Aat, Pembasmi Virus Komputer Lokal
Awalnya, Atthur Shadewa tertarik dengan banyak berita dan cerita tentang virus komputer. Mulai dari berita tentang situs milik Gedung Putih, Amerika Serikat, yang bisa diobrak-abrik seseorang berkebangsaan China, hingga serangan virus brontok, yang beberapa tahun silam membuat ketar-ketir para pengguna komputer di Tanah Air. Rasa penasaran dan ketertarikan untuk mendalami virus itu membuat Aat, panggilannya, lantas berkecimpung serius dalam dunia pemrograman komputer. Hasilnya? Dia dikenal sebagai pembuat Wedash Antivirus (WAV).
Dia juga adalah pendiri Virologi, sebuah komunitas di Yogyakarta yang terbentuk sejak tahun 2006 dan berkutat seputar pencegahan virus. Kini, WAV setidaknya telah digunakan 5.000 orang di Indonesia. Kiprahnya itu membuat Aat berhasil menjadi salah satu dari lima peraih Enterpreneur Award, penghargaan dari Bisnis Indonesia dan Bank Commonwealth pada Agustus 2009. Dia telah menyisihkan 700-an orang. Selain itu, akhir Januari lalu, Aat termasuk dalam enam nomine untuk kompetisi Wirausaha Muda Mandiri yang diadakan Bank Mandiri. Untuk kompetisi ini, setidaknya 300 pesaing telah dia sisihkan.
Mengapa dia tertarik menggeluti soal pencegahan virus atau antivirus? ”Virus komputer itu bisa menyerang program, data, foto, musik, dan apa saja. Dampaknya luar biasa. File yang tersimpan bisa hilang, susah dibuka, atau rusak. Semua kerusakan itu pun bisa bersifat sementara, tetapi tak jarang juga yang jadi permanen,” kata Aat menggambarkan betapa ganasnya virus komputer dan kerugian yang bisa diderita seseorang karena virus tersebut. Kerusakan luar biasa yang disebabkan virus komputer itu menarik perhatiannya. Rasa penasaran membuat Aat rajin mencari berbagai informasi tentang virus-virus komputer di internet. Dia juga sering kali bertanya ke sejumlah pihak yang bisa menjelaskan lebih jauh tentang ulah virus-virus tersebut. Semua informasi itu kemudian mengerucut pada satu kesimpulan; virus itu sebenarnya adalah berkas (file). Sama seperti berkas-berkas apa pun, virus juga berkas yang meninggalkan ”sidik jari” atau semacam penanda berkas.
Dalam bahasa di dunia perkomputeran, sidik jari itu disebut dengan kode CRC32. ”Saya mengumpulkan virus-virus lokal ataupun dari luar negeri yang pernah menyerang komputer. Saya juga mendapat bantuan dari teman-teman. Sidik jari ribuan berkas itu kemudian saya masukkan ke dalam basis data antivirus agar bisa dikenali, tentu saja sebagai virus,” katanya. Lebih ampuh Jika WAV diaktifkan, virus yang sudah terdata tak bakal lolos. Aat mengklaim WAV lebih ampuh mendeteksi virus lokal ketimbang antivirus impor. Ini bisa terjadi karena pemutakhiran virus lokal di Asia lebih cepat dilakukan dengan antivirus lokal. Di Indonesia, virus-virus lokal juga yang lebih sering menyusup ke komputer dan merusak berkas. ”Dulu, saya pernah membuat virus. Namun, ternyata saya, kok, lebih asyik dan tertantang dengan antivirus. Membuat virus itu sebenarnya mudah saja. Ini semudah membuat onar. Lebih sulit untuk membuat antivirus. Ini sesulit menciptakan perdamaian,” ujar Aat. WAV, yang dirilis pada akhir 2005 dan bisa diunduh gratis berikut pemutakhirannya lewat internet tersebut, tidak hanya mempunyai 5.000 lebih masyarakat pengguna komputer.
Namun, ada 10 instansi dan kantor yang juga memakai tenaganya untuk mengamankan data di komputer mereka. Hal ini merupakan ”bukti” bahwa WAV bisa diandalkan. Meskipun telah berhasil membuat program WAV, lelaki asal Bontang, Kalimantan Timur, yang lahir di Temanggung, 16 September 1980, ini tidak hanya ”berhenti” duduk di depan layar komputernya. Selain itu, dia juga menulis sejumlah buku. Selama ini, tujuh buku sudah ditulisnya, yaitu Seni Hacking Menggunakan Trojan, 4 Hari Menjadi Hacker, Seni Pemrograman Virus Menggunakan Visual Basic 6.0, Rahasia Membuat Antivirus Menggunakan Visual Basic, Tips dan Trik Libas Virus Lokal, Hacking Internet Banking, serta Dan Monalisa pun Tertawa. Aat bercerita, dia sengaja mengemas bukunya dengan pilihan kata-kata yang tidak kaku agar mudah dimengerti oleh pembaca dengan berbagai latar belakang. Dia berharap ini bisa menjadi terobosan di tengah banyak buku tentang pemrograman komputer yang bahasanya kadang terlalu teknis sehingga sulit dipahami pembaca awam. Cetak ulang
Di samping itu, dia juga memilih mencetak secara mandiri semua buku karyanya. Setiap judul buku itu dicetak pertama kali sebanyak 2.000 eksemplar. Buku-buku karyanya juga dia tawarkan sendiri kepada sejumlah toko buku. ”Saya senang karena ternyata mendapat sambutan cukup bagus (laris),” kata Aat yang menyebut buku-buku karyanya telah mengalami cetak ulang berkali-kali. Dari tujuh judul buku karyanya, yang paling laris adalah 4 Hari Menjadi Hacker, yang telah dicetak ulang sampai 14 kali. Selain itu, buku Seni Pemrograman Virus Menggunakan Visual Basic 6.0. juga sudah dicetak ulang sampai 11 kali. ”Ada perasaan senang ketika saya bisa melakukan sesuatu, seperti menuliskan apa yang saya tahu dalam sebuah buku. Saya berusaha menjelaskan ’bahasa komputer’ itu seperti bercerita. Ketika banyak orang mau membeli buku itu, saya senang. Ini berarti, apa yang ingin saya sampaikan bisa dimengerti dan menarik bagi pembaca,” ujarnya. Meskipun mengaku tak mudah, Aat tak menyesal mengedarkan sendiri buku-buku karyanya ke berbagai toko buku. ”Ada kepuasan sendiri karena saya bisa (membuktikan) buku yang saya tulis itu memang layak untuk dijual. Meskipun buku saya memang tidak hebat-hebat amat…,” kata Aat.
Padahal, sebelum belajar teknik informatika, Aat sempat belajar di Politeknik Manufaktur Institut Teknologi Bandung-Swiss, jurusan Mesin Produksi di Bandung. Namun, ia hanya bertahan setahun, 1999-2000. Alasannya, dia tak bisa mencintai bidang mesin dan merasa pengetahuannya tidak berkembang. Dengan omzet sekitar Rp 45 juta per bulan, untuk menjalankan WAV, Aat dibantu dua temannya. Selain dari hasil menjual jasa kepada sejumlah perusahaan, penghasilan tersebut dia dapatkan dari penjualan buku-buku karyanya.
Aat pun semakin mantap untuk terjun total ke bisnis pemrograman komputer dan informasi teknologi, terutama terkait virus. ”Saya ingin buktikan bahwa anak bangsa ini bisa membuat antivirus andal,” ujarnya. Mau menjajal keampuhan WAV? Anda tinggal berselancar ke internet dan mengunduhnya. Gratis! (Sumber: Kompas/ 16/2/ 2010)
This day in history...
Powered By WPHistory




















One Response to “Aat, Pembasmi Virus Komputer Lokal”
rohmat h on October 15, 2010
keren..keren….
siiip beut…
akpind smart campus.