February 16, 2026

Mengapa Program MBG Di protes, bahkan Minta Dibatalkan?

 


Oleh  Harmen Batubara

Di tengah deru mesin birokrasi dan diskusi ruang-ruang publik, sebuah pertanyaan tajam menyeruak: “Mengapa Program Makan Bergizi Gratis (MBG) diprotes, bahkan diminta untuk dibatalkan?”

Kritik adalah hal yang wajar, bahkan perlu. Masalah teknis seperti makanan yang basi, insiden keracunan, hingga mekanisme penunjukan pengelola yang dianggap terlalu menyederhanakan proses, memang menjadi peluru bagi para skeptis. Namun, jika kita sejenak menarik diri dari keriuhan teknis tersebut, kita akan menemukan sebuah visi yang jauh lebih besar dari sekadar sepiring nasi.

Sebuah Kontemplasi untuk Masa Depan

Program MBG bukanlah kebijakan yang lahir dari ruang kosong. Ia adalah hasil kontemplasi mendalam Presiden Prabowo Subianto dan timnya terhadap realitas pahit bangsa: stunting, kemiskinan, dan rapuhnya kualitas SDM di masa depan.


Bagaimana kita bisa bermimpi menjadi bangsa pemenang jika 83 juta anak-anak kita—generasi penerus—harus berjuang belajar dengan perut kosong atau gizi yang jauh dari standar? MBG adalah jawaban berani untuk memutus rantai kemiskinan tersebut. Meski banyak negara telah melakukan hal serupa, skala 83 juta jiwa adalah langkah pionir yang belum pernah ada tandingannya di dunia.

Belajar Sambil Berjalan: Spirit "Learning by Doing"

Menjalankan program raksasa dengan logistik yang mencakup seluruh pelosok negeri tentu tidak semudah membalik telapak tangan. Hambatan di lapangan adalah keniscayaan. Namun, pilihannya hanya dua: diam karena takut salah, atau melangkah sambil terus memperbaiki.

Prinsip learning by doing adalah kunci. Keterbatasan yang berujung pada kendala teknis bukanlah alasan untuk berhenti, melainkan alarm untuk evaluasi. Penunjukan pengelola yang praktis dilakukan semata-mata agar roda program tetap berputar, memastikan bahwa manfaatnya sampai ke tangan anak-anak yang membutuhkan tanpa tertahan sekat birokrasi yang kaku.

Raksasa Ekonomi yang Sedang Bangun

Di balik aspek kesehatan, MBG adalah katalisator ekonomi yang luar biasa. Coba kita bedah angka estimasi kebutuhan bahan baku per hari nya:

Beras: 21 juta kg

Protein (Ayam, Daging, Ikan, Telur): 12 juta kg

Sayuran: 9 juta kg

Minyak Goreng: 3 juta kg

Bumbu-bumbu (Bawang, Cabai, Tahu, Tempe): Jutaan kilogram lainnya.

Angka-angka ini bukan sekadar statistik; ini adalah pasar raksasa bagi petani, peternak, dan nelayan lokal. Program ini membuka peluang emas bagi sektor agrikultur dan perikanan kita untuk bangkit. Ekonomi kerakyatan akan bergerak dari desa-desa, karena bahan baku ini tidak mungkin didatangkan dari awan—mereka berasal dari tanah dan laut Indonesia.

Kesimpulan

Membatalkan MBG karena kendala awal sama saja dengan mematikan harapan jutaan anak untuk tumbuh cerdas dan sehat. Protes adalah vitamin untuk perbaikan, tetapi visi besar untuk membangun kualitas manusia Indonesia tidak boleh surut. MBG adalah investasi jangka panjang: perut yang kenyang hari ini adalah otak yang cerdas di masa depan, dan ekonomi yang mandiri bagi bangsa.




No comments:

Post a Comment