February 24, 2026

Perang Bukan Pilihan: Damai Amerika VS Iran, Kado Bagi Kesejahteraan Dunia

 Oleh  Harmen Batubara

Di atas meja bidak geopolitik hari ini, genderang perang antara Amerika Serikat dan Iran ditabuh dengan nada yang paling nyaring. Bagi mereka yang mengenakan seragam loreng, perang seringkali dipandang sebagai sebuah "Pesta Puncak". Ia adalah muara dari latihan bertahun-tahun, pengasahan strategi tingkat batalyon hingga brigade, dan ajang pembuktian jargon-jargon patriotisme yang membakar semangat. Namun, sejarah selalu menuliskan catatan kaki yang pahit: di balik setiap ledakan, ada masa depan anak-anak yang terkubur dan infrastruktur peradaban yang berubah menjadi debu.

Jika korban hanya hitungan jari, dunia mungkin hanya menoleh sejenak. Namun, dalam skala konflik AS-Iran, kita bicara tentang potensi puluhan ribu nyawa. Siapa yang sanggup menanggung beban moral atas hilangnya satu generasi hanya demi sebuah gertakan yang menjadi nyata?


Mengurai Benang Kusut Sejarah

Melihat ke belakang, ketegangan ini adalah ironi sejarah yang besar. Sebelum Revolusi 1979, Iran adalah pilar utama Amerika di Timur Tengah. Kini, realitas berubah. Amerika berupaya mempertahankan hegemoni tunggalnya melalui dua poros:

Poros Militer: Memperkuat Israel sebagai kekuatan tanpa tanding di kawasan.

Poros Proksi: Menjaga ketergantungan negara-negara Arab melalui konflik-konflik kecil yang tak kunjung usai.

Namun, angin perubahan mulai berembus. Keberhasilan China mencairkan hubungan antara Arab Saudi dan Iran adalah bukti bahwa ketegangan bukan harga mati.


Jalan Logis Menuju Meja Perundingan

Meski perang tampak sebagai jalan yang paling "logis" bagi para pemegang senjata saat ini, perdamaian adalah jalan yang paling "cerdas" bagi kemanusiaan. Solusi yang masih relevan (related) untuk mencegah bencana ini melibatkan peran aktif sahabat-sahabat dari kedua belah pihak:

Diplomasi Penengah (Indonesia & Arab Saudi): Sebagai negara dengan populasi Muslim besar dan mitra strategis AS, Indonesia memiliki posisi tawar moral yang kuat. Bersama Arab Saudi, mereka bisa menjadi jembatan dialog yang mengingatkan Amerika bahwa stabilitas jauh lebih menguntungkan daripada kemenangan militer yang semu.

Keseimbangan Kekuatan (China & Rusia): Peran China dan Rusia sangat krusial untuk memberikan "rem" bagi arogansi kekuatan tunggal. Dengan tekanan diplomatik dan ekonomi, mereka mampu memaksa semua pihak untuk berpikir dua kali sebelum meluncurkan hulu ledak pertama.

Untuk Damai Bersama

Dunia tidak butuh pemenang perang; dunia butuh keberlanjutan hidup. Ketika Amerika dan Iran memilih untuk menurunkan moncong senjatanya, itu bukan tanda kelemahan, melainkan sebuah kado terindah bagi kesejahteraan dunia. Karena pada akhirnya, kemenangan sejati bukan tentang siapa yang paling banyak menghancurkan, tapi siapa yang paling mampu menjaga kehidupan.



 

 


February 22, 2026

Board Of Piece – Pangung Trump Untuk Legitimasi Amerika Serikat di Era Baru

 Oleh   Harmen Batubara 

Sejarah Timur Tengah sering kali dibaca sebagai catatan panjang tentang bagaimana Washington memantapkan dirinya sebagai penguasa tunggal. Sejak era Shah Reza Pahlevi, ketika Iran masih menjadi sekutu terdekat AS dan negara pertama yang mengakui Israel, Amerika telah membangun pengaruhnya lewat dua poros utama: menjadikan Israel kekuatan militer tak tertandingi, dan memelihara konflik proksi yang membuat negara-negara Arab terjebak dalam ketergantungan keamanan pada Gedung Putih.

Namun, zaman berganti. Ketika China mulai masuk membawa angin perdamaian antara Arab Saudi dan Iran, Donald Trump melihat bahwa "skenario lama" butuh penyegaran. Ia ingin Amerika tetap menjadi penentu, namun dengan gaya baru yang lebih pragmatis dan transaksional. Di sinilah "Board of Peace" muncul sebagai instrumen baru untuk mengonsolidasikan legitimasi Amerika di era yang kian kompetitif ini.


Peran "Board of Peace": Antara Pembangunan dan Kekuasaan

"Board of Peace" bukan sekadar forum diskusi, melainkan motor penggerak dari visi Trump untuk menata ulang kawasan, khususnya Gaza. Peran utamanya meliputi:

Arsitek Rekonstruksi Gaza: Menyusun cetak biru untuk mengubah wilayah yang hancur menjadi kawasan modern, menjanjikan, dan terintegrasi secara ekonomi.

Mobilisator Modal: Mengarahkan "uang dan kekuatan" dari negara-negara Arab untuk mendanai pembangunan Palestina. Ini adalah strategi cerdik: pembangunan dilakukan dengan biaya mitra regional, namun di bawah supervisi kepemimpinan Amerika.

Penyeimbang Kekuatan: Menjaga agar ketegangan AS-Iran tidak meledak menjadi perang terbuka yang merugikan pasar, sembari tetap memastikan dominasi pengaruh Amerika tidak tergeser oleh aktor Timur lainnya.

Kehadiran Indonesia: Ketulusan di Tengah Kepentingan

Di tengah papan catur kekuasaan ini, Indonesia hadir membawa warna yang berbeda. Bergabungnya Indonesia didorong oleh semangat historis sebagai bangsa yang pernah terjajah dan mandat konstitusi untuk menghapuskan penjajahan di atas dunia.

Indonesia datang ke dalam lingkaran ini bukan untuk mencari dominasi, melainkan dengan ketulusan (ikhlas) untuk memastikan bahwa pembangunan Gaza benar-benar demi martabat bangsa Palestina. Indonesia berperan sebagai "suara hati" yang mengingatkan bahwa di balik modernitas dan uang yang mengalir, ada hak-hak kedaulatan yang harus tetap dijunjung tinggi.

Melihat Peluang demi Kawasan

Meskipun narasi utamanya adalah tentang legitimasi Amerika, "Board of Peace" membuka celah peluang bagi kawasan:

Transformasi Ekonomi: Mengubah narasi kawasan dari "medan perang" menjadi "pusat pertumbuhan" melalui pembangunan infrastruktur Gaza yang modern.

Stabilitas Baru: Mencoba meredam permusuhan berkepanjangan melalui ketergantungan ekonomi bersama (interdependensi).

Jembatan Diplomasi: Memberi ruang bagi negara seperti Indonesia untuk menjadi mediator yang menyeimbangkan kepentingan Barat dengan aspirasi dunia Islam dan kemanusiaan.

Pada akhirnya, panggung baru yang dibangun Trump ini tetap menempatkan Amerika sebagai sutradara. Namun, dengan keterlibatan aktif aktor-aktor yang membawa misi kemanusiaan murni, ada harapan bahwa hasil akhirnya bukan sekadar dominasi kekuasaan, melainkan kedamaian yang bisa dirasakan oleh mereka yang selama ini hanya menjadi penonton di tanah mereka sendiri.



 


February 16, 2026

Mengapa Program MBG Di protes, bahkan Minta Dibatalkan?

 


Oleh  Harmen Batubara

Di tengah deru mesin birokrasi dan diskusi ruang-ruang publik, sebuah pertanyaan tajam menyeruak: “Mengapa Program Makan Bergizi Gratis (MBG) diprotes, bahkan diminta untuk dibatalkan?”

Kritik adalah hal yang wajar, bahkan perlu. Masalah teknis seperti makanan yang basi, insiden keracunan, hingga mekanisme penunjukan pengelola yang dianggap terlalu menyederhanakan proses, memang menjadi peluru bagi para skeptis. Namun, jika kita sejenak menarik diri dari keriuhan teknis tersebut, kita akan menemukan sebuah visi yang jauh lebih besar dari sekadar sepiring nasi.

Sebuah Kontemplasi untuk Masa Depan

Program MBG bukanlah kebijakan yang lahir dari ruang kosong. Ia adalah hasil kontemplasi mendalam Presiden Prabowo Subianto dan timnya terhadap realitas pahit bangsa: stunting, kemiskinan, dan rapuhnya kualitas SDM di masa depan.


Bagaimana kita bisa bermimpi menjadi bangsa pemenang jika 83 juta anak-anak kita—generasi penerus—harus berjuang belajar dengan perut kosong atau gizi yang jauh dari standar? MBG adalah jawaban berani untuk memutus rantai kemiskinan tersebut. Meski banyak negara telah melakukan hal serupa, skala 83 juta jiwa adalah langkah pionir yang belum pernah ada tandingannya di dunia.

Belajar Sambil Berjalan: Spirit "Learning by Doing"

Menjalankan program raksasa dengan logistik yang mencakup seluruh pelosok negeri tentu tidak semudah membalik telapak tangan. Hambatan di lapangan adalah keniscayaan. Namun, pilihannya hanya dua: diam karena takut salah, atau melangkah sambil terus memperbaiki.

Prinsip learning by doing adalah kunci. Keterbatasan yang berujung pada kendala teknis bukanlah alasan untuk berhenti, melainkan alarm untuk evaluasi. Penunjukan pengelola yang praktis dilakukan semata-mata agar roda program tetap berputar, memastikan bahwa manfaatnya sampai ke tangan anak-anak yang membutuhkan tanpa tertahan sekat birokrasi yang kaku.


Raksasa Ekonomi yang Sedang Bangun

Di balik aspek kesehatan, MBG adalah katalisator ekonomi yang luar biasa. Coba kita bedah angka estimasi kebutuhan bahan baku per hari nya:

Beras: 21 juta kg

Protein (Ayam, Daging, Ikan, Telur): 12 juta kg

Sayuran: 9 juta kg

Minyak Goreng: 3 juta kg

Bumbu-bumbu (Bawang, Cabai, Tahu, Tempe): Jutaan kilogram lainnya.

Angka-angka ini bukan sekadar statistik; ini adalah pasar raksasa bagi petani, peternak, dan nelayan lokal. Program ini membuka peluang emas bagi sektor agrikultur dan perikanan kita untuk bangkit. Ekonomi kerakyatan akan bergerak dari desa-desa, karena bahan baku ini tidak mungkin didatangkan dari awan—mereka berasal dari tanah dan laut Indonesia.

Kesimpulan

Membatalkan MBG karena kendala awal sama saja dengan mematikan harapan jutaan anak untuk tumbuh cerdas dan sehat. Protes adalah vitamin untuk perbaikan, tetapi visi besar untuk membangun kualitas manusia Indonesia tidak boleh surut. MBG adalah investasi jangka panjang: perut yang kenyang hari ini adalah otak yang cerdas di masa depan, dan ekonomi yang mandiri bagi bangsa.