Memperhatikan Generasi Muda Pedalaman di Perbatasan
Menurut hemat saya, apa yang dilakukan pemerintah ini, yang secara sungguh-sungguh mau mengambil dan memberikan kesempatan kepada generasi muda pedalaman, dari wilayah perbatasan, untuk memperoleh pendidikan yang lebih baik, adalah langkah nyata yang perlu dukungan. Tidak saja dukungan material, tetapi dukungan empati. Mari kita dukung mereka dengan menjadi wali atau saudaranya di perantauan mereka. Sebab untuk bisa lepas dari lingkaran kemiskinan di wilayah perbatasan ataupun pedalaman adalah sebuah perjuangan yang maha berat. Khususnya bagi mereka yang masih sangat belia.
Saya sering melihat mereka yang muda, ibarat mati terkapar di telan lingkaran ke bodohan di daerah mereka yang terpencil, tanpa listrik dan perangkat modern lainnya. Kalau mereka tidak bisa ke luar dari sana maka pastilah, mereka akan tetap jadi bodoh, lugu serta pasti dimanfaatkan oleh siapa saja, sesuai dengan kepentinganya masing-masing.Termasuk Teroris. Semoga program seperti ini, terus dilanjutkan, di evaluasi dan dikembangkan serta diberikan dukungan yang lebih baik. Semoga. Ada baiknya anda baca tulisan sdri Dahlia Irawati dibawah ini;
Menahan Rindu kepada Ibu…
Oleh Dahlia Irawati
”Saya rindu kepada ibu dan semua keluarga. Namun, saya tahan-tahan. Saya senang kalau bicara seperti ini dengan banyak orang. Saya tidak ingat-ingat lagi kampung. Tidak seperti Lilik dan Margaret yang nangis terus dan tidak mau makan,” ujar Noormila.
Noormila (13) adalah gadis kecil asal Kampung Bunti Engkaras, Desa Entikong, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat. Seusai jam sekolah ia masih menyempatkan diri jajan bakso bersama dua temannya di depan sekolah mereka, SMP Taruna Mandiri, di Gang Thamrin 18 Semanding Sumbersekar, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Noormila bersama 25 pelajar asal Entikong lainnya baru tiba di Malang, Rabu (5/8). Mereka datang untuk bersekolah di SMP Taruna Mandiri.
”Senang, di sini banyak makanan seperti ini. Di kampung kami tidak ada, paling-paling mi yang dijual di warung dekat rumah. Mau ke pasar jauh, naik motor bisa dua jam,” tuturnya.
Noormila bercerita, sekolah barunya itu jauh lebih menyenangkan dibandingkan dengan sekolah di kampungnya. Gedung sekolah di kampung terbuat dari papan, di sini dari
tembok dan besar. Gurunya pun banyak dan baik-baik. ”Sudah jauh-jauh ke Jawa rugi kalau tidak belajar dan hanya di dalam kamar seperti Lilik (14) dan Margaret (13). Padahal, mereka sudah saya ajak mencabut singkong di kebun Ibu Peni. Mereka sempat tersenyum, tetapi lalu balik berdiam diri lagi di kamar,” kata Noormila.
Ibu Peni adalah Kepala SMP Taruna Mandiri sekaligus induk semang anak-anak Entikong di asrama itu.
Setelah beberapa kali diajak dan diiming-imingi melihat banyak hal oleh Noormila dan teman-temannya, seminggu setelah tiba di Malang, Lilik baru mau ke luar asrama untuk melihat lingkungan sekitar.
Noormila sendiri sangat bersemangat bersekolah di SMP Taruna Mandiri. Baginya, serasa mimpi untuk terus bisa belajar hingga bangku SMP. ”Di kampung saya tidak ada SMP. SD hanya sampai kelas III. Saya pindah ke SD di Kampung Bunti Tapau (berjarak satu jam dari kampungnya) untuk melanjutkan hingga kelas VI,” ujarnya.
Anak petani itu adalah satu dari 26 siswa Entikong dan 7 anak Papua yang kini bersekolah di SMP Taruna Mandiri. Siswa-siswi asal Entikong menempati rumah sendiri yang dijadikan semacam asrama. Anak- anak Papua menginap di rumah ibu kepala sekolah tadi.
”Siswa-siswi Kalimantan dan Papua itu rata-rata anak kurang mampu. Mereka disekolahkan ke sini agar memiliki masa depan,” tutur Ishaq Maulana, Ketua Yayasan Lembaga Pengkajian dan Pendidikan Mata Pencaharian (LPPMP) Jatim, pelaksana program beasiswa.
Ide mendidik anak-anak Papua dan Entikong ini atas inisiatif LPPMP. Lembaga ini dibentuk tahun 1984 dan didanai Resimen Mahasiswa dan Alumni Resimen Mahasiswa Jatim.
Sekolah yang dibangun tahun 2001 dan ada di bawah LPPMP Jatim itu baru tahun 2008 mengasramakan siswanya. Selain pendidikan formal, sekolah ini juga mengajarkan keterampilan sejak kelas I, misalnya keterampilan membuat kerupuk waluh, telur asin, pelembut pakaian, sabun cuci, dan bakso. Pendidikan keterampilan ini diajarkan per semester selama tiga tahun.
Bekerja sama dengan Balai Latihan Kerja Wonojati Singosari, SMP Taruna Mandiri berharap siswa-siswinya bisa langsung terampil bekerja atau berusaha sendiri selepas sekolah. Dalam program pendidikan kecakapan hidup itu, siswa juga akan diberi piagam oleh balai latihan kerja.
Sementara ini mereka menjalani masa pembelajaran untuk menjembatani kurikulum SD ke SMP. Siswa masuk pukul 06.30 dan kembali ke asrama pukul 12.50. Sebagian dari mereka masih menjalani les, up-grading bagi anak-anak yang benar-benar lambat kemajuan belajarnya.
Untuk mengisi waktu, sementara ini anak-anak Entikong dan Papua lebih banyak berkumpul dengan tetangga dan teman barunya di Desa Sumbersekar tersebut. Sesekali mereka jalan-jalan ke warung atau pusat perbelanjaan terdekat. ”Pasar di sini beda dengan di Nabire. Di sana pasarnya di bawah, kalau di sini pasarnya ke atas,” celetuk Wiwin, siswi asal Nabire, Papua.
Rasa bosan dan rindu kampung halaman tidak bisa dihindari, seperti Margaret dan Lilik yang lebih banyak menghabiskan waktunya untuk menangis seharian tanpa makan. ”Di sini tidak banyak yang bisa dilakukan. Kata temen-temen, ibu (induk semang) terlalu alim,” ujar Yanti, siswi asal Entikong, menirukan teman-temannya. Menurut Yanti, yang diinginkan temannya adalah hiburan musik sehingga mereka bisa berjoget lepas seperti saat di kampung.
Ishaq, konsultan Direktorat Pendidikan Sekolah Menengah Departemen Pendidikan Nasional itu, bercerita, dalam perjalanannya ke sejumlah daerah, ia kerap mendapat keluhan dari tokoh-tokoh setempat tentang masa depan anak-anak daerah terpencil seperti Kalbar dan Papua. Dalam usia rata-rata 12-14 tahun, ternyata sebagian anak dari Entikong belum bisa memaknai kalimat. Anak-anak Papua belum lancar membaca, menulis, dan menghitung.
Berbekal keprihatinan tersebut, seorang tokoh yang peduli pendidikan di Cabang Dinas Pendidikan Kecamatan Entikong bernama Sofyan secara pribadi nekat mengirim anak- anak Entikong belajar ke Malang. Ini karena Sofyan mendengar bahwa Ishaq juga sudah menampung anak-anak Papua untuk belajar di Malang.
Disebut nekat karena pengiriman tersebut tanpa sepengetahuan kepala daerah, artinya otomatis tanpa dukungan biaya pemda setempat. Anak-anak itu hanya berbekal sedikit uang saku dan mi instan, serta tekad maju mengubah nasib.
Anak-anak Entikong itu lalu menempuh perjalanan 31 jam atau dua hari satu malam perjalanan laut dan darat sebelum sampai ke Semarang. Dari Semarang, mereka dijemput menggunakan bus sewaan oleh pihak sekolah.
Di Malang, mereka bertemu dengan tujuh anak Papua. Mereka datang sebulan lebih awal. Anak-anak Papua itu kemudian banyak membantu anak-anak Entikong beradaptasi dengan lingkungan barunya.
Sebanyak 50 siswa asal Sebatik, Kalimantan Timur, sebentar lagi juga akan bergabung di SMP Taruna Mandiri. Ditambah anak-anak desa sekitar sekolah, murid di sekolah ini akan berjumlah 126 siswa dengan guru 14 orang.
Tugas bocah-bocah ini tidak mudah. Mereka pun butuh bimbingan, dukungan doa, dan pembiayaan.Kompas, Kamis, 27 Agustus 2009
This day in history...
Powered By WPHistory




















2 Responses to “Memperhatikan Generasi Muda Pedalaman di Perbatasan”
harmen on August 27, 2009
Para pengunjung yang baik hati, terima kasih telah membaca apa yang ada dalam tulisan-tulisan pada postingan-postingan yang ada pada situs ini. Yang saya harap adalah kalau anda sudi membayangkan, betapa susahnya hidup seorang anak bangsa di wilayah perbatasan atau pedalaman yang terpencil. Kalau zaman dahulu, pada zaman saya, masih bisa berharap dapat kuliah di Universitas ternama di negeri ini, tanpa duit pembayar sumbangan, tetapi kini itu seakan mustahil. PT itu sudah badan usaha, profit, tapi untunglah ada program pemerintah seperti dalam postingan ini. Sehingga bisa memberikan jalan keluar yang lebih baik. Kalau anda simpati. Berikan dukungan anda. Tuliskan lewat komentar di sini. Terimakasih.
dadang on September 13, 2011
Saya pernah ke pedalaman kalimantan, semua sarana publik (pendidikan, kesehatan, tranposrtasi, penerangan) sangat memprihatinkan, tapi dari pusat menurut yg saya tahu sdh memberikan dana pembangunan, tapi dari Pemda sendiri mengatakan bahwa dana blm ada. Timbul pertanyaan dalam benak saya kemanakah dana yg sdh disalurkan…….. Bgmana janji para Politikus yg selalu akan memperhatikan perbatasan……
Menurut saya yg paling utama adlh membangun Jalan yg memadai sehingga bisa membuka kampung-kampung yg terisolasian dari kemajuan dan perkembangan………..