyelamatan diri masing-masing.

3. Modal Tak Terlihat: Militansi Bangsa

Di atas kertas, Iran sulit dilumpuhkan karena mereka memiliki modal yang tidak dimiliki banyak negara lain: Identitas Bangsa yang Militan. Sejarah panjang Persia memberikan energi luar biasa bagi rakyatnya untuk bertahan habis-habisan.

Sebaliknya, Amerika Serikat tidak memiliki "otoritas moral" atau urgensi eksistensial untuk menghancurkan Iran sepenuhnya tanpa risiko kehancuran ekonomi global. Bagi AS, ini adalah operasi militer; bagi Iran, ini adalah perjuangan hidup dan mati.

Pencerahan dan Solusi: Mencari Keseimbangan Baru

Kondisi saat ini menunjukkan bahwa kedua belah pihak sebenarnya tidak berada dalam posisi optimal. Amerika tidak bisa menang mutlak dalam waktu singkat, dan Iran tidak bisa mengusir Amerika tanpa pengorbanan yang meluluhlantakkan wilayahnya.

Apa yang akan terjadi jika nalar luar biasa ini menjadi kenyataan?

Jika Amerika gagal menang cepat, Timur Tengah akan membara hebat. Dunia akan dipaksa mencari keseimbangan baru di mana Amerika kehilangan muka dan kendali atas jalur energi global.

Solusi Jalan Tengah:

Redefinisi Diplomasi Asimetris: Mengingat risiko yang luar biasa jika kapal induk tenggelam, solusi terbaik adalah pengakuan atas peran regional Iran secara proporsional.

De-eskalasi Berbasis Ketakutan Bersama: Kedua pihak harus sadar bahwa "kemenangan" dalam perang ini adalah semu. Yang ada hanyalah kehancuran bersama ($Mutually$ $Assured$ $Destruction$) secara ekonomi dan politik.

Keseimbangan Kawasan tanpa Intervensi Absolut: Dunia membutuhkan Timur Tengah yang stabil. Stabilitas ini hanya bisa dicapai jika Amerika mulai berbagi peran dengan kekuatan lokal dan berhenti memaksakan dominasi yang kini mulai bisa ditantang secara teknis.

Kesimpulannya: Iran mungkin terlihat empuk di radar, namun mereka adalah "landak" yang siap melukai siapa pun yang mencoba menggenggamnya terlalu keras. Menenggelamkan kapal induk bukan sekadar aksi militer, melainkan pesan bahwa peta kekuatan dunia telah bergeser.