Oleh Harmen Batubara
Di tengah
deru mesin birokrasi dan diskusi ruang-ruang publik, sebuah pertanyaan tajam
menyeruak: “Mengapa Program Makan Bergizi Gratis (MBG) diprotes, bahkan
diminta untuk dibatalkan?”
Kritik adalah
hal yang wajar, bahkan perlu. Masalah teknis seperti makanan yang basi, insiden
keracunan, hingga mekanisme penunjukan pengelola yang dianggap terlalu
menyederhanakan proses, memang menjadi peluru bagi para skeptis. Namun, jika
kita sejenak menarik diri dari keriuhan teknis tersebut, kita akan menemukan
sebuah visi yang jauh lebih besar dari sekadar sepiring nasi.
Sebuah Kontemplasi untuk Masa Depan
Program MBG
bukanlah kebijakan yang lahir dari ruang kosong. Ia adalah hasil kontemplasi
mendalam Presiden Prabowo Subianto dan timnya terhadap realitas pahit bangsa: stunting, kemiskinan, dan rapuhnya kualitas SDM di masa depan.
Bagaimana
kita bisa bermimpi menjadi bangsa pemenang jika 83 juta anak-anak kita—generasi
penerus—harus berjuang belajar dengan perut kosong atau gizi yang jauh dari
standar? MBG adalah jawaban berani untuk memutus rantai kemiskinan tersebut.
Meski banyak negara telah melakukan hal serupa, skala 83 juta jiwa adalah
langkah pionir yang belum pernah ada tandingannya di dunia.
Belajar Sambil Berjalan: Spirit "Learning by Doing"
Menjalankan
program raksasa dengan logistik yang mencakup seluruh pelosok negeri tentu
tidak semudah membalik telapak tangan. Hambatan di lapangan adalah keniscayaan.
Namun, pilihannya hanya dua: diam karena takut salah, atau
melangkah sambil terus memperbaiki.
Prinsip learning by doing adalah kunci. Keterbatasan yang
berujung pada kendala teknis bukanlah alasan untuk berhenti, melainkan alarm
untuk evaluasi. Penunjukan pengelola yang praktis dilakukan semata-mata agar
roda program tetap berputar, memastikan bahwa manfaatnya sampai ke tangan
anak-anak yang membutuhkan tanpa tertahan sekat birokrasi yang kaku.
Raksasa Ekonomi yang Sedang Bangun
Di balik
aspek kesehatan, MBG adalah katalisator ekonomi yang luar biasa. Coba kita
bedah angka estimasi kebutuhan bahan baku per hari nya:
Beras: 21 juta kg
Protein (Ayam, Daging, Ikan, Telur): 12 juta kg
Sayuran: 9 juta kg
Minyak Goreng: 3 juta kg
Bumbu-bumbu (Bawang, Cabai, Tahu, Tempe): Jutaan kilogram lainnya.
Angka-angka
ini bukan sekadar statistik; ini adalah pasar raksasa bagi petani,
peternak, dan nelayan lokal. Program ini membuka peluang emas bagi
sektor agrikultur dan perikanan kita untuk bangkit. Ekonomi kerakyatan akan
bergerak dari desa-desa, karena bahan baku ini tidak mungkin didatangkan dari
awan—mereka berasal dari tanah dan laut Indonesia.
Kesimpulan
Membatalkan
MBG karena kendala awal sama saja dengan mematikan harapan jutaan anak untuk
tumbuh cerdas dan sehat. Protes adalah vitamin untuk perbaikan, tetapi visi
besar untuk membangun kualitas manusia Indonesia tidak boleh surut. MBG adalah
investasi jangka panjang: perut yang kenyang hari ini
adalah otak yang cerdas di masa depan, dan ekonomi yang mandiri bagi bangsa.



No comments:
Post a Comment