Tentara Yang Lemah, Adalah Bencana (1)
Oleh : Harmen Batubara
TNI pada saat ini mendapatkan Tugas Mulia dan sekaligus diuji. Mampukah TNI menjaga kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia dari rongrongan gerakan Saparatis. Dilihat dari sejarah, TNI sebenarnya selalu mampu menyelesaikan semua persoalan Saparatisme. Mulai dari DI, TII, PRRI dan PERMESTA. Meski harus diakui bahwa keberhasilan itu justeru diperoleh lewat tangan-tangan kepemimpinan Nasional yang mampu memanfaatkan kemampuan TNI untuk menjaga keutuhan NKRI. Artinya, dalam persoalan Saparatisme, persoalannya bukanlah terletak hanya pada kemampuan professional TNI itu ansich. Tetapi adalah pada para pemimpin yang mampu memanfaatkann peran TNI sebagai kekuatan pemaksa. Memaksa para separatis untuk mau berunding kembali dan menerima keutuhan NKRI.
Tentara professional itu sebenarnya yang bagaimana ? Perdefinisi jawaban untuk itu banyak sekali; dan bisa dipastikan tidak akan ada satupun yang dapat dianggap memenuhi kriteria yang sesungguhnya. Karena memang professional disitu mengandung suatu kesempurnaan. Padanannya barangkali bisa dibayangkan bagaimana para Petennis menempa diri mereka untuk bisa menjadi seorang professional. Disamping harus memenuhi sarana dan prasarana yang lengkap, mereka juga mesti punya pelatih professional, punya program latihan yang lengkap; baik itu dalam pembinaan fisik untuk mendapatkan tubuh yang bugar, juga yang tidak kalah pentingnya adalah “kelasnya”. Kalau anda merencanakannya hanya untuk sekedar jadi juara Kecamatan atau Kabupaten maka tentu akan sangat berbeda persoalannya bila yang dipersiapkan itu jadi professional kelas dunia.
Belakangan ini kerap kita dengar berbagai wacana yang sengaja di munculkan tentang upaya memprofesionalkan tentara kita. Namun sebenarnya kalau dicermati secara sederhana adalah; suatu upaya tulus dikedepankan oleh pimpinan TNI bahwa kedepan mereka akan berusaha dengan sungguh-sungguh agar militer tidak lagi dilibatkan dalam kepentingan politik praktis. Ada semacam garansi, bahwa berbagai manuver yang dilakukan militer dimasa lalu, tidak bakal akan diulang kembali dimasa-masa yang akan datang. Tetapi kalau kita perhatikan secara hati-hati, maka ada beberapa hal yang perlu kita cermati perkembangan kehidupan tentara di negara kita.
Kalau dilihat kebelakang, pada tahun-tahun kelahirannya, maka sesungguhnya tentara nasional kita itu adalah para putra bangsa yang merasa terpanggil dan peduli dengan rasa nasionalismenya; mereka percaya, suatu gerakan politik kalau tidak ditunjang oleh kekuatan pemaksa, maka tidak mungkin suatu kemerdekaan dapat diperoleh. Budaya masyarakat kita mempercayai bahwa hanya kekuatanlah yang bisa mempersatukan bangsa; masyarakat kita lebih mengutamakan “ amankan dahulu”, persoalan diselesaikan belakangan. Dari dahulu agaknya, masyarakat kita sudah terbiasa dengan pendekatan seperti itu. Hal seperti ini kita kemukakan, bukan karena apa-apa, karena masyarakat kita memang berbeda. Bandingkan saja dengan Malaysia; akan terlihat kontras pendekatannya. Mereka tidak melihat perlunya kekuatan “ pemaksa”, karena itu perjuangan para pejuang mereka adalah lewat diplomasi. Kalau masyarakat kita selalu merasa “ bangga” untuk mengatakan bahwa kita rela berkorban jutaan nyawa, demi kemerdekaan maka mereka dengan rendah hati mengatakan bahwa kemerdekaan mereka diperoleh tanpa harus meneteskan darah para pendekar walau hanya setitikpun.
This day in history...
Powered By WPHistory


















