Oleh Harmen Batubara
Di atas meja bidak geopolitik hari ini, genderang
perang antara Amerika Serikat dan Iran ditabuh dengan nada yang paling nyaring.
Bagi mereka yang mengenakan seragam loreng, perang seringkali dipandang sebagai
sebuah "Pesta Puncak". Ia adalah muara dari latihan
bertahun-tahun, pengasahan strategi tingkat batalyon hingga brigade, dan ajang
pembuktian jargon-jargon patriotisme yang membakar semangat. Namun, sejarah
selalu menuliskan catatan kaki yang pahit: di balik setiap ledakan, ada masa
depan anak-anak yang terkubur dan infrastruktur peradaban yang berubah menjadi
debu.
Jika korban hanya hitungan jari, dunia mungkin
hanya menoleh sejenak. Namun, dalam skala konflik AS-Iran, kita bicara tentang
potensi puluhan ribu nyawa. Siapa yang sanggup menanggung beban moral atas
hilangnya satu generasi hanya demi sebuah gertakan yang menjadi nyata?
Mengurai
Benang Kusut Sejarah
Melihat ke belakang, ketegangan ini adalah ironi
sejarah yang besar. Sebelum Revolusi 1979, Iran adalah pilar utama Amerika di
Timur Tengah. Kini, realitas berubah. Amerika berupaya mempertahankan hegemoni
tunggalnya melalui dua poros:
Poros Militer: Memperkuat
Israel sebagai kekuatan tanpa tanding di kawasan.
Poros Proksi: Menjaga
ketergantungan negara-negara Arab melalui konflik-konflik kecil yang tak
kunjung usai.
Namun, angin perubahan mulai berembus. Keberhasilan
China mencairkan hubungan antara Arab Saudi dan Iran adalah bukti bahwa ketegangan bukan harga mati.
Jalan Logis
Menuju Meja Perundingan
Meski perang tampak sebagai jalan yang paling
"logis" bagi para pemegang senjata saat ini, perdamaian adalah jalan
yang paling "cerdas" bagi kemanusiaan. Solusi yang masih relevan
(related) untuk mencegah bencana ini melibatkan peran aktif sahabat-sahabat
dari kedua belah pihak:
Diplomasi Penengah (Indonesia & Arab Saudi): Sebagai negara dengan populasi Muslim besar dan mitra strategis AS,
Indonesia memiliki posisi tawar moral yang kuat. Bersama Arab Saudi, mereka
bisa menjadi jembatan dialog yang mengingatkan Amerika bahwa stabilitas jauh
lebih menguntungkan daripada kemenangan militer yang semu.
Keseimbangan Kekuatan (China & Rusia): Peran China dan Rusia sangat krusial untuk memberikan "rem"
bagi arogansi kekuatan tunggal. Dengan tekanan diplomatik dan ekonomi, mereka
mampu memaksa semua pihak untuk berpikir dua kali sebelum meluncurkan hulu
ledak pertama.
Untuk Damai Bersama
Dunia tidak butuh pemenang perang; dunia butuh
keberlanjutan hidup. Ketika Amerika dan Iran memilih untuk menurunkan moncong
senjatanya, itu bukan tanda kelemahan, melainkan sebuah kado terindah bagi kesejahteraan dunia. Karena pada
akhirnya, kemenangan sejati bukan tentang siapa yang paling banyak
menghancurkan, tapi siapa yang paling mampu menjaga kehidupan.








