Pada dekade 1970-an, menjadi penulis artikel di koran nasional adalah profesi bergengsi. Saya sendiri menikmatinya. Honor satu artikel berkisar Rp17.500 – Rp30.000. Angka ini mungkin terdengar kecil di telinga generasi sekarang, tetapi bila dikonversi ke daya beli saat itu, nilainya luar biasa: setara dengan 580 kg – 1000 kg beras. Artinya, sekali menulis artikel, seorang mahasiswa bisa hidup nyaman selama berbulan-bulan. Menulis bukan hanya soal aktualisasi, tetapi juga bisa menopang ekonomi.
Namun, kini lanskap dunia kepenulisan berubah total. Banyak koran cetak
gulung tikar, atau oplahnya turun drastis. Ruang opini dan artikel makin
terbatas, sementara pembaca beralih ke layar ponsel dan media sosial. Bahkan,
koran itu sendiri kini sulit ditemukan di warung atau kios, karena sudah
tergantikan oleh koran online yang bisa dibaca gratis.
Lalu, apakah menulis masih bisa memberi penghidupan yang layak?
Jawabannya: ya, tetapi dengan cara yang berbeda.
Peluang Penulis di Era Digital
Artikel Online & Media Massa Digital. Banyak portal berita dan media online masih
membayar kontributor. Meski honornya tidak setinggi dulu bila dikonversi,
peluangnya justru lebih luas, karena penulis bisa mengirimkan karya ke banyak
media sekaligus tanpa batas geografis.
Platform Mandiri (Blog & Medium). Penulis kini bisa membangun personal brand lewat blog, Medium,
atau bahkan LinkedIn. Monetisasi datang dari iklan, afiliasi, atau kolaborasi
dengan brand.
Konten Media Sosial. Facebook, Instagram, hingga
TikTok bukan hanya tempat berbagi status, tetapi juga ruang ekspresi tulis.
Penulis kreatif bisa membangun komunitas pembaca, lalu mengubahnya menjadi
pembeli buku, peserta kelas, atau pelanggan eksklusif.
Self-Publishing & E-book. Jika dulu penulis harus menunggu
penerbit besar, kini setiap orang bisa menerbitkan buku sendiri (e-book maupun
cetak on-demand). Platform seperti Gramedia Digital, Google Books, atau Amazon
Kindle membuka pasar global.
Freelance Writing Global. Situs seperti Upwork, Fiverr,
atau ProBlogger mempertemukan penulis dengan klien dari seluruh dunia. Honor
menulis artikel dalam bahasa Inggris, misalnya, bisa mencapai puluhan hingga
ratusan dolar per tulisan.
Insight: Nilai Tulis Tidak Hilang, Hanya
Berubah Wadah
Perbandingan paling nyata adalah:
Tahun 70-an: satu artikel bisa
menyejahterakan karena keterbatasan penulis dan eksklusifnya media.
Sekarang: jumlah penulis meledak,
platform melimpah, tapi daya beli “honor” berpencar ke banyak jalur.
Tantangannya bukan lagi sekadar menulis, tetapi bagaimana menulis sekaligus mengemas,
memasarkan, dan membangun audiens.
Semangat untuk Penulis Masa Kini
Seorang penulis di era digital bukan hanya “penyumbang tulisan”,
melainkan penulis-preneur: kreator yang mengelola tulisannya sebagai
karya sekaligus aset bisnis. Di mana pun ada audiens, di situ ada peluang untuk
mendapatkan honor: dari artikel berbayar, buku, kelas menulis, hingga
kolaborasi brand.
Menulis mungkin tak lagi dibayar setara 1000 kg beras untuk satu
artikel, tetapi justru bisa berbuah aliran pendapatan berkelanjutan bila
diolah dengan strategi. Dari blog pribadi, buku digital, kursus online, hingga
branding di media sosial — jalan terbuka lebih lebar daripada era koran cetak.
Pada akhirnya, pena tidak kehilangan nilainya. Ia hanya berpindah
wadah: dari kertas koran ke layar digital, dari kios berita ke genggaman
smartphone. Yang dibutuhkan penulis adalah adaptasi — bukan hanya menulis,
tetapi juga menata tulisannya agar sampai ke pembaca, dan dari sanalah rezeki
mengalir.
No comments:
Post a Comment