Oleh Harmen Batubara
Islamabad, 12 April 2026. Ruangan konferensi itu
terasa menyesakkan meski pendingin udara bekerja maksimal. Setelah 21 jam tanpa henti bertukar argumen, delegasi dari dua
kekuatan besar itu keluar dengan raut wajah yang sama: lelah dan buntu.
Wakil Presiden AS, JD Vance, berdiri di depan
mikrofon dengan nada bicara yang berat namun jujur.
“Kami telah melakukan ini selama 21 jam, dan kami
telah mengadakan sejumlah diskusi substantif dengan pihak Iran. Itu kabar
baiknya,” kata Vance. Namun, kalimat berikutnya menjatuhkan ekspektasi dunia:
“Kabar buruknya adalah kita belum mencapai kesepakatan.”
Hampir di saat yang bersamaan, kantor berita Iran, Fars, merilis pernyataan tajam bahwa kebuntuan ini
adalah akibat langsung dari "tuntutan yang tidak masuk akal" oleh
Amerika Serikat. Perundingan yang diharapkan menjadi jembatan perdamaian justru
berubah menjadi tembok beton yang kokoh.
Kronologi
Kegagalan di Islamabad
Semua ini bermula ketika Amerika menyodorkan 15 poin proposal yang dianggap Iran sebagai penghinaan
terhadap kedaulatan mereka. Menyadari kebuntuan awal, Washington melunak dan
meminta Teheran mengajukan tuntutan mereka sendiri. Maka muncullah 10 poin tandingan yang mulai dibahas pada 11 April.
Namun, dinamika di lapangan menghancurkan
segalanya. Di tengah perundingan, Israel justru mengintensifkan serangan ke
Lebanon. Iran merespons keras dengan menetapkan tiga syarat "harga
mati" sebelum poin-poin lainnya dibahas:
Penghentian total serangan Israel di Lebanon.
Pencairan seluruh aset finansial Iran yang dibekukan di bank-bank internasional.
Penerapan tarif tol bagi setiap kapal yang melintasi Selat Hormuz sebagai kompensasi atas
sanksi ekonomi.
Bagi Amerika, syarat ketiga—kontrol ekonomi atas
jalur pelayaran global—adalah garis merah yang tidak mungkin dilewati.
Sementara bagi Iran, tanpa jaminan keamanan di Lebanon, perundingan hanyalah
taktik pengalihan isu.
Lalu, Apa
Lagi yang Bisa Dilakukan?
Ketika kata-kata di meja perundingan tidak lagi
mampu membungkam dentuman meriam, apakah perang total menjadi satu-satunya
jalan? Belum tentu. Jika diplomasi formal menemui jalan buntu, ada
"jalan-jalan tersembunyi" yang bisa dicoba untuk mendinginkan situasi:
Diplomasi Pintu Belakang (Back-channel Diplomacy): Menggunakan pihak ketiga yang netral seperti Oman atau Qatar untuk
melakukan negosiasi rahasia tanpa tekanan kamera dan publik. Seringkali,
kompromi lebih mudah dicapai jika tidak ada pihak yang merasa harus menjaga
gengsi di depan media.
De-eskalasi Sepihak sebagai Itikad Baik: Salah satu pihak harus berani mengambil langkah mundur tanpa menuntut
balasan instan. Misalnya, Amerika menahan bantuan amunisi spesifik ke Israel
untuk mengerem serangan di Lebanon, atau Iran memerintahkan proksinya untuk
jeda serangan selama 48 jam.
Fokus pada Krisis Kemanusiaan: Mengalihkan fokus dari kedaulatan politik ke koridor kemanusiaan.
Kadang-kadang, kesepakatan kecil tentang pengiriman bantuan medis dan pangan
bisa menjadi "pintu masuk" untuk membangun kembali kepercayaan yang
hancur.
Keterlibatan Kekuatan Regional Baru: Meminta keterlibatan aktif negara-negara seperti Tiongkok atau
konsorsium negara-negara Arab untuk bertindak sebagai penjamin (guarantor)
kesepakatan, sehingga kedua belah pihak tidak hanya bergantung pada janji lawan
mereka.
Islamabad mungkin telah gagal mencatat sejarah
perdamaian hari ini, namun kebuntuan ini seharusnya menjadi alarm bagi dunia:
bahwa jika perundingan elegan tidak lagi mempan, maka dunia harus bersiap
menghadapi kekacauan yang tidak akan menyisakan pemenang. Perang mungkin tidak
bisa dihentikan di meja ini, tapi upaya untuk mencegah kehancuran total tidak
boleh berhenti.







