Sukses, Bukan Sekedar Akal Sehat
Oleh: Harmen Batubara
Chin Ning Chu penulis the Asian mind game, mengutarakan bahwa segala sesuatunya itu sudah ada desainnya, menurut dia tidak ada yang terjadi di dunia ini secara kebetulan, bahkan sehelai daun yang jatuhpun harus terlebih dahulu punya izin dari sorga; padanannya barangkali tentang jatuhnya biji zahrah dalam islam. Sehingga seseorang haruslah melihat segala sesuatunya sesuai dengan kehendak sang halik. Lakoni hidup ini secara gagah berani, elegan dan pantang menyerah. Kalaupun ada evaluasi itu semata-mata hanya proses manajemen. Tapi yang benar adalah sepenuhnya berserah pada sang pemilik keputusan, sang halik. Karenanya sebagai manusia seseorang harus berupaya sekuat dan seihtiar yang bisa dia lakukan; kemudian diujung segalanya dia harus pasrah dan berdoa kepada Tuhannya untuk memohon berkat dan petunjuk serta mampu menerima apapun hasilnya. Kecuali itu, dia juga harus percaya, kalau Tuhan belum memberi, maka tidak ada sesuatupun yang akan bisa mengubahnya; dalam kondisi seperti itu, maka satu-satunya upaya adalah memperkuat kemampuan diri, seperti Mushasi yang setiap saat memperdalam kemampuan ilmu pedangnya, baik dari segi ketrampilan, kesemaptaan raga, kematangan jiwa, dan diujungnya memperbanyak sedekah, berbakti, berserah diri dan pasrah. Mengapa manusia hilang akal atau hanya sekedar memakai akal sehatnya saja? Sesuai dengan fakta, manusia itu cenderung untuk melakukan sesuatu yang disenanginya, termasuk tidak melakukan apa-apa sama sekali. Padahal semestinya, manusia itu harus melakukan apa apa yang memang seharusnya dia lakukan. Sukur kalau yang dia senangi itu termasuk bagian dari yang harus dia kerjakan. Tapi sering terjadi justeru serba tidak tahu dan bahkan tidak merasa perlu untuk tahu harus berbuat apa. Itulah sebenarnya yang harus dengan arif dipertanyakan. Kita harus dengan jujur mempertanyakan kualitas diri kita sendiri. Mengapa kita tidak secara terus menerus memperbaiki atau meningkatkan kualitas diri pribadi, ya raga, ya ahlak, ya profesionalisme itu sendiri, dan bahkan sering secara sadar tidak berbuat apa-apa.Kita hanya hanyut dalam rutinitas alam sekitar. Oleh para psikolog, penyebab utamanya adalah karena kita tidak mampu mendefenisikan Tujuan kita secara detail. Ketidak mampuan kita mendefenisikan tujuan secara detail inilah yang telah membuang dan hanya berpegang pada peran akal sehat seketika. Itulah sesungguhnya persoalan kita. Kenapa kita tidak, dan terkadang tidak mau atau tidak mampu mendefinisikannya secara realistis dan detail ? Jawaban mudahnya adalah ; kita memang tidak tahu, bukan tidak mau dan cilakanya kita tidak menanyakannya pada mereka yang tahu. Hambatan imajinasinya adalah, kalau kita mendefenisikan tujuan tersebut secara benar, akan membuat kita hidup terikat, hidup bertanggung jawab. Padahal secara mendasar, semua orang cenderung berbuat sesuatu tanpa harus terikat dan kalau bisa tidak harus menjadi beban. Kita maunya enak dan berhasil, yang kalau bisa sama sekali jauh dari upaya dan doa. Para pebisnis atau praktisi bisnis seperti Robert Kiyosaki melihat upaya mendapatkan penghasilan atau malah membuat usaha yang mampu menghasilkan uang yang baik sebenarnya tidaklah susah. Berbuat sesuatu untuk memperoleh penghasilan yang layak atau banyak sebetulnya tidaklah sulit. Ibarat menanam pohon, kalau ada lahan, ada bibit dan ada pupuk maka prosesnya pastilah pertumbuhan. Kalau lahan sudah diolah, dikondisikan serta diberi gulma atau pupuk dan kemudian ditanam diatasnya bibit yang baik maka yang terjadi adalah pertumbuhan yang wajar. Ini adalah proses alam dan ini adalah hukum Tuhan. Percayalah Tuhan akan memberikan restunya berupa panen yang menggembirakan. Tapi dengan berbagai wujut lakon dan keseharian kita, kita jadi alpa. Terkadang kita habis-habisan mengolah lahan, tapi sama sekali tidak peka terhadap kualitas bibit yang kita tanam.Kita setnagh mati mencari bibit unggul, tiba di saat pertumbuhan kita lupa menyirami dan memupuk. Kita hidup tidak punya totalitas, terputus-putus dan ragu akan keinginan kita sendiri. Begitulah jalan kehidupan. Tetapi anehnya, tidak semua orang mengerti dan mau memperhatikan proses ini. Dan jangan lupa banyak orang yang tidak peduli. Kecenderungannya adalah, mereka olah lahannya dengan alat seadanya, tanam bibitnya, serta tidak pernah memupuk dan menyianginya, kononlah pula mempertanyakan kualitas pemeliharaannya. Malah mereka sadar betul, bahwa mereka hanya sekedar melakukannya karena memang harus demikian. Karena kalau tidak mereka lakukan berarti mereka dicap sebagai pemalas.Intinya banyak pekerjaan itu dilakukan hanya demi sekedar memperoleh dan demi nama baik, dan agar bisa diterima oleh lingkungan. Kalau nanti hasilnya tidak maksimal, bagi mereka hal seperti itu biasa saja. Sama halnya dengan kemiskinan itu sendiri. Miskin itu sesungguhnya adalah hasil dari proses jalan hidup yang kurang matang, atau logika yang menyimpang, dan tidak perlu dipermasalahkan. Padahal kemiskinan itu sendiri, justeru memperburuk kehidupan, memperburuk lingkungan. Kalau orang menjalani hidupnya secara profesional, secara kesatria tidak peduli bidang apapun yang ditekuninya, Tuhan akan memberikannya hasil yang jauh lebih dari yang dia harapkan, lebih dari cukup. Mintalah (berbuatlah profesional) niscaya Tuhan akan memberi. Kalau kita menangkap esensi dialektika diatas, sebenarnya cara hidup kitalah yang bermasalah, penyebabnya karena kita tidak mendefenisikan Tujuan kita secara detail dan karenanya tidak melakukan pekerjaan kita secara professional. Selama ini kita menekuni pekerjaan itu, karena kita diberikan pekerjaan seperti itu. Dari awal kita memang tidak pernah mendesain hidup kita untuk jadi apa, dan tidak juga mendefinisikannya akan menjadi apa. Kita hanya sekedar melakoni kehidupan itu. Kita memang punya izasah dan dengan izasah itulah kita menggantungkan nasib kita entah jadi apa; dan nantinya kita juga akan menerima pekerjaan apa saja. Tidak peduli apakah pekerjaan itu sesuai dengan keinginan kita, yang ada hanyalah melakoni hidup itu dengan rutinas yang ada. Kalau lingkungannya rajin, kita jadi rajin dan sebaliknya kalau malas dan boros ya juga ikut malas dan boros. Kondisi lain yang kerap muncul adalah ketika kita sadar semuanya sudah terlanjur sangat jauh. Katakanlah umur kita sudah diambang sore; ada semacam kecemasan bahwa kita bakal tidak mampu lagi untuk mengusung cita-cita kita yang semula.Terhadap fakta seperti itu, tak perlu berkecil hati. Yang penting pahamilah posisi atau kedudukan anda berada, lalu buat penyesuaian desain peta kehidupan anda yang baru. maka yang perlu disikapi adalah melakukan perubahan secara sungguh-sungguh; tidak perlu menjadi terbesar dan “the best “ di bidang seperti itu, tetapi anda masih bisa mencari standar lain yang biasa tetapi anda kerjakan dengan sungguh-sungguh, dengan talenta. Yang perlu disikapi adalah, masih ada banyak kemungkinan; setidaknya anda masih punya kegembiraan, yakni semangat untuk berjuang itu sendiri. Nikmatilah prosesnya, jangan terpaku pada hasilnya saja. Karena proses itu seutuhnya milik anda sementara hasilnya ada pada otoritas yang Maha Kuasa. Butuh Talenta Menurut Robert Kyosaki, upaya pertama yang berat adalah membuat “usaha pertama yang berhasil ”, maksudnya anda berhasil membangun suatu usaha dan mampu menghasilkan uang meskipun tanpa dengan kehadiran anda secara fisik. Sesudah itu untuk membuat usaha kedua dan seterusnya, tidak akan seberat yang pertama. Karena itu untuk mencapai keberhasilan yang pertama membutuhkan talenta dan komitmen prima. Kalau anda sudah mampu melewati masa-masa seperti itu, maka selebihnya lebih menitik beratkan pada kejelian serta kreativitas dan seni mengelola dengan memanfaatkan kemampuan orang lain. Anda dituntut untuk mampu memilih tokoh yang punya kemampuan serta pas untuk tugas-tugas yang telah anda rencanakan. Bisa jadi anda tinggal membeli perusahaan yang kurang sehat, kemudian memperbaikinya dan kemudian menjualnya kembali. Peluang untuk itu tidak terhingga variasinya. Kalau kita memahami dialektika seperti ini, dan mengkaitkannya dengan kenyataan lingkungan masyarakat kita; maka sesungguhnya hal-hal seperti itulah yang terjadi
. Kita tidak mampu mengenali proses kehidupan itu secara benar. Kita sepertinya tidak punya pilihan lain, kecuali melakoni kehidupan ini tanpa melakukan evaluasi secara benar. Sepertinya kita tidak mau mengevaluasi kehidupan kita sendiri dengan jujur. Karena kita percaya hal seperti itu tohk tidak akan menyelesaikan masalah, dan juga tidak punya makna. Atau kita sendiri tidak mau melakukan evaluasi karena dengan evaluasi akan menggelitik ke bodohan cara berpikir kita sendiri atau minimal hal seperti itu akan menuntut kita untuk mau hidup secara sungguh-sungguh. Lho apakah kita selama ini tidak hidup secara sungguh-sungguh ? Hemat penulis, tidak banyak dari kita yang benar- benar hidup secara sungguh-sungguh. Kerja keras ya, tapi kerja dengan cerdas, rasanya belum tentu. Pada awalnya kita berjuang dan mencoba mengasah kemampuan profesional kita lewat dunia kampus. Tetapi seperti alam, kampuspun tidak mempunyai resep yang pas bagi setiap orang. Kampus memang melahirkan para profesional muda, tapi itu barulah awal yang baik. Tapi bekal itu tidak menjamin untuk mampu mendefinisikan hidup kita secara sungguh-sungguh, seperti apa yang kita inginkan. Padahal, tidak adanya defenisi yang spesifik dan dan sesuai dengan karakter kita. Sebenarnya kita juga tidak lebih dari seorang “ zombie”, mahluk yang hanya bisa melangkah ke depan dengan tujuan yang tidak begitu jelas. Apa yang ada ya ambil saja. Rasanya begitulah kehidupan yang telah dilakoni itu. Kalau kita melihat gerak dan perjuangan para profesional muda dari Kampus itu, ya tidak jauh bedanya dengan pola itu. Ya, yang ada sebenarnya adalah gerakan massa zombie, bangun, berdiri, bergerak, lelah dan kembali tidur; begitu seterusnya sampai kemudian mereka mati dengan kematian yang sebenarnya.
This day in history...
Powered By WPHistory


















