Oleh Harmen Batubara
Sejarah politik Indonesia akan selalu mencatat
periode 2014-2024 sebagai dekade yang penuh dengan kejutan dan transformasi
besar. Di pusat pusaran itu, berdiri dua sosok yang pernah menjadi rival
sengit: Joko Widodo dan Prabowo Subianto.
Dua kali mereka bertarung dalam medan laga Pemilihan Presiden (2014 dan 2019),
membelah pemilih dalam polarisasi yang tajam. Namun, apa yang terjadi setelahnya
adalah sebuah pelajaran tentang kedewasaan bernegara yang melampaui ego
pribadi.
Sebuah
Rekonsiliasi yang Mengejutkan Dunia
Setelah merayakan kemenangannya pada periode kedua
di tahun 2019, Presiden Jokowi mengambil langkah yang dianggap mustahil oleh
banyak pengamat internasional. Alih-alih membiarkan rivalnya tetap di luar
pemerintahan, Jokowi justru merangkul Prabowo Subianto masuk ke dalam
kabinetnya.
Penunjukan Prabowo sebagai Menteri Pertahanan adalah sebuah keputusan strategis
yang sensasional. Bagi dunia luar, ini adalah bukti nyata dari konsep “Gotong Royong” Indonesia. Namun bagi Prabowo secara
pribadi, momen ini adalah sebuah pemulihan martabat yang sangat emosional. Ia
dilantik di Aula Kementerian Pertahanan—lokasi yang sama di mana pada tahun
1998, ia pernah diberhentikan dari dinas militer. Kembali ke tempat itu sebagai
pimpinan tertinggi pertahanan negara adalah bentuk pemulihan marwah yang
sempurna dari seorang Jokowi kepada Prabowo.
Restu dan
Bintang Empat
Hubungan yang awalnya bersifat politis perlahan
bertransformasi menjadi hubungan mentor-murid dan sahabat. Jokowi tidak hanya
memberikan posisi menteri, tetapi juga memberikan panggung bagi Prabowo untuk
menunjukkan kapasitas kepemimpinannya di kancah global.
Puncaknya, sebagai bentuk penghormatan atas
pengabdian dan dedikasinya, Jokowi menyematkan gelar Jenderal
TNI (Purn) Kehormatan berbintang empat kepada Prabowo. Ini bukan
sekadar seremoni militer, melainkan simbol bahwa Jokowi sepenuhnya percaya dan
merestui Prabowo sebagai sosok yang layak memegang tongkat estafet kepemimpinan
nasional.
Menuju
Indonesia Emas: Keberlanjutan dan Inovasi
Kini, sebagai Presiden RI ke-8,
Prabowo Subianto membuktikan bahwa pilihan Jokowi tidaklah salah.
Kepemimpinannya menjadi jembatan kokoh yang meneruskan pondasi kuat yang telah
dibangun oleh pendahulunya. Ia memegang teguh komitmen untuk melanjutkan proyek
strategis nasional, mulai dari hilirisasi industri hingga pembangunan Ibu Kota
Nusantara (IKN).
Namun, Prabowo juga membawa ruh baru dengan kebijakan-kebijakan
yang menyentuh akar rumput secara langsung:
Makan Bergizi Gratis: Sebuah program ambisius untuk 83 juta siswa guna memastikan tidak ada
lagi anak Indonesia yang tertinggal secara fisik dan intelektual (stunting)
demi menyongsong Indonesia Emas 2045.
Fakultas Kedokteran Gratis: Membuka pintu seluas-luasnya bagi putra-putri dari keluarga miskin
ekstrem untuk menjadi dokter tanpa biaya sepeser pun, demi menutup celah
kekurangan tenaga medis di pelosok negeri.
Sekolah Rakyat: Memperkuat
akses pendidikan berkualitas yang merata bagi seluruh lapisan masyarakat.
Kita Ingin
Mengatakan
Narasi "Ketika Jokowi Mempersiapkan dan
Memilih Penerusnya" bukan sekadar cerita tentang transfer kekuasaan,
melainkan tentang bagaimana dua pemimpin besar sepakat untuk meletakkan
kepentingan bangsa di atas segalanya. Jokowi telah menyiapkan jalan, dan kini
Prabowo melangkah di atasnya dengan gagah, membawa visi keberlanjutan yang
dipadukan dengan kepedulian sosial yang mendalam.
Inilah era baru Indonesia, di mana persaingan masa
lalu telah dilebur menjadi energi pembangunan masa depan.



No comments:
Post a Comment