Negara Para Pejuang,Kemerdekaan Yang Menyengsarakan
Oleh Harmen Batubara *)
Tanah air tercinta, Indonesia yang kita kenal saat ini adalah representasi sebuah negara dari dunia ketiga yang salah urus, negara yang dikorupsi oleh para abdi negaranya sendiri, dan juga negeri yang sepertinya, sudah tidak dicintai dan dipedulikan oleh warganya. Negara yang malang ini sudah dijarah oleh siapa saja dan telah berjalan sejak zaman VOC menguasai negeri ini; hutannya dicuri oleh petugas yang menjadi penjaganya, mereka bekerjasama antara oknum aparat kehutanan, polisi dan pengusaha; di segi lain dengan cara berjamaah dan ramai-ramai para petinggi negera, para menteri, para gubernur, dan para bupati melakukan korupsi dengan cara-cara yang amat vulgar dan menyakitkan hati. Terahir kita melihat adanya upaya yang memadai, untuk menghentikan perbuatan-perbuatan kotor dan amat sangat “biadab” itu, yakni dengan menghukum seorang menteri selama tujuh tahun penjara dan menahan seorang Bupati, yang dengan seenaknya menilep dana APBN sampai milyaran rupiah hanya untuk bayar hutang pribadi, bangun vila dan beli mobil mewah. Disamping itu sudah ada beberapa Gubernur dan Bupati yang masuk bui. Disaat kita merayakan hari Kemerdekaan kali ini, tidak ada salahnya melihat kembali Indonesia yang kita cintai, Indonesia yang tidak pernah secara tulus kita bangun, padahal kita sangat yakin dan percaya bahwa di negeri inilah kelak kita juga akan menutup mata.
Indonesia yang jelita, adalah zamrud khatulistiwa, sebuah negara benua maritim, hamparan lautannya yang luas, terdiri dari 17.504 pulau-pulau dengan panjang pantai lebih dari 81 ribu km serta berada diantara dua samudra Hindia dan Pasifik serta diantara dua benua Australia dan Asia. Lokasi yang strategis ini; kalau saja bisa memanfaatkannya, sebenarnya sama kalau kita umpamakan, bagai sebuah resort tempat persinggahan bagi para pelaku bisnis dua benua, dua samudra. Sesungguhnya, dengan membangun infrastruktur yang bagus, sediakan berbagai fasilitas prosuksi, perdagangan dan layanan kelas dunia serta bebaskan pajak-pajak yang memberatkan, maka percayalah semua orang akan datang dan memberikan semangat kerjasama. Indonesia mestinya, bisa dan mampu menjadikan wilayah zamrud khatulistiwa ini menjadi sesuah ”resort” yang menarik untuk didatangai, karena negara kita kaya, baik dalam budaya, bentang alam dan sumber daya hayatinya. Sayangnya pemikiran ke arah itupun kita belum punya, apalagi ”cetak birunya”. Kawasan perlintasan perdagangan Dunia yang begitu strategis, sampai saat ini baru bisa dimanfaatkan oleh negara Singapura dan sebentar lagi Malaysia, dua negara tetangga yang mampu menyuguhkan layanan, sarana dan prasarana kelas dunia dengan citarasa dan keramah tamahan dari timur.
Desain Yang Berubah
Satu hal yang bisa membesarkan dan menghibur hati adalah kalau kita menggali cerita tentang efik dan episode perjuangan di zaman baheula, zaman ketika merebut kemerdekaan. Rasanya tidak pernah ada kata selesai bila bercerita tentang semangat anak bangsa dalam merebut kemerdekaan; semua serba heroik, penuh semangat kejuangan, tak pernah ada keinginan untuk memperkarakan para penghianat, malah tidak jarang mereka sudah diampuni dan tidak pernah terpikirkan untuk balas dendam. Hanya itulah satusatunya, cerita yang patut untuk di tuturkan, dan sekaligus ironisnya. Bayangkan sebuah negara yang dengan susah payah untuk direbut, tetapi di sisi lain justeru negara yang tidak bisa dijaga, tak mampu diamankan oleh para pejuangnya sendiri. Bayangkan, betapa malangnya negeri para pahlawan ini, dijadikan ”bancaan”, jadi sapi perahan dan dikorupsi oleh para pejabatnya sendiri. Negeri yang malang ini, kini menjadi salah satu negara tergolong sarah urus serta dengan hutang terbesar di dunia. Hutang yang tak bisa dibayangkan, kapan untuk melunasinya kembali, kecuali ngemplang.
Beberapa hal yang akan menjadi kendela ke depan, dapat dikemukakan sebagai berikut; pertama, masalah separatisme. Para pejuang saparatisme, apakah itu, dengan simbol Benang Raja RMS atau Bintang Kejora OPM, satu hal yang mereka pikirkan adalah sulitnya mensejahterakan masyarakatnya bila harus melalui mekanisme pemerintahan yang ada. Mereka tidak percaya pada ketulusan dan kemampuan pemerintah pusat untuk memberdayakan daerah dan rakyatnya. Terlebih lagi kalau pemerintah pusat hanya mengandalkan musuh mereka ( pejabat setempat ) yang justeru selama ini mereka perangi. Tetapi sangat mereka sayangkan, pemerintah pusat justeru melihat mereka tak lebih sebagai pejuang yang gila “jabatan”. Sisi inilah yang jadi perjuangan para pejuang separatisme sampai kini. Apa yang terjadi di Aceh, adalah sebuah pembelajaran yang sangat berharga, dan perlu dilihat secara kritis di setiap era nya zaman. Kalau GAM mau menerima Otonomi khusus dengan imbalan pemerintah pusat mau memberikan kepada mereka pemerintahan, demokrasi dan partai lokal kenapa hal seperti itu tidak dikomunikasikan secara politis dengan pejuang separatis yang lain? Kemampuan pemerintah mengkomunikasikan ini adalah bagian dari kukuhnya NKRI.
Kedua, untuk menjadikan sebuah NKRI yang kuat, diperlukan pengorganisasian aparat dan birokrasi negara (PNS, Polri dan TNI) secara benar. Postur aparat dan birokrasi harus sepadan dengan satuan tugas dan pelayanan yang dikembangkan. Salah satu yang perlu dibenahi adalah keserasian antara jumlah personil, aparat dan birokrasi dengan beban tugas yang ada. Yang terjadi, justeru lebih banyak personil yang melayani daripada yang dilayani. Contoh seperti ini, bisa di lihat di TNI, dari jumlah 288.857 prajurit TNI-AD, jumlah personil pelayanannya lebih dari 70 %. Yang dipersiapkan untuk perang langsung itu ternyata kurang dari 30%. Sehingga dihadapkan dengan keterbatasan anggaran, ternyata 70% nya itu terpakai untuk pembiayaan gaji personil. Biaya untuk persiapan perangnya sendiri sangat jauh dari memadai. Pemerintah harus dapat mendesain jumlah pegawai, pejabat dan birokratnya secara proporsional serta digaji dengan upah dan jaminan yang layak. Dengan demikian, siapapun pemerintahnya, termasuk pemerintah pemenang pemilu tidak bisa mempermainkan birokrasi yang ada. Negeri yang indah ini, sejatinya, dapat dikawal kalau yang bertugas jadi aparat dan pejabatnya secara konsisten terus diberdayakan; kepada mereka diberikan numerasi yang baik, sama seperti ketika Menteri Senior Lee Kwan Yeu memberikan yang terbaik kepada para pejabatnya.
This day in history...
Powered By WPHistory


















