Kemerdekaan Yang Menyengsarakan (2)
Cetak Biru Indonesia
Indonesia sebenarnya, mempunyai cetak biru tentang Indonesia nan jaya. Ada UUD nya, ada RUTRnya, ada cetak biru tentang pola pengembangannya, yang menjelaskan dimana pusat-pusat pertumbuhan, bagaimana prioritas infrastruktur dan sarana serta prasarananya dibangun. Seperti apa sistem perekonomiannya dikembangkan, bagaimana partai-partai dikelola, seperti apa pertahanan akan dibangun dan bagaimana Politik bebas aktif dimainkan. Semua itu sebenarnya sudah ada cetak birunya, tapi memang disana-sini masih banyak yang belum jadi, termasuk persoalan mitigasi bencana alamnya. Sehingga begitu terjadi bencana nasional “politik maupun bencana alam” sungguhan, maka yang terjadi adalah kelumpuhan dimana-mana. Bahkan terkesan pemerintah sendiri tak bisa menempatkan prioritas sesuai dengan aturan yang ada.
Sehingga muncullah tragedi bencana Lumpur Sidoarjo, kita tak bisa memahami langkah yang diambil oleh Pemerintah, baik di tingkat daerah maupun pusat. Yang kita lihat adalah, rakyat yang sengsara dan tak ada gambaran penyelesaiannya. Yang terlihat hanyalah jajaran PT Lavindo Brantas Inc, yang terseok-seok menangisi nasib dan mendapat simpati ala kadarnya dari warga, sementara yang lainnya diam dan abstain untuk tak berbuat apa-apa. Padahal bencana (bukan nasional) itu sendiri dalam hitungan uang, angka-angkanya sendiri masih berada di bawah 10 triliun rupiah dan kalau pemda dan pemerintah pusat pada saat awal kejadian bersedia menyediakan dana sebesar 5 triliun saja dan ditambah 3.8 triliun oleh Lavindo, masyarakat jauh-jauh hari sudah terobati dan dapat ganti untung dengan perhitungan yang wajar. Padahal setoran pemda, ke pusat dipercaya melebihi angka 70 an triliun.
Sayangnya, negara yang indah serta sering dijuluki sebagai negara para pejuang ini ternyata dalam perjalanan hidupnya justeru salah urus. Para pejuang itu, bahkan tak sempat untuk membuat nasib mereka lebih terhormat; nasib mereka saat ini hanya bisa mereka hargai sebatas antara 500-750 ribu perbulan dalam bentuk sebagai tunjangan veteran. Padahal masih banyak pula para pejuang itu yang sama sekali tak pernah menerima apa-apa dari negara yang mati-matian mereka bela. Sayangnya lagi, negeri yang mereka perjuangkan itu justeru digadaikan oleh generasi muda dari anak-anak mereka sendiri, generasi yang tak sempat mereka perhatikan pendidikannya (mereka terlalu sibuk berjuang), terutama pendidikan untuk menjadi seorang warga negara yang baik. Negeri ini telah tergadai, hutangnya ada dimana-mana. Ibarat sebuah rumah tangga, sang bapak sudah malu ke luar dari rumah, semua tetangga sudah pernah bantu dan memberikan pinjaman dan bantuan ala kadarnya, sementara sawah dan kebun tak terurus, warung mereka tak pernah lagi dibuka, barangnya habis tak keruan sementara anak-anak terbelit narkoba. Tapi satuhal kita masih patut bersyukur, kita diberi Pimpinan negara baik presiden maupun wakil presiden, yang dari track record nya adalah para pemimpin tiada cela. Semoga ke depan negeri ini masih akan jaya. Dirgahayu Indonesia.
This day in history...
Powered By WPHistory



















One Response to “Kemerdekaan Yang Menyengsarakan (2)”
harmen on August 10, 2009
Untuk Semua kawan,teman,sahabat dan para saderek sekalian, mulai dari sekarang anda bisa tulis komentar ada disini. Biar ada masukan untuk melihat trennya ke depan. Terimakasih.