December 5, 2025

Bersama KDM Membangun Rasa Persaudaraan Lewat Bantuan ke Daerah Bencana

 

Oleh


Harmen Batubara

Ketika banjir bandang dan Siklon Senyar menghantam Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh—melenyapkan rumah, memutus transportasi, dan merenggut ratusan nyawa, meninggal 836 Orang, 518 Hilang—Indonesia kembali diingatkan bahwa kita adalah satu keluarga besar yang tinggal di tanah yang sama, dan memikul duka yang sama.

Bencana ini bukan milik satu daerah. Ini luka kita bersama.

Di tengah situasi yang mengguncang itu, Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi (KDM), tampil bukan hanya sebagai pemimpin daerah, tetapi sebagai sosok yang menggugah rasa kemanusiaan seluruh bangsa. Pada 1 Desember 2025, KDM menyerukan ajakan sederhana namun penuh makna:

“Mari kita bersatu padu, bergandengan tangan, meringankan beban sesama.”

Ajakan itu bukan sekadar kata-kata. Ia menggerakkan pemerintah daerah Jawa Barat, memulai gerakan kemanusiaan, dan membuka ruang partisipasi publik. Warga diajak berbagi apa pun yang mereka mampu: makanan, pakaian, logistik, obat-obatan—atau bahkan doa untuk kekuatan para korban.

Langkah Nyata di Tengah Derita

Pada 4 Desember 2025, KDM tiba langsung di Kota Padang. Ia tak datang sebagai pejabat yang hanya melihat dari jauh—ia hadir sebagai saudara yang ingin menghapus sedikit luka.
Dalam safari kemanusiaannya, ia memastikan bantuan tidak hanya terkumpul, tetapi juga tepat sasaran.

KDM bahkan membawa dua pesawat Susi Air, masing-masing berkapasitas satu ton per penerbangan, untuk menjangkau daerah-daerah terisolasi. Sementara itu, truk-truk besar di darat sudah disiapkan untuk menyalurkan bantuan ke titik-titik kritis di Sumbar, Sumut, dan Aceh.

Namun langkah terbesarnya adalah komitmen ini:

Membangun satu kampung hunian baru bagi warga yang kehilangan rumah.

Sebuah janji yang tidak hanya menawarkan bantuan darurat, tetapi juga harapan untuk bangkit kembali.


Mengapa Ajakan Ini Penting?

Karena bencana bukan sekadar runtuhan bangunan atau jembatan yang putus—
bencana adalah hilangnya rasa aman, runtuhnya harapan, dan sunyinya masa depan.

Di titik itulah, persaudaraan menjadi cahaya terpenting.
Indonesia selalu kuat ketika berdiri bersama.

Mari Kita Bergerak Bersama

Setiap donasi, setiap kiriman barang, setiap tenaga relawan—sekecil apa pun—adalah bagian dari jembatan kemanusiaan yang sedang kita bangun. Seperti yang ditunjukkan KDM, kita tak boleh menunggu orang lain untuk memulai membantu.

Kini, saat Sumbar, Sumut, dan Aceh berjuang keluar dari reruntuhan, mari kita hadir sebagai saudara.
Sebagai satu bangsa.
Sebagai satu napas kemanusiaan.

Karena saat kita menolong sesama… Indonesia sesungguhnya sedang menolong dirinya sendiri.


November 27, 2025

Perang Rusia–Ukraina Dua Negara Bertetangga Tanpa Empati

 Oleh


Harmen Batubara

Perang Rusia–Ukraina adalah tragedi modern yang lahir dari persoalan lama: identitas, geopolitik, dan rasa saling curiga yang menumpuk selama puluhan tahun.
Namun pada akhirnya, peperangan ini membuktikan satu hal: dua bangsa yang berdekatan bisa berubah menjadi dua musuh tanpa empati—bahkan ketika sejarah, budaya, dan masa depan mereka saling bertaut.

Akar Luka: Identitas dan Geopolitik yang Terabaikan

Ketegangan ini bukan muncul tiba-tiba.
Keinginan Ukraina untuk menentukan arah historis dan politiknya—bergabung dengan Uni Eropa dan NATO—dipandang oleh Rusia sebagai ancaman keamanan langsung.

Puncaknya terjadi tahun 2013 melalui Revolusi Maidan, ketika rakyat Ukraina menolak tekanan Rusia dan memilih integrasi ke Barat.
Sebagai respon, Rusia mencaplok Krimea pada 2014, dan sejak saat itu garis retak hubungan kedua negara semakin melebar.

Berbagai perundingan—Minsk I, Minsk II, kontak diplomatik tak terhitung—selalu gagal.
Kedua pihak menginginkan keamanan, tetapi tidak menginginkan kompromi.
Hingga pada Februari 2022: Invasi dimulai. Perang meletus.

Pertempuran yang Menghancurkan Segalanya

Perang ini bukan sekadar benturan tank dengan artileri, bukan sekadar drone melawan rudal.
Ini adalah benturan nasib manusia.

Kota-kota Ukraina porak-poranda.
Pangkalan militer Rusia kehilangan ribuan prajurit di garis depan.
Desa, rumah sakit, sekolah, dan pabrik luluh lantak menjadi puing.

Serangan balasan demi balasan menciptakan lingkaran dendam tanpa akhir.

Di tengah suara bom, ada tangis yang tidak terdengar oleh dunia:
anak-anak yang terpisah dari orang tua,
para ibu yang kehilangan rumah,
para tentara muda—dari kedua negara—yang bahkan belum sempat memahami hidup sebelum dipaksa memahami kematian

Industri Pertahanan yang Terus Berputar

Perang bukan hanya menghancurkan; ia juga menghidupkan sesuatu yang tidak seharusnya hidup: industri persenjataan.

Di Rusia, pabrik amunisi bekerja 24 jam sehari.

Rudal diproduksi seperti roti hangat dari tungku.
Drone, tank, peluru—semua menjadi angka dalam tabel produksi, bukan lagi simbol kehancuran.

Di Ukraina, dukungan militer Barat mengalir deras.

Setiap paket bantuan berarti perpanjangan waktu bagi pertempuran.
Perang menjadi “proyek” global yang tak seorang pun tahu kapan akan selesai.

Ketika industri perang berputar, perdamaian kehilangan daya tawarnya.

Kerugian: Material, Emosional, dan Kemanusiaan

Tidak ada angka pasti yang disepakati dunia, tetapi 10 juta jiwa terdampak—entah terbunuh, terluka, mengungsi, atau kehilangan kehidupan normal mereka.
Setiap angka adalah seseorang yang tidak akan lagi pulang. Setiap statistik adalah keluarga yang hancur selamanya.

Kerugian material?
Tak terhitung.
Kota demi kota hilang dari peta.

Dan biaya perang?
Diperkirakan lebih dari 500 juta dolar AS per hari.
Setiap detik adalah uang yang tidak digunakan untuk rumah sakit, sekolah, pangan, atau masa depan.

Semua itu pada akhirnya menjadi utang besar yang harus dibayar oleh generasi berikutnya—generasi yang tidak pernah memilih perang, tetapi harus mewarisi akibatnya

Perang yang Memperlebar Jarak, Bukan Menyelesaikan Persoalan

Ironisnya, perang ini justru menjauhkan Rusia dan Ukraina dari apa yang mereka perjuangkan.

  • Persoalan identitas Ukraina kini semakin kuat: mereka ingin menjauh dari Rusia.
  • Kekhawatiran geopolitik Rusia semakin besar: NATO kini justru semakin solid.
  • Rasa saling percaya yang dulu rapuh kini hancur total.
  • Luka sosial di kedua negara semakin dalam, mungkin untuk beberapa generasi ke depan.

Perang tidak memberikan apa-apa selain kehancuran, kebencian baru, dan jarak yang semakin sulit dijembatani.
Dua negara bertetangga kehilangan empati satu sama lain, dan dunia menyaksikan bagaimana kedekatan sejarah bisa berubah menjadi jurang yang tak terlintasi

Penutup: Perang yang Tidak Pernah Layak Dibenarkan

Pada akhirnya, perang Rusia–Ukraina mengingatkan kita bahwa meski alasan awal mungkin tampak rasional—keamanan, identitas, geopolitik—hasil akhirnya selalu sama:
kehancuran yang tidak menghasilkan apapun.

Tidak ada kemenangan sejati.
Tidak ada kebanggaan dalam tumpukan puing.
Tidak ada masa depan yang lahir dari dendam.

Ketika kabar damai mulai terdengar hari ini, dunia berharap satu hal:
agar pada akhirnya dua bangsa yang pernah dekat ini belajar memulihkan empati yang hilang, karena tanpa empati, perdamaian hanya akan menjadi jeda—bukan solusi.



 

 

 


November 21, 2025

Jepang Rugi Bila Tak Mampu Membuat China Jadi Tetangga Baik


Oleh Harmen Batubara

Di kawasan Asia Timur, ketegangan geopolitik semakin meningkat. Namun satu fakta yang sangat jelas: masa depan Jepang tidak bisa dilepaskan dari bagaimana negara itu membangun hubungan yang stabil dengan Tiongkok. Dalam konteks perubahan global yang cepat—termasuk memanasnya isu Taiwan—Jepang perlu lebih dari sekadar strategi pertahanan. Jepang membutuhkan pendekatan baru: menjadikan Tiongkok sebagai tetangga yang baik demi kepentingan ekonominya sendiri, keamanan regional, dan keberlanjutan masa depannya.

 Taiwan: Wilayah Paling Kritis dalam Stabilitas Kawasan

Andai Taiwan jatuh ke tangan Tiongkok melalui aneksasi atau reunifikasi yang penuh tekanan, Jepang akan menjadi salah satu negara yang paling merasakan dampaknya.

Kerugian Ekonomi:

  • Rantai pasok global akan terguncang. Taiwan adalah pusat manufaktur semikonduktor dunia; lebih dari 60% chip canggih berasal dari sana. Jepang, yang bergantung pada chip untuk industri otomotif, robotik, elektronik, dan pertahanan—akan terpukul hebat.
  • Potensi pariwisata dan layanan lintas kawasan anjlok. Stabilitas regional adalah kunci. Konflik di Taiwan berarti hilangnya aliran wisatawan, bisnis, dan investasi yang selama ini mengandalkan jalur aman Asia Timur.

 


Ancaman Keamanan Selat Taiwan Sebagai Garis Api

Jika Tiongkok menguasai Taiwan, Selat Taiwan akan berubah dari jalur dagang menjadi front militer. Ini berbahaya bagi Jepang karena:

  • Jalur laut vital Jepang terancam. 90% energi impor Jepang melewati perairan sekitar Taiwan.
  • Kedekatan geografis menimbulkan risiko langsung. Okinawa hanya berjarak sekitar 700 km dari Taiwan. Perkembangan ini dapat memaksa Jepang meningkatkan anggaran militer secara ekstrem, mengorbankan sektor sosial dan ekonomi domestik.
  • Potensi keterlibatan militer AS. Jepang sebagai sekutu Amerika Serikat bisa terseret ke konflik besar, yang tidak menguntungkan siapapun di kawasan.

 

Realitas Geografi Jepang Tidak Bisa “Lepas” dari Tiongkok

Jepang bisa memindahkan pabrik ke Asia Tenggara, tetapi tidak bisa memindahkan negaranya sendiri. Selama ribuan tahun, Jepang dan Tiongkok akan tetap bertetangga.

Upaya mencari negara alternatif untuk kerja sama ekonomi tidak akan mampu menggantikan skala dan kedekatan Tiongkok:

  • Tiongkok adalah pasar raksasa dengan daya beli tinggi.
  • Tiongkok adalah mitra dagang terbesar Jepang.
  • Tiongkok adalah pusat produksi global yang tidak bisa secara realistis digantikan dalam 20–30 tahun ke depan.

Jika ketegangan terus meningkat, bukan hanya Jepang yang rugi, tetapi keseimbangan ekonomi Asia akan melemah.

 

the best of you

Jepang Membutuhkan Solusi Membina Hubungan Baik sebagai Strategi Jangka Panjang

Membuat Tiongkok sebagai tetangga yang baik bukan kelemahan. Itu adalah strategi bertahan hidup.
Peluangnya besar bila Jepang:

Mengembangkan jalur diplomasi ekonomi baru

Fokus pada teknologi, energi hijau, dan rantai pasok aman yang saling menguntungkan.

Mendorong stabilitas Taiwan dengan pendekatan damai

Jepang berkepentingan agar Taiwan tetap aman tanpa memancing konflik.

Mengoptimalkan kerja sama ASEAN sebagai penyeimbang

ASEAN dapat menjadi “ruang netral” yang memperkuat posisi tawar Jepang dan Tiongkok tanpa rivalitas langsung.

Tetap dekat dengan AS, tetapi tidak konfrontatif dengan Tiongkok

Strategi dua kaki ini membuat Jepang lebih aman dan stabil.

 Masa Depan Jepang Bergantung pada Perdamaian Kawasan

Tiongkok tidak harus disukai Jepang—tetapi harus diperlakukan sebagai tetangga strategis. Tanpa hubungan yang baik, Jepang akan kehilangan:

  • keamanan maritim,
  • stabilitas rantai pasok,
  • peluang ekonomi masa depan,
  • bahkan posisinya sebagai kekuatan ekonomi dunia.

Di Asia, perdamaian bukan sekadar idealisme. Ia adalah sumber daya ekonomi.
Dan Jepang tidak mampu kehilangannya.