August 30, 2025

Perjalanan Honor Penulis dari Tahun 70-an hingga Kini


Pada dekade 1970-an, menjadi penulis artikel di koran nasional adalah profesi bergengsi. Saya sendiri menikmatinya. Honor satu artikel berkisar Rp17.500 – Rp30.000. Angka ini mungkin terdengar kecil di telinga generasi sekarang, tetapi bila dikonversi ke daya beli saat itu, nilainya luar biasa: setara dengan 580 kg – 1000 kg beras. Artinya, sekali menulis artikel, seorang mahasiswa bisa hidup nyaman selama berbulan-bulan. Menulis bukan hanya soal aktualisasi, tetapi juga bisa menopang ekonomi.

Namun, kini lanskap dunia kepenulisan berubah total. Banyak koran cetak gulung tikar, atau oplahnya turun drastis. Ruang opini dan artikel makin terbatas, sementara pembaca beralih ke layar ponsel dan media sosial. Bahkan, koran itu sendiri kini sulit ditemukan di warung atau kios, karena sudah tergantikan oleh koran online yang bisa dibaca gratis.

Lalu, apakah menulis masih bisa memberi penghidupan yang layak? Jawabannya: ya, tetapi dengan cara yang berbeda.

Peluang Penulis di Era Digital

Artikel Online & Media Massa Digital. Banyak portal berita dan media online masih membayar kontributor. Meski honornya tidak setinggi dulu bila dikonversi, peluangnya justru lebih luas, karena penulis bisa mengirimkan karya ke banyak media sekaligus tanpa batas geografis.

Platform Mandiri (Blog & Medium). Penulis kini bisa membangun personal brand lewat blog, Medium, atau bahkan LinkedIn. Monetisasi datang dari iklan, afiliasi, atau kolaborasi dengan brand.

Konten Media Sosial.  Facebook, Instagram, hingga TikTok bukan hanya tempat berbagi status, tetapi juga ruang ekspresi tulis. Penulis kreatif bisa membangun komunitas pembaca, lalu mengubahnya menjadi pembeli buku, peserta kelas, atau pelanggan eksklusif.

Self-Publishing & E-book.  Jika dulu penulis harus menunggu penerbit besar, kini setiap orang bisa menerbitkan buku sendiri (e-book maupun cetak on-demand). Platform seperti Gramedia Digital, Google Books, atau Amazon Kindle membuka pasar global.

Freelance Writing Global.  Situs seperti Upwork, Fiverr, atau ProBlogger mempertemukan penulis dengan klien dari seluruh dunia. Honor menulis artikel dalam bahasa Inggris, misalnya, bisa mencapai puluhan hingga ratusan dolar per tulisan.

Insight: Nilai Tulis Tidak Hilang, Hanya Berubah Wadah

Perbandingan paling nyata adalah:

Tahun 70-an: satu artikel bisa menyejahterakan karena keterbatasan penulis dan eksklusifnya media.

Sekarang: jumlah penulis meledak, platform melimpah, tapi daya beli “honor” berpencar ke banyak jalur. Tantangannya bukan lagi sekadar menulis, tetapi bagaimana menulis sekaligus mengemas, memasarkan, dan membangun audiens.



Semangat untuk Penulis Masa Kini

Seorang penulis di era digital bukan hanya “penyumbang tulisan”, melainkan penulis-preneur: kreator yang mengelola tulisannya sebagai karya sekaligus aset bisnis. Di mana pun ada audiens, di situ ada peluang untuk mendapatkan honor: dari artikel berbayar, buku, kelas menulis, hingga kolaborasi brand.

Menulis mungkin tak lagi dibayar setara 1000 kg beras untuk satu artikel, tetapi justru bisa berbuah aliran pendapatan berkelanjutan bila diolah dengan strategi. Dari blog pribadi, buku digital, kursus online, hingga branding di media sosial — jalan terbuka lebih lebar daripada era koran cetak.

Pada akhirnya, pena tidak kehilangan nilainya. Ia hanya berpindah wadah: dari kertas koran ke layar digital, dari kios berita ke genggaman smartphone. Yang dibutuhkan penulis adalah adaptasi — bukan hanya menulis, tetapi juga menata tulisannya agar sampai ke pembaca, dan dari sanalah rezeki mengalir.


No comments:

Post a Comment